Kombinasi beberapa obat kusta efektif untuk mengobati penyakit tersebut.
Penyakit kusta bisa disembuhkan melalui pemberian sejumlah obat kusta yang dikombinasikan.

Penyakit kusta seringkali menimbulkan kecacatan dan stigma bagi penderitanya. Padahal jika terdeteksi dini dan cepat diobati, penyakit ini akan sembuh tanpa meninggalkan bekas. Berikut ini cara penyembuhan penyakit kusta dengan obat kusta dan pengobatan yang tuntas.

Perkembangan penyakit kusta termasuk lambat, karena bisa berlangsung sampai puluhan tahun. Akan tetapi dalam jangka waktu tersebut, komplikasinya bisa menyebabkan kecacatan fisik.

Apa saja jenis obat kusta dan bagaimana cara kerjanya?

Kusta bisa disembuhkan dengan menggunakan kombinasi obat-obatan, yang disebut multidrug therapy. Antibiotik bertujuan untuk memusnahkan bakteri penyebab kusta dan diberikan dalam bentuk kombinasi untuk mencegah resistensi bakteri terhadap obat. Kombinasi obat tergantung dari jenis kustanya, yaitu multi basiler atau pausi basiler.

Penderita multi basiler memiliki lebih dari lima lesi putih di kulitnya. Melalui pemeriksaan apusan, dokter bisa mendeteksi keberadaan bakteri pada kulit penderita kusta jenis ini. Sementara itu, pausi basiler menimbulkan maksimal lima lesi pada kulit penderitanya, tanpa keberadaan bakteri kusta.

Multi basiler bisa diobati dengan kombinasi rifampicin, clofazimine dan dapsone. Kombinasi obat tersebut harus dikonsumsi setidaknya selama 12 bulan. Sementara itu, kombinasi obat kusta untuk pausi basiler adalah rifampicin dan dapsone, yang harus dikonsumsi selama setidaknya 6 bulan. Cara penyembuhan penyakit kusta memang butuh waktu lama dan harus tuntas agar penyakit tidak lagi bisa menular.

Obat kusta memiliki beberapa efek samping. Rifampicin biasanya menyebabkan warna urine jadi kemerahan. Clofazimine mengakibatkan perubahan warna kulit menjadi lebih gelap dan juga kulit menjadi kering.

Efek samping berupa perubahan warna kulit tidaklah menyebabkan masalah medis yang serius selain mungkin mengganggu penampilan. Perubahan warna kulit akan mulai terjadi pada bulan ketiga penggunaan obat, dan akan tampak sangat jelas dalam jangka waktu satu tahun. Kondisi kulit akan kembali normal dalam waktu setahun setelah pemakaian obat dihentikan. Namun apabila efek samping tersebut amat mengganggu, Anda bisa menginformasikan hal ini ke dokter.

Ichtyosis atau kulit sangat kering sebagai efek samping clofazimine bisa menyebabkan munculnya dermatitis bagi sebagian pasien kusta. Karena itu, selama masa pengobatan, pasien disarankan untuk rutin melembapkan kulit dengan mengoleskan petroleum jelly atau minyak pelembap alami.

Otot-otot jari tangan yang kaku dan memendek mungkin bisa dipulihkan lewat tindakan operasi. Demikian juga dengan gangguan kemampuan berkedip pada mata. Akan tetapi, anggota tubuh yang hilang dan kebutaan akibat komplikasi kusta, akan menjadi disabilitas permanen bagi mantan penderita kusta.

Gejala dan penularan kusta

Kusta memang merupakan penyakit menular. Namun, penularannya tidaklah semudah flu. Penularan terjadi jika ada kontak cukup erat dalam jangka waktu lama, dengan penderita kusta yang tidak diobati.

Bakteri bisa menular melalui percikan (droplets) cairan tubuh dari mulut dan hidung penderita. Itulah sebabnya, kusta sering menular pada orang-orang dalam satu keluarga atau rumah tangga.

Gejala awal kusta memang tidak terlalu kentara, dan tidak menimbulkan banyak keluhan, sehingga seringkali terabaikan. Beberapa gejala awal kusta antara lain:

  • Timbul bercak-bercak putih seperti panu di kulit tanpa disertai gatal atau sakit
  • Kulit kehilangan fungsi sebagai indera peraba, kehilangan kemampuan merasakan sakit, suhu dan sentuhan.
  • Sensasi kesemutan atau mati rasa di tangan dan kaki
  • Mata kering karena kemampuan mengedipkan mata terganggu

Gejala awal tersebut bila diabaikan, akan membuat penyakit terus berkembang secara perlahan. Komplikasi bisa terjadi akibat infeksi, karena penderita tidak bisa merasakan sakit jika muncul luka terbuka. Komplikasi yang menimbulkan kecacatan bukan disebabkan oleh bakteri, melainkan kerusakan pada saraf tepi.

Ketika saraf tepi rusak dan kulit kehilangan kemampuan merasakan rangsang, kelenjar-kelenjar pada kulit dan folikel rambut akan mati. Kulit pun jadi kering, pecah-pecah dan muncul luka-luka terbuka. Infeksi berulang kali akan menyebabkan kerusakan jaringan tubuh, otot dan tulang pada tangan, kaki serta wajah, yang mengakibatkan perubahan bentuk serta kecacatan permanen.

Pengobatan memang bisa menyembuhkan kusta dan menghentikan kerusakan anggota tubuh akibat komplikasi. Cara penyembuhan penyakit kusta menggunakan obat kusta sangatlah efektif. Masyarakat dapat memperoleh obat tersebut secara gratis di Puskesmas. Namun, kerusakan atau kecacatan yang sudah ada tidak bisa dipulihkan dengan obat.

MedicineNet. https://www.medicinenet.com/leprosy/article.htm#what_is_leprosy
Diakses pada 5 September 2019

WHO. https://www.who.int/lep/disease/treatment/en/
Diakses pada 5 September 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed