Kandungan protein dalam gizi telur seringkali menyebabkan alergi pada sebagian orang dan membuat tubuh langsung bereaksi
Salah satu kandungan gizi telur yang rentan menyebabkan alergi adalah protein

Ketika Anda merasa gatal-gatal atau sakit perut setelah mengonsumsi telur, bisa jadi telur adalah pemicu alergi atau alergen Anda. Ketika ini terjadi, artinya imun tubuh Anda sensitif terhadap kandungan gizi telur terutama proteinnya. 

Setidaknya 2% anak-anak mengalami alergi telur. Ini adalah alergi paling umum kedua setelah kacang yang terjadi pada anak-anak. Meski demikian, biasanya alergi ini akan hilang dengan sendirinya saat mereka menginjak usia 16 tahun.

Kandungan gizi telur

Sekarang saatnya membedah kandungan gizi telur yang membuatnya kerap menjadi pemicu alergi makanan pada manusia.

Sebenarnya, telur adalah makanan yang kaya nutrisi dengan vitamin, mineral, protein, lemak baik, dan nutrisi lainnya. Hampir semua nutrisi ini ada di kuning telur, sementara putih telur hanya mengandung protein.

Protein inilah yang rentan membuat imun tubuh salah mengidentifikasi dan menganggapnya berbahaya. Ketika hal ini terjadi, tubuh akan melepaskan antibodi immunoglobulin E untuk melawan protein. 

Gejala alergi telur

Sebenarnya, alergi telur bisa saja merupakan alergi pada bagian putih telur atau kuning telurnya saja. Protein yang kerap memicu alergi ditemukan pada putih telur. 

Beberapa gejala alergi telur yang biasa terjadi adalah:

  • Stres pencernaan yang ditandai sakit perut
  • Ruam di kulit
  • Gangguan pernapasan
  • Bibir atau lidah membengkak
  • Merasa pusing dan bingung
  • Diare

Adakah makanan pengganti telur?

Bagi mereka yang alergi kandungan gizi telur, tenang saja. Masih ada beberapa alternatif makanan lain yang bisa jadi alternatif, di antaranya:

  • Telur puyuh dan telur bebek
  • Tofu (diolah dengan bumbu bisa menjadi pengganti scrambled egg)
  • Pisang bisa mengganti telur ayam untuk proses baking

Sementara untuk telur yang digunakan dalam proses binding atau proses mengolah makanan seperti bakso, telur bisa digantikan dengan:

  • Tepung
  • Sayuran (zucchini, tomat, labu)
  • Flaxseeds dan chia seeds
  • Almond, kacang mede, dan selai kacang

Perlukah menghindari konsumsi telur?

Memang salah satu cara mengatasi alergi adalah dengan diet makanan yang memicunya. Dalam hal ini adalah menghindari konsumsi telur.

Meski demikian, mengolah telur dengan menggoreng, merebus, atau menjadikannya bahan dalam membuat kue bisa saja mengubah struktur protein pemicu alergi. Tubuh bisa saja tak lagi melihatnya sebagai substansi berbahaya sehingga tak ada reaksi alergi apapun.

Terlebih, telur kerap dijadikan bahan pembuatan kue dan juga makanan lain seperti bakso, saus salad, sup kaleng, bahkan dalam proses pembuatan pasta. 

Sebagai contoh, 70% anak-anak yang alergi telur tetap bisa mentoleransi makan biskuit atau kue yang mengandung telur di dalamnya.

Itu sebabnya penting untuk melihat lebih detil komposisi makanan yang dikonsumsi. Apabila reaksi tubuh aman-aman saja, artinya tubuh mulai bisa beradaptasi. Bukan tidak mungkin anak bisa mengatasi alerginya lebih cepat sebelum usia 16 tahun.

Perlu diingat bahwa reaksi alergi telur setiap orang akan berbeda satu sama lain. Kenali apa yang terjadi pada diri atau anak Anda dan ketahui bagaimana ‘berdamai’ dengan alergen yang satu ini, yaitu telur.

American College of Allergy, Asthma, and Immunology. https://acaai.org/allergies/types-allergies/food-allergy/types-food-allergy/egg-allergy
Diakses pada 26 Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/common-food-allergies#section7
Diakses pada 26 Mei 2019.

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18078424
Diakses pada 26 Mei 2019.

Food Allergy Research & Education. https://www.foodallergy.org/common-allergens/egg-allergy
Diakses pada 26 Mei 2019

European Centre for Allergy Research Foundation. https://www.ecarf.org/en/help-i-have-an-egg-intolerance-what-now-how-can-i-replace-eggs/
Diakses pada 26 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed