Beragam Tanda Bahaya Nifas yang Wajib Diwaspadai Para Ibu Baru

(0)
22 Dec 2019|Rieke Saraswati
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Sembelit dengan kram perut bisa menjadi tanda bahaya nifas yang perlu diwaspadaiSembelit maupun wasir bisa saja terjadi selama masa nifas
Masa nifas umumnya berlangsung hingga enam minggu setelah melahirkan. Dalam jangka waktu tersebut, tubuh wanita akan mengalami sejumlah perubahan, dan proses ini termasuk wajar.Meski begitu, tetap ada sejumlah perubahan yang harus Anda waspadai. Pasalnya, kondisi ini bisa saja terkait dengan komplikasi pascapersalinan dan menjadi tanda bahaya nifas.

Apa sajakah tanda bahaya nifas?

Selama beberapa minggu pascamelahirkan, wajar jika Anda merasa nyeri di area perut atau tidak nyaman pada luka jahitan. Umumnya, keluhan-keluhan ini akan berkurang seiring waktu.Namun ada baiknya Anda tetap cermat mengamati tanda-tanda bahaya nifas yang mungkin terjadi. Pasalnya, masalah kesehatan usai melahirkan dapat menghambat pemulihan sang ibu serta mengganggu ikatan ibu-bayi.Terlebih bagi, sebagian wanita juga terkadang sulit untuk membedakan antara gejala nifas yang normal dan keluhan yang merupakan komplikasi. Agar selalu waspada, mari kenali tanda bahaya nifas yang paling umum berikut ini:

1. Perdarahan yang berlebih

Perdarahan setelah melahirkan adalah hal yang normal. Kondisi ini bisa berlangsung selama dua hingga enam minggu, dan akan berkurang seiring waktu.Namun para ibu baru patut memeriksakan diri ke dokter jika perdarahan yang terjadi terasa berlebih. Berikut gejalanya:
  • Perdarahan tidak kunjung berkurang.
  • Ada gumpalan darah yang tampak lebih besar di antara darah.
  • Darah yang keluar terus-menerus berwarna merah terang meski sudah lewat dari 3-4 hari.
  • Volume darah sempat berkurang, tapi mendadak kembali banyak.
  • Darah kembali berwarna merah terang, padahal sebelumnya sudah berubah menjadi gradasi merah yang lebih gelap.
  • Muncul nyeri atau kram seiring dengan peningkatan aliran darah.
  • Lemas dan pucat.
Terlalu banyak beraktivitas atau kurang istirahat juga bisa membuat volum darah semakin banyak. Tapi perdarahan biasanya akan berkurang setelah Anda beristirahat.

2. Infeksi

Pada masa nifas, baik setelah persalinan normal maupun operasi Caesar, robekan atau jahitan dapat terasa tidak nyaman. Hal ini tentu saja termasuk wajar.Anda patut waspada jika jahitan terasa makin sakit. Keluhan ini bisa saja menjadi tanda adanya infeksi maupun tanda bahaya nifas.Selain jahitan yang sakit, gejala infeksi lainnya yang mesti diperhatikan meliputi:
  • Demam.
  • Kemerahan pada luka bekas jahitan.
  • Kulit bekas jahitan dan di sekitarnya yang terasa hangat saat disentuh.
  • Keluar cairan atau lendir dari luka jahitan.
  • Nyeri atau perih saat buang air kecil, apabila Anda melahirkan normal.
Infeksi yang baru mencapai tahap awal dapat ditangani dengan pemberian obat antibiotik dari dokter. Tapi jika infeksinya sudah parah, Anda mungkin butuh pengobatan yang lebih agresif atau bahkan rawat inap.

3. Nyeri payudara

Nyeri payudara adalah komplikasi yang sering terjadi selama masa nifas. Biasanya, keluhan ini muncul karena Anda baru belajar menyusui. Misalnya, belum menemukan posisi menyusui dan mulut bayi belum bisa menempel dengan pas pada puting.Sebagai akibatnya, puting juga bisa mengalami lecet-lecet hingga berdarah. Apabila terjadi perdarahan pada puting, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter maupun konsultan laktasi Anda untuk mengatasinya.Jika Anda tidak menyusui, nyeri payudara bisa diredakan dengan kompres hangat atau dingin. Anda juga bisa mengonsumsi obat pereda nyari.Namun baik ibu baru menyusui maupun tidak, sama-sama harus mewaspadai tanda bahaya nifas yang berupa mastitis.Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara. Kondisi ini terutama muncul pada awal-awal produksi Air Susu Ibu (ASI).Ketika nyeri payudara disertai kuilt payudara yang kemerahan, terasa hangan saat disentuh, demam, pegal-pegal, atau tidak enak badan seperti gejala flu, Anda sebaiknya memeriksakan diri ke dokter.

4. Depresi pascamelahirkan

Mudah merasa sedih setelah melahirkan adalah hal yang wajar dan sering dialami oleh para ibu. Tapi jika kondisi ini berlangsung lebih dari dua minggu dan mengganggu ikatan ibu-bayi, bisa jadi Anda mengalami depresi pascamelahirkan (postpartum depression) yang menjadi salah satu tanda bahaya nifas.Segeralah temui dokter atau psikolog apabila Anda merasa mengalami depresi pascamelahirkan. Jika terlambat dideteksi atau terus dibiarkan, kondisi akan semakin buruk.Jangan anggap ramah kondisi ini, karena bisa membahayakan nyawa ibu bahkan bayi, kondisi depresi pascamelahirkan yang tidak ditangani bisa berakibat munculnya gejala psikosis seperti adanya suara-suara atau ajakan-ajakan menyakiti diri sendiri dan bayi, tidak jarang Anda mendengar berita perihal ibu menyakiti bayi nya, bisa jadi disebabkan oleh kondisi ini.Para ahli juga menemukan bahwa anak-anak bisa terkena dampak dari kondisi mental orangtua yang tak tertangani dengan baik, termasuk depresi pascamelahirkan ini. Anak-anak tersebut diduga lebih rentan untuk mengamuk (temper tanrtum), tidak bisa merasa nyaman, serta mengalami gangguan tidur dan masalah perkembangan kognitif.Sebagian besar kasus depresi pascamelahirkan berhasil ditangani dengan obat-obatan atau kombinasi obat-obatan dan psikoterapi.

5. Inkontinensia urine

Usai melahirkan, wanita kerap mengalami inkontinensia urine atau sulit menahan keinginan buang air kecil. Akibatnya, Anda bisa mengompol karena tak mampu menahan pipis. Meski tak berbahaya, komplikasi ini dapat membuat Anda tidak nyaman dan malu.Melakukan senam Kegel bisa membantu Anda dalam menangani masalah inkontinensia urine. Latihan otot dasar panggul ini bisa dilakukan dengan seolah-olah menahan buang air kecil selama beberapa detik. Ulangi proses ini selama beberapa kali dalam sehari.Otot yang Anda gunakan saat menahan buang air tersebut merupakan otot dasar panggul yang perlu dikencangkan agar Anda tidak lagi mengompol.Jika inkontinensia urine disertai tanda bahaya nifas di bawah ini, Anda sebaiknya memeriksakan diri ke dokter:
  • Sulit berjalan
  • Ada bagian tubuh tertentu yang lemas atau kesemutan
  • Gangguan bicara
  • Tidak bisa melihat
  • Kebingungan atau linglung
  • Penurunan kesadaran atau pingsan
  • Tidak bisa menahan buang air besar

6. Inkontinensia tinja

Inkontinensia tinja adalah kondisi sulit menahan buang air besar (BAB), sehingga Anda bisa mengalami cepirit. Bila terjadi setelah melahirkan, kondisi ini bisa disebabkan oleh melemahnya otot maupun cedera saat persalinan.Jangan cemas, kesulitan menahan BAB biasanya akan membaik seiring waktu. Namun segera temui dokter bila inkontinensia tinja semakin sering atau parah serta mengganggu aktivitas, karena ini bisa menjadi tanda bahaya nifas.Dokter mungkin akan meminta Anda untuk melakukan beberapa latihan otot dasar panggul. Tindakan medis atau operasi juga bisa dianjurkan jika dinilai perlu.  

7. Konstipasi atau sembelit

Tak jarang, ibu baru bisa pula mengalami sembelit atau konstipasi selama masa nifas. Anda dapat mengatasi kesulitan BAB ini dengan menambah asupan serat dan lebih sering minum air putih.Segeralah memeriksakan diri ke dokter jika kondisi-kondisi berikut juga menyertai konstipasi Anda:
  • Sakit atau kram perut
  • Terjadi lebih dari dua minggu
  • Terdapat darah di tinja
  • Penurunan berat badan
  • Nyeri atau perih saat buang air besar

8. Wasir

Sembelit bisa memicu kondisi wasir atau hemoroid. Pasalnya, tinja yang keras akan menyebabkan Anda refleks mengejan terlalu kuat, sehingga pembuluh darah anus akan membesarkemudian terbentuklah wasir.Untuk menangani hemoroid, Anda juga bisa menggunakan salep khusus wasir. Anda juga dapat memakai obat pencahar, namun selalu konsultasikan dengan dokter terlebih dulu.Periksakan kondisi wasir Anda ke dokter jika disertai dengan gejala-gejala yang meliputi:
  • Rasa nyeri
  • Perdarahan pada dubur
  • Tinja berwarna merah karena gejala ini bisa menandakan perdarahan
  • Tak kunjung sembuh meski Anda sudah menggunakan salep wasir

9. Komplikasi nifas lainnya

Ada beberapa komplikasi yang jarang terjadi pada masa nifas, namun tetap harus diwaspadai. Contoh tanda bahaya nifas ini meliputi sepsis atau infeksi darah, deep vein thrombosis (DVT), masalah kardiovaskular, stroke, serta emboli.Di samping memerhatikan buah hatinya, para ibu baru juga diharapkan mencermati kondisi tubuhnya sendiri maupun tanda-tanda bahaya nifas yang mungkin terjadi. Pasangan dan keluarga pun diharapkan bisa memberikan dukungan.Guna mencegah komplikasi pascamelahirkan, upayakan untuk rutin memeriksakan diri ke dokter, khususnya pada tiga minggu pertama setelah persalinan. Selain memeriksakan kondisi fisik, Anda juga dapat menceritakan kesulitan yang Anda alami pada dokter. Dengan ini, dokter bisa memberikan saran yang sekiranya bisa membantu Anda.Jangan sungkan juga untuk bercerita dan meminta bantuan pada pasangan maupun anggota keluarga agar perawatan pascamelahirkan menjadi lebih mudah. Dengan adanya dukungan dari pasangan dan kelularga, Anda niscaya akan cepat pulih.Persiapkan pula masa nifas sejak Anda masih hamil, tambah pengetahuan dengan membaca informasi yang akurat atau rajin bertanya ke dokter kandungan Anda. Misalnya, tentang mitos dan fakta seputar persalinan, pemberian ASI dan serba-serbi ibu baru.Konsultasi ke dokter akan memberikan pengetahuan mengenai hal yang harus diingat, serta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika Anda sudah melahirkan. Dengan ini, Anda takkan mudah terkena mitos yang justru keliru dan malah membahayakan Anda.
pendarahan pasca melahirkandepresi pascapersalinaninfeksi postpartum
Healthline. https://www.healthline.com/health/pregnancy/postpartum-complications
Diakses pada 21 Desember 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/urinary-incontinence
Diakses pada 21 Desember 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/labor-and-delivery/in-depth/postpartum-complications/art-20446702
Diakses pada 21 Desember 2019
Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/digestive-health/signs-to-see-a-doctor-for-hemorrhoids/
Diakses pada 21 Desember 2019
WebMD. https://www.webmd.com/depression/postpartum-depression/default.htm
Diakses pada 21 Desember 2019
WebMD. https://www.webmd.com/digestive-disorders/qa/when-should-you-call-your-doctor-about-constipation
Diakses pada 21 Desember 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait