Benarkah Ketindihan Menyebabkan Tidak Bisa Tidur di Malam Hari?

Ketindihan atau sleep paralysis disebabkan karena pikiran yang tetap tersadar saat seseorang sedang tidur
Saat mengalami ketindihan, sensasi aneh yang muncul merupakan halusinasi dari pikiran yang tetap tersadar saat tidur

Pernah mengalami ‘ketindihan’ saat tidur? Banyak yang mengatakan hal ini disebabkan karena ada makhluk halus yang menindih sehingga membuat Anda tak bisa bergerak.

Mata Anda secara perlahan mulai terbuka dan menatap langit-langit kamar yang berwarna putih buram. Anda berusaha untuk menggerakkan tangan dan kaki, tetapi kemudian menyadari bahwa tubuh Anda tidak dapat bergerak.

Anda berusaha untuk membuka mulut dan mencoba untuk meminta tolong. Namun, tidak satu kata pun meluncur dari mulut Anda. Kejadian ini tentunya menimbulkan ketakutan dan membuat Anda tidak bisa tidur di malam hari.

Fenomena ini dikenal masyarakat sebagai ketindihan dalam masyarakat dan diasosiasikan dengan tanda diganggu makhluk halus. Namun, fenomena ketindihan ini sebenarnya merupakan sesuatu yang ilmiah dan dikenal sebagai sleep paralysis.

Apakah penyebab tidak bisa tidur karena ketindihan?

Tubuh yang tidak bisa bergerak, suara yang tidak keluar, dan sensasi adanya keberadaan makhluk lain dalam kamar adalah beberapa ciri khas dari tanda diganggu makhluk halus berupa ketindihan.

Fenomena ketindihan dapat menjadi penyebab tidak bisa tidur dan menimbulkan rasa takut untuk beristirahat. Beberapa orang bahkan mungkin merasa tidur tapi seperti tidak tidur. Apakah penyebab tidak bisa tidur tersebut memang karena ketindihan?

Fenomena ketindihan yang diyakini sebagai tanda diganggu makhluk halus sebenarnya dikarenakan gangguan tidur di tahapan Rapid Eye Movement (REM) atau tahapan tidur saat Anda mulai bermimpi. Sleep paralysis terjadi saat pikiran Anda tersadar atau terbangun di tahapan REM.

Di tahapan REM, tubuh akan membuat otot menjadi ‘lumpuh’ atau lemas agar saat bermimpi Anda tidak akan bergerak-gerak. Sleep paralysis merupakan fenomena yang terjadi saat pikiran tidak bisa tidur dan tersadar tetapi tubuh tidak mampu untuk bergerak karena masih dalam tahapan REM.

Saat terbangun dari tahapan REM, pikiran masih tercampur antara mimpi dan realita, hal tersebut yang menyebabkan kemunculan halusinasi-halusinasi yang dianggap sebagai tanda diganggu makhluk halus dan pemicu fenomena ketindihan.

Oleh karenanya, penyebab tidak bisa tidur berupa sleep paralysis dapat dijelaskan secara ilmiah dan bukan diakibatkan ketindihan yang merupakan tanda diganggu makhluk halus.

Meskipun demikian, gangguan pada tahapan REM belum diketahui secara pasti. Tetapi terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan gangguan orang tidur di malam hari berupa sleep paralysis, yaitu:

Mengapa sleep paralysis dianggap sebagai fenomena ketindihan? 

Umumnya, saat sleep paralysis terjadi penderitanya tak hanya tidak bisa tidur, tetapi juga mengalami sensasi-sensasi, seperti mendengarkan suara-suara, melihat bayangan, merasa ditindih oleh sesuatu, merasa seperti melayang atau keluar dari tubuh, dan sebagainya.

Sensasi-sensasi inilah yang membuat sleep paralysis dianggap sebagai suatu fenomena mistis, seperti ketindihan. Sensasi-sensasi tersebut merupakan halusinasi yang terjadi saat penderita terbangun di tahapan REM.

Akan tetapi, tidak semua halusinasi yang terjadi akibat sleep paralysis menimbulkan ketakutan yang membuat penderitanya tidak bisa tidur. Terkadang halusinasi ini dapat memunculkan emosi positif pada penderitanya.

Misalnya, penderita sleep paralysis dapat mengalami sensasi terangkat atau terbang yang lebih sering menimbulkan emosi tenang daripada takut, seperti sensasi ketindihan yang ditandai dengan kesulitan bernapas dan tekanan di dada.

Meskipun fenomena sleep paralysis biasanya terasa mengerikan, tetapi fenomena ini merupakan fenomena yang umum terjadi.

Jenis sleep paralysis berdasarkan waktu kemunculannya

Sleep paralysis dapat timbul saat menjelang tidur ataupun saat akan terbangun. Berdasarkan waktu kemunculannya, sleep paralysis terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Hypnopompic sleep paralysis, muncul sewaktu menjelang bangun atau lebih tepatnya saat transisi siklus tidur REM menjadi NREM. Saat penderita terbangun sebelum siklus REM selesai, maka penderita akan mengalami sleep paralysis.
  • Hypnagogic sleep paralysis, timbul ketika menjelang tidur. Saat menjelang tidur, tubuh akan melemas dan Anda akan menjadi makin tidak sadar. Namun, pada penderita hypnagogic sleep paralysis, penderita akan tetap tersadar saat tubuh melemas.

Meskipun jenisnya berbeda, tetapi sleep paralysis tetaplah suatu fenomena menakutkan yang mampu menjadi penyebab tidak bisa tidur dan mengganggu orang tidur di malam hari.

Sleep paralysis dan depresi

Sleep paralysis tidak hanya dapat menjadi penyebab tidak bisa tidur, tetapi juga mampu meningkatkan risiko seseorang terkena depresi.

Meskipun bukan penyebab depresi secara mutlak, tetapi sleep paralysis merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemunculan depresi. Bisa dikatakan bahwa gangguan tidur, berupa sleep paralysis dapat memprediksi kemunculan gangguan depresi.

Cara tidur nyenyak terbebas dari sleep paralysis

Bagi Anda yang ingin menghindari sleep paralysis atau fenomena ‘ketindihan’, Anda dapat memperbaiki pola tidur dengan beristirahat cukup dan tertidur serta terbangun di waktu yang sama. Hindari juga tidur di siang hari dan mengonsumsi stimulan seperti kafein, efedrin, amfetamin atau kokain sebelum tidur.

Cara tidur nyenyak lainnya adalah dengan tidak menonton televisi atau menggunakan benda-benda elektronik menjelang tidur dan menghindari tertidur dengan posisi terlentang.

Apabila sleep paralysis terus-menerus terjadi dan mengganggu orang tidur di malam hari. Konsultasikan dengan dokter agar dilakukan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321569.php
Diakses pada 03 September 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/295039.php
Diakses pada 03 September 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322066.php
Diakses pada 03 September 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4958367/
Diakses pada 03 September 2019

ScienceDaily. https://www.sciencedaily.com/releases/2016/09/160919151320.htm
Diakses pada 03 September 2019

Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/what-causes-sleep-paralysis-3014700
Diakses pada 03 September 2019

WebMD. https://www.webmd.com/sleep-disorders/guide/sleep-paralysis#1
Diakses pada 03 September 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed