Berbagai Bahaya Kekurangan Vitamin D dan Cara Memenuhinya


Bahaya defisiensi atau kekurangan vitamin D dapat membawa sejumlah dampak buruk bagi tubuh, seperti sering sakit hingga masalah osteoporosis jika tidak ditangani. Anda bisa mengatasinya dengan mengonsumsi suplemen seperti Sakatonik Activ D3 1000.

0,0
19 Nov 2021|Aby Rachman
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Kekurangan vitamin D pada lansia dapat menyebabkan sejumlah dampak buruk bagi tubuhLansia dinilai rentan mengalami defisiensi atau kekurangan vitamin D
Salah satu vitamin yang paling banyak digaungkan pada pandemi Covid-19 adalah vitamin D. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab vitamin D memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan berbagai proses dalam tubuh, misalnya menjaga daya tahan tubuh dan tulang supaya tetap kuat.
Vitamin D dapat dihasilkan sendiri oleh tubuh ketika kulit terpapar sinar matahari. Vitamin ini juga bisa Anda temukan pada berbagai ikan berminyak dan produk olahan susu yang difortifikasi (ditambahkan vitamin D).Meski demikian, tidak mudah untuk memenuhi kebutuhan harian vitamin D hanya dengan mengandalkan pola makan sehari-hari dan berjemur saja.

Bahaya defisiensi vitamin D yang perlu Anda waspadai

Defisiensi atau kekurangan vitamin D dapat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh. Sayangnya, banyak orang dari berbagai kalangan rentan mengalami defisiensi vitamin ini.Salah satunya adalah lansia. Defisiensi vitamin D dianggap sebagai masalah serius yang bisa mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan lansia. Masalah ini kerap dikaitkan dengan osteoporosis dan berbagai penyakit kronis lainnya yang disebabkan proses penuaan.Di samping itu, kemampuan tubuh dalam memproduksi vitamin D dari sinar matahari juga berkurang seiring bertambahnya usia.Dilansir dari sebuah penelitian dalam Journal of Aging and Gerontology, lansia mengalami penurunan konsentrasi 7-dehydrocholesterol, yaitu bahan kimia yang dibutuhkan untuk membentuk vitamin D3 di dalam epidermis (lapisan kulit terluar), dan pengurangan respons terhadap sinar UV.Sebagai konsekuensinya, pembentukan previtamin D3 di dalam tubuh mengalami penurunan yang signifikan (sekitar 50 persen).Kasus di atas hanya sebagian contoh dari masalah defisiensi vitamin D yang dihadapi banyak orang. Jika dilihat secara faktual, masalahnya bahkan lebih parah. Berdasarkan data SEANUTS tahun 2011-2012 yang dilansir dari Liputan 6, sekitar 38,76 persen anak Indonesia berusia 2-12 mengalami kekurangan vitamin D.Persentase ini bahkan lebih tinggi pada orang dewasa; tepatnya 61,25 persen ibu hamil, 63 persen perempuan dewasa berusia 18-40 tahun, dan 78,2 persen lansia mengalami defisiensi vitamin D.Defisiensi vitamin D juga bisa menimbulkan sejumlah gejala yang bisa Anda identifikasi. Berikut adalah sejumlah gejala yang bisa terjadi pada orang-orang yang mengalami kekurangan vitamin D.
  • Sering sakit atau mengalami infeksi
  • Nyeri tulang dan punggung belakang
  • Kelelahan
  • Lemah, nyeri, dan kram otot
  • Masalah mental, seperti depresi dan kecemasan
  • Terganggunya proses penyembuhan luka
  • Rambut rontok
  • Berat badan naik.
Jika masalah ini terus berlanjut tanpa adanya upaya untuk menanganinya, maka penderita defisiensi vitamin D berisiko lebih tinggi mengalami sejumlah penyakit berbahaya berikut ini:

1. Osteoporosis

Kebutuhan vitamin D yang tidak terpenuhi dapat menyebabkan hilangnya kepadatan tulang, yang pada akhirnya bisa berakhir dengan osteoporosis dan patah tulang.Pada kasus osteoporosis, tulang menjadi tipis dan rapuh. Gejala utama penyakit ini dapat berupa tulang yang mudah patah hanya karena benturan atau trauma kecil. Kondisi ini sering terjadi pada lansia.

2. Osteomalasia

Osteomalasia menyebabkan tulang yang menjadi lunak sehingga memicu sejumlah masalah lainnya, seperti kelainan bentuk tulang, perawakan pendek, tulang rapuh, nyeri ketika berjalan, hingga masalah gigi. Penyakit ini juga bisa terjadi pada anak-anak.Di samping kedua penyakit di atas, para ahli juga tengah mempelajari hubungan vitamin D dengan beberapa kondisi medis lainnya yang berbahaya, seperti hipertensi atau tekanan darah tinggi, diabetes, kanker, hingga penyakit autoimun seperti multiple sclerosis.

Cara memenuhi kebutuhan vitamin D sehari-hari

Setiap orang memiliki kebutuhan vitamin D yang berbeda-beda. Kebutuhan ini dapat dipengaruhi sejumlah faktor, seperti usia, paparan terhadap sinar UVB, kondisi kesehatan, hingga pola makan.Jika dilihat dari pertimbangan usia, berikut adalah rekomendasi vitamin D sehari-hari yang bisa Anda konsumsi berdasarkan Office of Dietary Supplements Amerika Serikat.
  • Usia 0-12 tahun: 400 IU (10 microgram/mcg)
  • 1-70 tahun: 600 IU (15 mcg)
  • 71 tahun ke atas: 800 IU (20 mcg).
Akan tetapi, para ahli menyatakan bahwa dosis tersebut dinilai tidak cukup. Dilansir dari Web MD, ahli vitamin D dan profesor dari Boston University, Michael Holick, MD, PhD, merekomendasikan dosis 1.000 IU vitamin D per hari untuk bayi dan orang dewasa.Seperti yang telah disinggung sebelumnya, kebutuhan vitamin D harian ini dapat dipenuhi dengan berjemur di bawah sinar matahari dan mengonsumsi berbagai jenis makanan yang mengandung vitamin ini secara rutin. Berikut adalah penjelasan seputar keduanya.

1. Berjemur di bawah sinar matahari

Sinar matahari merupakan salah satu sumber vitamin D yang paling penting. Namun, paparan sinar matahari berlebihan justru bisa meningkatkan risiko kanker kulit.Dilansir dari Cleveland Clinic, durasi paparan sinar matahari yang direkomendasikan adalah 10-15 menit dan dilakukan sebanyak 2-3 kali dalam seminggu dengan bagian-bagian tubuh, seperti wajah, tangan, kaki, dan punggung menerima paparannya.

2. Mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin D

Berikut adalah berbagai jenis makanan yang bisa Anda konsumsi untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin D harian.
  • Ikan berminyak, seperti salmon, tuna, dan kembung
  • Keju
  • Kuning telur
  • Jamur
  • Hati sapi
Anda juga bisa mendapatkan vitamin D dari berbagai jenis makanan yang difortifikasi. Untuk memastikannya, Anda dapat melihat label dalam kemasan makanan untuk melihat ada atau tidaknya kandungan vitamin D.Berikut adalah beberapa makanan yang umumnya ditambahkan vitamin D.
  • Susu
  • Produk olahan susu lainnya, seperti yogurt
  • Susu kedelai
  • Sereal
  • Jus jeruk.
Namun, memenuhi kedua poin di atas bisa jadi hal yang sulit bagi sebagian orang. Sebagai solusi yang lebih cepat, tepat, dan praktis, Anda bisa mengonsumsi suplemen vitamin D seperti Sakatonik Activ D3 1000.

3. Mengonsumsi Sakatonik Activ D3 1000

Sakatonik Activ D3 1000
Sakatonik Activ D3 1000 mudah didapatkan di mana saja
Sakatonik Activ D3 1000 memiliki dosis yang dinilai tepat (1000 IU/25 mcg) untuk menjaga imunitas sekaligus memenuhi kebutuhan vitamin D harian Anda.Vitamin D dalam bentuk D3 (Cholecalciferol) seperti yang dimiliki produk ini juga dianggap lebih siap digunakan dan lebih cepat diserap dengan baik dari saluran pencernaan.Selain itu, Sakatonik Activ D3 1000 memiliki bentuk tablet yang kecil dan praktis sehingga mudah dikonsumsi dengan diminum langsung atau dikunyah.Anda bisa mengonsumsi Sakatonik Activ D3 1000 setiap hari untuk memenuhi kebutuhan vitamin D harian, apalagi jika Anda mengalami defisiensi vitamin D. Satu boks suplemen ini terdiri dari 10 tablet dan dibanderol dengan harga Rp20.000.Sakatonik Activ D3 1000 bisa Anda dapatkan dengan mudah di mana saja, mulai dari e-commerce, apotek, hingga minimarket terdekat dari rumah Anda.Namun, sebelum mengonsumsi suplemen ini, ada baiknya Anda berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk mempertimbangkan manfaat, dosis, hingga efek sampingnya sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.
vitamin dadv sakatonik d3 1000
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/articles/15050-vitamin-d--vitamin-d-deficiency
Diakses pada 28 Oktober 2021
Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/vitamin-d-deficiency-symptoms
Diakses pada 28 Oktober 2021
Liputan 6. https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4551465/2-faktor-utama-orang-indonesia-sering-kekurangan-vitamin-d-meski-sinar-matahari-melimpah
Diakses pada 28 Oktober 2021
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/318060#treatment
Diakses pada 28 Oktober 2021
Medlineplus. https://medlineplus.gov/vitaminddeficiency.html
Diakses pada 28 Oktober 2021
NIH. https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminD-HealthProfessional/
Diakses pada 28 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait