Beras Shirataki, Nasi Nol Kalori untuk Anda yang Sedang Diet

Beras shirataki dikenal karena kaya akan serat dan tanpa kalori
Contoh hidangan olahan beras shirataki

Konsumsi beras shirataki kerap dianggap sebagai ‘beras ajaib’ bagi orang yang sedang berusaha menurunkan berat badan. Pasalnya, beras ini memiliki keunggulan sebagai sumber karbohidrat yang tidak mengandung kalori, atau dengan kata lain, juga tidak rentan mengakibatkan pemakannya mengalami kenaikan berat badan.

Meski dinamakan ‘beras’, nasi shirataki bukanlah terbuat dari tanaman padi-padian seperti halnya beras putih atau beras merah. Ia merupakan produk olahan dari tanaman shirataki, umbi-umbian yang kerap disebut konjac (Amorphophallus) dan banyak tumbuh di Asia Timur.

Tanaman konjac memiliki kandungan tepung pada bagian akarnya yang kaya akan serat diet bernama glukomannan. Serat inilah yang banyak dimanfaatkan oleh produsen makanan untuk diolah menjadi produk penurun berat badan, seperti jelly maupun tepung, yang kemudian diolah lagi menjadi beras atau mie.

Perbedaan beras shirataki dengan beras putih

Selain berbeda jenis tumbuhan asalnya, beras shirataki dan beras putih juga memiliki beberapa perbedaan mendasar, seperti:

  • Kandungan kalorinya

Klaim yang mengatakan beras shirataki tidak memiliki kandungan kalori memang benar adanya. Berdasarkan data nutrisi dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), 100 gram beras shirataki mengandung 1,18 gram karbohidrat, tapi tidak memiliki kalori.

Sebaliknya, beras putih long grain yang sudah dimasak dan banyak dikonsumsi orang oleh Indonesia mengandung 80 gram karbohidrat dan 356 kalori per 100 gram sajiannya. Seperti diketahui, banyaknya kalori yang masuk ke dalam tubuh berbanding lurus dengan kemungkinan Anda mengalami kenaikan berat badan.

  • Kandungan nutrisi

Meski memiliki keunggulan dalam hal kalori, beras shirataki ternyata tidak lebih unggul dalam hal nutrisi lainnya dibanding beras putih. Pasalnya, beras shirataki praktis tidak memiliki nilai gizi tambahan apapun, kecuali 1,69 mg zat besi dalam 100 gram sajiannya.

Di pihak lain, 100 gram beras putih long grain juga mengandung zat besi sebanyak 4,44 mg. Selain itu, dalam jumlah yang lebih sedikit juga terdapat 6,67 gram protein dan 2,2 gram serat diet.

Meskipun demikian, dalam Jurnal Internasional Makromolekul Biologi disebutkan bahwa semua produk yang terbuat dari tanaman shirataki memiliki kandungan serat diet yang baik bagi kesehatan. Hal ini disebabkan oleh kandungan glucomannan pada konjac seperti yang disebutkan di atas.

Manfaat beras shirataki

Berdasarkan kandungan gizinya secara keseluruhan ini, beberapa ahli nutrisi lebih menyarankan konsumsi makanan dari gandum utuh atau nasi merah untuk menurunkan berat badan. Meski demikian, Anda dapat mengonsumsi beras shirataki untuk mendapatkan beberapa manfaatnya, seperti:

  • Mencegah kenaikan kadar gula darah

Berdasarkan penelitian, konsumsi beras shirataki selama 65 hari berturut-turut terbukti dapat mencegah dan meringankan hiperglikemia (naiknya kadar gula darah). Hiperglikemia terjadi ketika tubuh memiliki terlalu sedikit insulin atau tidak mampu memproduksi cukup insulin untuk mengolah glukosa di dalam darah.

  • Membuat Anda kenyang lebih lama

Nasi shirataki yang Anda konsumsi bergerak dengan lambat di saluran cerna Anda sehingga Anda tidak lekas merasa kelaparan. Inilah yang membuat beras shirataki disebut ‘nasi ajaib’ dan kerap digunakan oleh orang yang sedang diet.

  • Menyehatkan saluran cerna

Kandungan serat dalam beras shirataki juga dapat menjadi makanan bagi bakteri baik di dalam usus sehingga fungsinya mirip prebiotik. Hal ini sekaligus akan menaikkan kerja sistem imun, mencegah peradangan, serta memberi efek baik lainnya bagi kesehatan.

  • Menurunkan kolesterol

Beberapa studi menyebut kandungan glucomannan dalam shirataki juga dapat menurunkan kadar kolesterol total di dalam darah. Glucomannan bekerja dengan meningkatkan jumlah kolesterol yang dibuang melalui feses sehingga tubuh lebih sedikit menyerap kolesterol.

Tidak ada salahnya mengonsumsi beras shirataki sebagai alternatif makan nasi putih pada umumnya. Namun, Anda harus tetap melengkapi nutrisi yang dibutuhkan tubuh lewat jenis makanan lainnya, seperti daging, sayur, dan buah-buahan.

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319979
Diakses pada 17 Maret 2020

USDA. https://fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/food-details/556914/nutrients
Diakses pada 17 Maret 2020

USDA. https://fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/food-details/402713/nutrients
Diakses pada 17 Maret 2020

Nutritionist Resource. https://www.nutritionist-resource.org.uk/blog/2013/02/20/is-new-slim-rice-as-healthy-as-it-sounds
Diakses pada 17 Maret 2020

American Diabetes Association. https://www.diabetes.org/diabetes/medication-management/blood-glucose-testing-and-control/hyperglycemia
Diakses pada 17 Maret 2020

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1966003
Diakses pada 17 Maret 2020

International Journal of Biology Macromolecules. https://www.researchgate.net/publication/290212321_Nutritional_and_Potential_Health_Benefits_of_Konjac_Glucomannan_a_Promising_Polysaccharide_of_Elephant_Foot_Yam_Amorphophallus_konjac_K_Koch_Review
Diakses pada 17 Maret 2020

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/shirataki-noodles-101
Diakses pada 17 Maret 2020

Artikel Terkait