Alergi pada Bayi, Pahami Berbagai Jenisnya dan Pengobatannya


Alergi pada bayi disebabkan oleh kulit yang sensitif dan sistem kekebalan tubuh yang masih lemah. Cara mengobatinya adalah dengan memberikan krim hidrokortison, inhaler, hingga suntik hormon adrenalin

0,0
12 Sep 2019|Dina Rahmawati
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Alergi pada bayi disebabkan oleh kulit yang sensitif dan sistem kekebalan tubuh yang masih lemahMunculnya ruam kemerahan di wajah merupakan salah satu bentuk reaksi alergi pada bayi
Alergi pada bayi kerap terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang masih lemah. Sebab, tubuh bayi pun memerlukan proses penyesuaian untuk mengenali apa yang akan dikonsumsi dan hal-hal di sekitar lingkungannya.Selain itu, kulit bayi masih sensitif sehingga rentan terkena alergi. Saat penyakit pada bayi ini muncul, Si Kecil pun mengalami alergi kulit pada bayi. Akibatnya, kulit yang lembut dan mulus bayi berubah menjadi ruam kemerahan, gatal, melepuh, hingga mengelupas.Bukan hanya itu, bayi juga menjadi lebih rewel dan sering menangis. Oleh sebab itu, kenali jenis-jenis alergi pada anak ini agar Anda bisa mengambil langkah penanganan yang tepat.

Beberapa jenis alergi pada bayi

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bayi bereaksi secara abnormal terhadap pemicu alergi. Riset yang terbit pada jurnal Clinical and Experimental Allergy menemukan, penyebab alergi pada anak juga terjadi akibat adanya faktor genetik.Dalam hal ini, penelitian ini memaparkan, jika seseorang yang memiliki hubungan darah dengan orang yang sensitif terhadap pencetus alergi tertentu, maka risiko alergi orang tersebut akan muncul.Hal-hal yang dapat memicu alergi umumnya merupakan hal yang biasa dan tidak berbahaya. Beberapa jenis alergi yang umumnya terjadi, antara lain:

1. Alergi makanan

Susu formula bisa sebabkan alergi pada bayi
Bayi dapat mengalami alergi terhadap makanan apapun. Reaksi alergi bahkan bisa muncul pada lebih dari satu jenis makanan. ASI atau susu formula bisa menimbulkan alergi pada sebagian bayi. Selain itu, makanan seperti kacang-kacangan, telur, ikan, kerang, kedelai, dan gandum juga dapat memicu alergi.Menurut riset yang terbit pada jurnal International Journal of Environmental Research and Public Health, penyebab alergi pada bayi dalam bentuk makanan atau minuman memengaruhi hingga 10% bayi di berbagai negara. Bahkan, dalam beberapa dekade terakhir, jumlah penderita alergi makanan pun meningkat.Gejala alergi makanan yang biasanya muncul pada bayi, yakni batuk, sakit perut, diare, gatal-gatal, muntah, hidung meler, sulit bernapas, pembengkakan bibir atau lidah, hingga sesak napas atau mengi.

2. Alergi dalam ruangan

Mungkin Anda merasa rumah adalah tempat yang steril. Namun, bayi juga bisa mengalami alergi dalam ruangan. Bulu boneka, jamur, binatang kecil (tungau atau serangga), serta hewan-hewan mikroskopis yang menempel di bantal, karpet, atau kasur di dalam ruangan bisa memicu terjadinya alergi.Bukan hanya itu, asap rokok dan parfum yang memenuhi ruangan pun mampu membuat bayi terkena alergi. Bayi bisa mengalami gejala alergi, seperti pilek, hidung tersumbat, bersin, ruam, dan gatal-gatal.

3. Alergi hewan peliharaan

Bulu, liur, dan urin binatang sebabkan alergi pada bayi
Bayi dapat mengalami alergi hewan peliharaan karena bulu, air liur, atau urinnya. Bulu hewan peliharaan bisa menempel di tempat tidur bayi sehingga memicu alergi.Bukan hanya itu, air liur atau urine hewan peliharaan yang mengering dapat berubah menjadi partikel-partikel yang menyebar melalui udara. Hal tersebut juga bisa menyebabkan alergi.Kucing dan anjing seringkali menjadi penyebab dari alergi hewan peliharaan pada bayi. Gejala alergi yang mungkin terjadi, yaitu bersin dan hidung berair.

4. Alergi musiman

Pada musim tertentu, bayi dapat lebih rentan terkena alergi. Kondisi ini disebut dengan rinitis alergi. Gejala yang dapat muncul, yaitu bersin, mata berair, batuk, hidung beringus, dan sakit telinga.Jika dalam setahun pada waktu tertentu bayi Anda mengalami gejala tersebut, maka ada kemungkinan ia mengalami alergi musiman.

5. Alergi obat-obatan

Konsumsi obat sebabkan ruam merupakan alergi pada bayi
Ketika bayi sakit, Anda mungkin memberi antibiotik agar mereka bisa cepat sembuh. Namun, antibiotik ternyata merupakan obat yang paling sering menyebabkan alergi. Selain antibiotik, masih terdapat pula obat lain yang dijual bebas bisa memicu terjadinya alergi.Jika setelah mengonsumsi obat tertentu bayi menunjukkan reaksi alergi, seperti batuk, ruam, gatal atau bahkan pembengkakan, maka bayi berpotensi mengalami alergi obat.

6. Alergi bahan kimia

Alergi deterjen, sabun, ataupun popok yang digunakan untuk keperluan bayi disebabkan oleh adanya bahan kimia yang terkandung dalam produk tersebut. Hal ini berarti bayi mengalami alergi bahan kimia.Oleh sebab itu, Anda sangat dianjurkan memilih produk yang aman untuk bayi karena kulit mereka yang masih sensitif.

7. Alergi air liur

Alergi pada bayi akibat ngeces picu leher dan dada bayi ruam
Tentu, alergi pada bayi ini disebabkan akibat kulit bayi yang basah akibat bayi sering mengeluarkan liur (ngeces). Ruam ini biasanya terjadi di sekitar mulut, pipi, lipatan leher, dan dada bayi.Ciri-ciri alergi pada bayi yang diakibatkan air liur adalah adanya ruam kemerahan dan benjolan. Selain itu, muncul pula bercak datar dan kulit yang terlihat pecah-pecah.

Cara mengobati alergi pada bayi

Krim kortikosteroid obati alergi pada bayi
Jika bayi Anda mengalami alergi, sebaiknya konsultasikan pada dokter agar segera mendapatkan penanganan yang tepat. Mengobati alergi i umumnya tergantung pada jenis alergi yang dialaminya. Beberapa cara mengatasi alergi pada bayi, di antaranya:
  • Menghilangkan paparan alergi. Anda perlu mengetahui hal yang menyebabkan bayi mengalami alergi. Jika sudah mengetahuinya, misalnya karena bulu kucing, maka Anda harus menjauhkan kucing dari bayi.

  • Memberi antihistamin. Dokter mungkin akan meresepkan obat alergi untuk bayi ini agar meringankan reaksi alergi. Namun, sebagian besar antihistamin tidak direkomendasikan sebagai obat alergi untuk bayi berusia di bawah 2 tahun.

  • Mengoleskan krim hidrokortison. Krim ini biasanya diberikan dokter sebagai obat alergi untuk bayi. Cara kerja obat ini adalah mengurangi reaksi alergi pada kulit bayi. Namun, konsultasikan pada dokter dan selalu baca petunjuk kemasan sebelum penggunaan.

  • Memberi inhaler. Dokter mungkin akan menyarankan obat alergi untuk bayi ini jika bayi mengalami kesulitan bernapas akibat alergi.

  • Menyuntikkan hormon adrenalin. Ketika bayi mengalami reaksi alergi yang parah (anafilaksis), maka dokter memilih hormon adrenalin sebagai obat alergi untuk bayi. Sediaan obat ini adalah suntikan yang mudah diberikan melalui kulit bayi. Obat ini dapat mengendalikan gejala anafilaksis.

Catatan dari SehatQ

Alergi pada bayi terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna. Dalam hal ini, tubuh bayi masih beradaptasi dengan asupan yang dikonsumsi serta lingkungan di sekitarnya.Penyebab alergi pada anak umumnya terjadi akibat faktor genetik. Sementara, jenis-jenis alergi pada bayi dibedakan berdasarkan pencetusnya.Jika alergi pada anak tidak segera mendapat penanganan yang tepat, maka risiko yang parah seperti masalah pernapasan atau terbentuknya jaringan parut di kulit bisa terjadi.Jika buah hati menunjukkan ciri-ciri alergi pada bayi, segera konsultasikan lebih lanjut dengan dokter anak melalui chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.Apabila Anda ingin melengkapi keperluan perawatan bayi, kunjungi untuk mendapatkan penawaran dengan harga menarik.Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
alergialergi susualergi lingkunganalergi obat
WebMD. https://www.webmd.com/allergies/allergies-babies-toddlers#1
Diakses pada 12 September 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/parenting/baby-allergies
Diakses pada 12 September 2019
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/allergy.html
Diakses pada 12 September 2019
Clinical and Experimental Allergy. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4298800/
Diakses pada 22 Oktober 2020
International Journal of Environmental Research and Public Health. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6163515/#B1-ijerph-15-02043
Diakses pada 22 Oktober 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/parenting/drool-rash
Diakses pada 22 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait