Jenis Kekerasan pada Anak dan Dampaknya yang Tidak Boleh Diabaikan


Kekerasan pada anak secara fisik, emosional, seksual, atau penelantaran bisa berdampak buruk untuk mentalnya bahkan berujung pada kematian. Jangan sampai anak mengalami penderitaan yang bisa merusak hidupnya.

0,0
09 Oct 2019|Dina Rahmawati
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Kekerasan pada anak yang menyebabkan depresiKekerasan fisik merupakan bentuk kekerasan pada anak yang sering terjadi
Di media massa atau di sekeliling kita, kekerasan pada anak kerap kali terjadi. Pelakunya beragam, mulai dari oleh orangtua sendiri, kerabat, hingga pihak-pihak tidak bertanggungjawab lainnya.Sebagian korban kekerasan terhadap anak bahkan sampai kehilangan nyawanya. Di Indonesia, beberapa kasus kekerasan pada anak sempat mendapat perhatian khusus, seperti kasus Arie Hanggara dan Angeline.Tahukah Anda bahwa kekerasan terhadap anak tidak hanya sebatas kekerasan fisik saja, namun ada beragam jenis kekerasan pada anak yang mungkin tidak pernah Anda sadari sebelumnya.

Apa yang dimaksud kekerasan terhadap anak?

Kekerasan pada anak adalah setiap perbuatan yang dilakukan pada anak hingga menyebabkan anak sengsara atau menderita secara fisik, psikis, seksual, dan/atau terlantar.Kekerasan terhadap anak tidak hanya terjadi di keluarga yang miskin atau lingkungan yang buruk. Fenomena ini dapat terjadi pada semua kelompok ras, ekonomi, dan budaya. Bahkan pada keluarga yang terlihat harmonis pun bisa saja terjadi KDRT pada anak.Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan, sebagian besar pelaku kekerasan pada anak merupakan anggota keluarga atau orang lain yang dekat dengan keluarga. Oleh sebab itu, Anda harus lebih berhati-hati dalam melindungi anak. Meski tidak menutup kemungkinan bahwa orang asing juga bisa melakukannya.Selain itu, kekerasan terhadap anak juga bisa terjadi secara tidak sengaja. Dengan kata lain, tidak ada niatan awal untuk menyakiti anak atau memang memiliki masalah kejiwaan sehingga pelaku bertindak di luar kesadaran.

Bentuk kekerasan pada anak

Sebagian orang mungkin menganggap bahwa kekerasan terhadap anak hanyalah seputar kekerasan fisik. Namun, itu hanyalah salah satu bentuk kekerasan pada anak. Terdapat beberapa bentuk kekerasan pada anak yang perlu Anda ketahui, di antaranya:

1. Kekerasan fisik

Kekerasan fisik merupakan kekerasan yang terjadi ketika seseorang menyakiti tubuh anak atau membuat fisiknya dalam keadaan yang berbahaya.Anak yang mendapat kekerasan fisik dapat mengalami luka yang ringan, berat, hingga meninggal. Contoh bentuk kekerasan fisik, yaitu memukul, melempar, mencekik, menyundut rokok pada anak, dan semacamnya.Ada banyak cara lain yang lebih efektif untuk mendisiplinkan anak tanpa harus membuatnya trauma atau meninggalkan luka pada tubuhnya. Anda bisa melakukan pendekatan secara personal dengan anak untuk dapat memecahkan masalah tanpa harus melakukan kekerasan fisik.

2. Kekerasan emosional

Tak hanya fisik yang dapat tersakiti, mental anak juga bisa terganggu ketika mendapat kekerasan emosional. Kekerasan emosional merupakan kekerasan yang terjadi ketika seseorang menyakiti mental anak hingga membahayakan perkembangan emosinya.Contoh bentuk kekerasan emosional, yaitu membentak, meremehkan, menggertak, mempermalukan, mengancam, dan tidak menunjukkan kasih sayang.Apabila Anda melihat tanda-tanda berikut, bisa jadi anak Anda sedang mengalami efek dari kekerasan emosional:
  • Kehilangan kepercayaan diri
  • Terlihat depresi dan gelisah
  • Memilih untuk bolos sekolah
  • Mengalami penurunan prestasi
  • Kehilangan semangat untuk sekolah
  • Menghindari situasi tertentu
  • Sakit kepala atau sakit perut yang tiba-tiba
  • Menarik diri dari aktivitas sosial, teman-teman, atau orangtua
  • Perkembangan emosional terlambat
  • Kehilangan ketrampilan

3. Kekerasan seksual

Kekerasan seksual merupakan segala jenis aktivitas seksual dengan anak. Tidak hanya kontak fisik, kekerasan seksual juga bisa melalui verbal ataupun materi lain yang dapat melecehkan anak.Contoh kekerasan pada anak dalam konteks seksual, yakni melakukan kontak seksual dengan anak (mulai dari berciuman ataupun melakukan hubungan seks), memaksa anak mengambil foto atau video porno, melakukan call sex, menunjukkan alat vital pada anak, mempertontonkan film porno, dan lainnya.

4. Penelantaran

Penelantaran merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap anak. Ini terjadi ketika orangtua atau pengasuh tidak merawat atau melindungi anak sehingga anak menjadi terlantar.Tidak menyediakan kebutuhan dasar anak, seperti makanan, pakaian, dan kesehatan, juga merupakan bentuk penelantaran anak. Selain itu, meninggalkan anak sendirian untuk waktu yang lama, atau dalam keadaan yang berbahaya juga termasuk dalam penelantaran anak.

Dampak kekerasan pada anak

Dalam kebanyakan kasus, anak-anak yang mendapat kekerasan lebih menderita secara mental. Kekerasan pada anak tentu akan memberi efek pada diri mereka yang dapat berdampak buruk. Beberapa dampak kekerasan pada anak, yaitu:

1. Kurang memiliki kepercayaan dan sulit menjalin hubungan

Anak yang pernah menjadi korban kekerasan akan lebih sulit percaya pada orang, termasuk pada orangtuanya sendiri. Hal ini juga dapat menyebabkan anak kesulitan dalam menjalin hubungan, atau bahkan menciptakan hubungan yang tidak sehat di masa depan.

2. Memiliki perasaan tidak berharga

Anak yang mendapat kekerasan juga akan memiliki perasaan bahwa dirinya tidak berharga. Hal ini dapat membuat anak mengabaikan pendidikannya dan hidupnya menjadi rusak dengan rasa depresi, terutama pada korban kekerasan seksual.

3. Sulit mengatur emosi

Kekerasan pada anak juga dapat membuat mereka kesulitan mengatur emosinya. Anak akan kesulitan mengekspresikan emosi dengan baik hingga membuat emosinya tertahan dan keluar secara tak terduga. Bahkan saat dewasa, dapat mengalihkan depresi, kecemasan, atau kemarahannya dengan mabuk-mabukan atau mengonsumsi narkoba.

4. Merusak perkembangan otak dan sistem saraf

Dampak kekerasan pada anak dapat mengganggu perkembangan otak dan merusak sistem saraf. Akibatnya, hal ini berpengaruh terhadap kemampuan kognitif anak sehingga prestasinya dalam bidang akademik dan kejuruan rendah.

5. Melakukan tindakan negatif

Anak yang mendapat kekerasan lebih mungkin melakukan tindakan negatif, seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, putus sekolah, dan terlibat hubungan seksual berisiko tinggi. Selain itu, ia juga memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi.

6. Luka atau cedera

Kekerasan fisik pada anak dapat menyebabkan luka atau cedera. Karena terlalu emosi, orangtua mungkin tidak menyadari bahwa penyerangan fisik yang dilakukannya bisa melukai anak.

7. Risiko kematian

Dampak kekerasan pada anak lainnya yang mungkin terjadi adalah kematian. Apabila orangtua melakukan kekerasan pada anak yang masih belum bisa membela diri, bisa saja orangtua terlalu keras memukul atau menyakiti anak, hingga anak kehilangan nyawa.Tak hanya itu, meskipun anak sudah memasuki usia remaja, dampak kekerasan pada anak yang satu ini pun masih tetap masih bisa terjadi. Apalagi jika orangtua tidak dapat mengontrol amarahnya yang mungkin bisa berakibat fatal bagi anak.Jika Anda merasa bahwa anak Anda mengalami kekerasan, sebaiknya segera cari bantuan ke psikolog atau psikiater anak. Anak perlu mendapat pendampingan yang tepat sehingga kondisinya mental tidak terganggu.Namun, jika Anda merasa telah melakukan kekerasan pada anak, maka HENTIKAN perlakukan buruk Anda. Segera lakukan konseling dengan psikolog atau psikiater untuk membantu Anda menghentikan hal tersebut sehingga tidak lagi terjadi.
tips mendidik anakkekerasan
Depkes. http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/Kekerasan-terhadap-anak.pdf
Diakses pada 09 Oktober 2019
Help Guide. https://www.helpguide.org/articles/abuse/child-abuse-and-neglect.htm
Diakses pada 09 Oktober 2019
Web MD. https://www.webmd.com/children/child-abuse-signs#1
Diakses pada 09 Oktober 2019
WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/violence-against-children#:~:text=Children%20exposed%20to%20violence%20and,mental%20health%20problems%20and%20suicide.
Diakses pada 28 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait