Benarkah Kanker Darah Bisa Diturunkan dari Orangtua kepada Anak?

Argumen kanker darah diturunkan dari orangtua kepada anak tidak sepenuhnya benar
Ilustrasi penderita kanker darah

Beberapa waktu yang lalu, Skotlandia digegerkan dengan kasus kanker yang terjadi pada seorang ayah dan anaknya. Baru beberapa hari setelah sang ayah, Ollie, menyelesaikan pengobatan limfoma Hodgkin, anak laki-lakinya, Alfie, yang baru berusia 10 bulan divonis dokter mengidap leukemia mieloid akut.

Kejadian ini mengejutkan karena penyakit tersebut umumnya terjadi pada seseorang berusia di atas 60 tahun. Walaupun berbeda, penyakit yang dialami Ollie dan Alfie sama-sama merupakan jenis kanker darah.

Kanker darah bukanlah penyakit yang menular seperti batuk pilek yang biasa dialami sehari-hari. Jika seorang anak dan orangtuanya mengalami kondisi ini, apakah berarti kanker darah merupakan penyakit keturunan? Pada kasus yang sangat jarang, kanker darah memang bisa diturunkan dari orangtua.

Kondisi yang dialami Alfie, yaitu leukemia, merupakan kanker yang menyerang sumsum tulang belakang sehingga penderitanya memiliki jumlah sel darah di luar batas normal. Penyakit ini dianggap sebagai suatu penyakit genetik. Walau demikian, kondisi ini tidak diturunkan.

Berbagai mutasi genetik memang diturunkan dan menyebabkan penyakit pada anak, seperti hemofilia dan anemia sel sabit. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku pada kanker darah. Artinya, jika Anda mengalami mutasi gen yang menyebabkan kondisi kanker darah, bukan berarti anak Anda juga memiliki gen yang mengalami mutasi dan akan menderita kondisi yang sama.

Mutasi yang terjadi pada DNA dalam sel darah menyebabkan perubahan produksi jumlah sel darah di sumsum tulang. Selain itu, mutasi juga mencegah sel berfungsi secara normal. Sel darah yang tidak normal ini akan merusak sel darah yang sehat dan menghambat produksinya.

Meski demikian, faktor keturunan tetap memegang peranan dalam terjadinya kanker darah. Anda akan memiliki risiko yang lebih besar mengalami kanker apabila memiliki keluarga dengan riwayat serupa, terutama pada ayah, ibu, atau saudara kandung.

Faktor risiko kanker darah

Riwayat dalam keluarga hanyalah salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya kanker darah. Faktor risiko terjadinya kanker darah berasal dari kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Sebagian faktor dapat Anda kontrol dan sebagian lainnya tidak dapat dihindari.

Selain riwayat kanker dalam keluarga, faktor risiko lainnya meliputi:

1. Rokok

Perokok aktif maupun pasif sama-sama akan meningkatkan risiko Anda mengalami kanker darah. Hal ini disebabkan berbagai zat yang bersifat karsinogenik dapat mengakibatkan mutasi genetik dan memicu pertumbuhan sel abnormal.

2. Paparan zat kimia

Zat kimia tertentu, seperti benzene juga berkaitan dengan leukemia. Benzene terdapat pada bensin, penyulingan minyak, pabrik sepatu, dan karet.

3. Radiasi dan kemoterapi

Adanya riwayat kanker sebelumnya, seperti kanker payudara atau jenis kanker lainnya dapat meningkatkan risiko Anda mengalami kanker darah. Hal ini diakibatkan karena paparan radiasi dan kemoterapi yang dijalani.

4. Infeksi virus

Infeksi virus human T-cell lymphoma/leukemia virus-1 bisa meningkatkan risiko kanker darah tertentu, yaitu leukemia limfositik akut. Berdasarkan American Cancer Society, hal ini umum terjadi di Jepang dan Kepulauan Karibia.

5. Penyakit genetik

Penyakit genetik juga berkaitan dengan kejadian kanker darah, terutama leukemia myeloid akut dan leukemia limfositik akut. Kondisi ini ditemukan pada sindrom Klinfelter, anemia fankoni, sindrom Down, sindrom Li-Fraumeni, dan neurofibromatosis.

Kanker darah tidak serta-merta bisa diturunkan dari orangtua kepada anak. Jika Anda khawatir akan adanya kelainan genetik, Anda dapat mengonsultasikan hal ini kepada dokter.

Artikel Terkait

Banner Telemed