Manfaat multivitamin sebaiknya datang dari makanan, bukan dari pil
Minum multivitamin setiap hari mungkin sudah merupakan kebiasaan bagi Anda

Ada puluhan ribu produk multivitamin yang ditawarkan di pasaran. Biasanya, yang menjadi target utama dari manfaat multivitamin adalah orang yang berusia senja atau paruh baya.

Journal of Nutrition pernah mengadakan survei dengan responden 3,500 orang dewasa berusia di atas 60 tahun. Hasilnya, setidaknya 70% dari mereka mengonsumsi multivitamin harian. Bahkan, 29% di antaranya mengonsumsi lebih dari empat multivitamin.

Namun perlu diingat, multivitamin tidak akan bisa menggantikan nutrisi yang dikonsumsi langsung dalam bentuk makanan. Justru, jika kurang bijak multivitamin dapat dianggap sebagai justifikasi atas gaya hidup yang kurang sehat.

Manfaat multivitamin memang nyata atau hanya popularitas?

Popularitas multivitamin memang tak bisa dipungkiri. Ada begitu banyak jenis multivitamin yang menjadi ladang bisnis dengan target pasar yang sangat luas.

Di sisi lain, hanya sedikit bukti medis yang menyebut bahwa multivitamin dapat memberikan manfaat bagi kesehatan secara signifikan.

Salah satu contohnya datang dari Journal of the American College of Cardiology. Mereka menyebut bahwa suplemen yang paling umum dikonsumsi (multivitamin, kalsium, vitamin D, vitamin C) tidak menjamin seseorang terlindung dari risiko penyakit jantung.

Masalahnya, banyak orang yang menganggap mengonsumsi multivitamin adalah usaha lebih untuk menjaga kesehatan mereka. Secara psikologis, orang jadi merasa lebih sehat karena telah mendapatkan manfaat multivitamin setiap harinya.

Belum lagi, Food and Drug Administration tidak mengeluarkan regulasi terkait hal ini. Artinya sama saja bahwa setiap produsen dapat merilis produk multivitamin tanpa kita ketahui apakah kandungannya benar-benar aman dan efektif atau tidak.

Adakah risiko konsumsi multivitamin?

Terlepas dari sederet manfaat multivitamin yang ditawarkan di kemasannya, ada risiko yang mengikuti. Beberapa di antaranya adalah:

  • Vitamin K

Fungsi vitamin K dapat mengganggu kinerja obat pengencer darah yang digunakan pada penyakit darah tinggi

  • Kalsium & Vitamin D

Konsumsi kalsium dan vitamin D dapat meningkatkan risiko munculnya batu ginjal

  • Betakaroten

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa dosis tinggi betakaroten meningkatkan risiko kanker paru-paru, terutama pada perokok aktif

  • Vitamin E

Konsumsi vitamin E dosis tinggi bisa menyebabkan stroke akibat pendarahan di otak

  • Vitamin B6

Mengonsumsi vitamin B6 dalam jangka panjang atau tahunan kerap dikaitkan dengan kerusakan pembuluh darah yang bisa mengganggu pergerakan tubuh. Biasanya, gangguan ini akan menghilang dengan sendirinya setelah konsumsi multivitamin dihentikan.

Manfaat multivitamin bagi kelompok tertentu

Meski demikian, manfaat multivitamin juga sangat krusial bagi orang-orang yang berisiko tinggi. Contohnya, multivitamin sangat penting bagi orang yang menderita penyakit Crohn yang tidak bisa menyerap nutrisi tertentu.

Orang dewasa penderita osteoporosis juga memerlukan tambahan vitamin D dan kalsium yang mungkin tak tercukupi dari makanan yang mereka konsumsi.

Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa vitamin C, vitamin E, zinc, dan karoten juga bisa mencegah gangguan penglihatan pada lansia.

Tak terkecuali, orang-orang yang mengalami intoleransi laktosa. Mereka tidak bisa mendapatkan nutrisi dari produk olahan susu. Padahal, itu adalah sumber vitamin D dan kalsium. Itulah mengapa mereka memerlukan tambahan multivitamin tertentu.

Benarkah konsumsi multivitamin adalah pemborosan?

Ada begitu banyak penelitian komprehensif yang menggarisbawahi tema bahwa mengonsumsi multivitamin hanyalah pemborosan. Sebut saja artikel editorial dari Annals of Internal Medicine yang berjudul “Enough Is Enough: Stop Wasting Money on Vitamin and Mineral Supplements”.

Dalam artikel tersebut – yang juga senada dengan banyak penelitian lainnya – fakta yang terungkap adalah:

  • Multivitamin tidak mengurangi risiko terkena penyakit jantung atau kanker (penelitian dengan 450,000 responden)
  • Multivitamin tidak mengurangi risiko gangguan mental seperti hilang ingatan atau berpikir lebih lambat. Hasil ini diperoleh dari studi terhadap 5,947 pria yang mengonsumsi multivitamin selama 12 tahun
  • Orang yang sembuh dari penyakit jantung masih mungkin mengalami serangan jantung, operasi jantung, hingga kematian (penelitian 1,708 responden)

Bijak konsumsi multivitamin

Setiap individu harus bijak dalam mengonsumsi multivitamin. Ketika dokter merekomendasikan konsumsi multivitamin tertentu, mungkin ada pertimbangan terkait kondisi fisiknya.

Untuk memastikan asupan vitamin, mineral, dan nutrisi lainnya terpenuhi, bisa dengan mengonsumsi hal-hal berikut ini:

  • Buah dan sayur

Setidaknya konsumsi buah dan sayur lima porsi dalam sehari. Alternatifnya, konsumsi salad beberapa kali dalam sepekan.

  • Olahan susu rendah lemak

Susu rendah lemak dan yogurt juga menjadi sumber kalsium, magnesium, potasium, dan nutrisi lainnya.

  • Protein

Asupan protein hewani seperti ikan atau ayam juga bisa menjadi sumber protein. Ikan seperti salmon adalah sumber omega 3 yang sangat baik.

Selama tidak ada masalah atau kebutuhan tertentu, maka sumber vitamin dan mineral terbaik tetaplah dari makanan, bukan dari sebuah pil.

Harvard Health Publishing. https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/do-you-need-a-daily-supplement
Diakses pada 28 Juni 2019

Johns Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/is-there-really-any-benefit-to-multivitamins
Diakses pada 28 Juni 2019

NHS. https://www.nhs.uk/common-health-questions/food-and-diet/do-i-need-vitamin-supplements/
Diakses pada 28 Juni 2019

WebMD. https://www.webmd.com/vitamins-and-supplements/news/20131216/experts-dont-waste-your-money-on-multivitamins#1
Diakses pada 28 Juni 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed