Benarkah Radiasi Wifi dan Headphone Bluetooth Berpotensi Merusak Kesehatan?

Headphone bluetooth merupakan salah satu terobosan teknologi yang mudah untuk dibawa, tetapi gelombang elektromagnetik yang dipancarkan berpotensi merusak kesehatan
Headphone bluetooth memang lebih praktis dan mudah digunakan, tetapi terdapat bahaya gelombang elektromagnetik yang mengintai

Teknologi yang semakin maju dan berkembang memudahkan Anda untuk melakukan berbagai aktivitas. Mencari informasi hanya tinggal dilakukan dengan memencet layar ponsel ataupun tablet yang dimiliki.

Wifi sangat membantu proses pencarian informasi, termasuk pencarian lagu-lagu favorit masa kini. Hanya dengan menggunakan wifi, Anda sudah bisa mengunduh ataupun memutar lagu melalui ponsel atau tablet tanpa perlu repot membeli dan memutar kaset di CD player.

Tidak hanya mengunduh dan memutar lagu, teknologi juga memudahkan Anda untuk mendengarkan lagu kesukaan Anda dengan headphone bluetooth tanpa kabel yang membuat Anda mudah untuk melakukan berbagai aktivitas tanpa harus dibatasi dengan kabel.

Meskipun demikian, di balik pesona wifi dan headphone bluetooth, tersembunyi potensi yang membahayakan bagi kesehatan.

Bahaya radiasi wifi dan headphone bluetooth yang berpotensi merusak kesehatan

Berbagai teknologi yang digunakan sekarang, seperti headphone bluetooth dan wifi, memancarkan suatu gelombang elektromagnetik (EMF) atau yang dikenal sebagai radiasi elektromagnetik.

Suatu riset menemukan bahwa paparan gelombang elektromagnetik dari wifi dapat menimbulkan berbagai masalah pada kesehatan, berupa perubahan endokrin, kerusakan DNA, kadar kalsium berlebih, kerusakan pada testis atau sperma, dan sebagainya.

Headphone bluetooth juga mengeluarkan gelombang elektromagnetik yang lebih rendah atau yang disebut sebagai radiasi frekuensi radio (RFR). Paparan radiasi elektromagnetik berupa RFR yang tinggi dapat memicu tumor pada tikus.

Radiasi bluetooth dari headphone berpotensi untuk menimbulkan kanker atau dengan kata lain, bersifat karsinogenik.

Meskipun belum ada studi mengenai bahaya gelombang elektromagnetik pada headphone bluetooth, seperti penelitian paparan radiasi wifi terhadap manusia, tetapi peneliti tetap menujukkan adanya potensi yang membahayakan dari radiasi headphone bluetooth pada manusia.

Mengapa gelombang elektromagnetik berbahaya?

Penelitian menemukan bahwa penggunaan ponsel dan alat-alat nirkabel berpotensi memicu beberapa jenis kanker, penyakit saraf akibat penuaan, kemandulan pada pria, dan gangguan perilaku akibat kelainan saraf.

Studi lain mendapati bahwa paparan gelombang elektromagnetik yang rendah pada wanita yang sedang hamil dapat menambah peluang untuk mengalami keguguran.

Meskipun demikian belum ada riset yang pasti mengenai efek bahaya radiasi elektromagnetik dan penelitian lebih lanjut mengenai efek radiasi elektromagnetik terhadap kesehatan masih diperlukan.

Apa itu gelombang elektromagnetik atau radiasi elektromagnetik?

Gelombang elektromagnetik merupakan energi atau radiasi yang tidak terlihat dan diproduksi oleh benda-benda elektronik, seperti headphone bluetooth, wifi, ponsel, komputer, dan sebagainya.

Faktanya, gelombang elektromagnetik tidak hanya ditemukan pada benda-benda elektronik, seperti headphone bluetooth dan wifi, tetapi sebenarnya dapat ditemukan di alam secara alami, yaitu pada sinar matahari.

Secara umum, terdapat dua jenis gelombang elektromagnetik, yaitu radiasi elektromagnetik tingkat rendah atau radiasi non-ionisasi dan radiasi elektromagnetik tingkat tinggi atau radiasi terionisasi.

Gelombang elektromagnetik tingkat rendah dapat ditemukan pada ponsel, wifi, microwave, dan sebagainya, sementara gelombang elektromagnetik tingkat tinggi ditemukan pada x-ray, sinar ultraviolet matahari, dan sebagainya.

Ketika seseorang mengalami kerusakan sel dan gangguan pada sistem saraf akibat paparan radiasi elekromagnetik yang berlebih, maka beberapa gejala yang dapat dialami adalah:

  • Kurangnya konsentrasi
  • Pusing
  • Kelelahan
  • Gangguan tidur, termasuk insomnia
  • Sensasi sakit atau gatal
  • Sakit kepala
  • Gangguan pada memori
  • Depresi atau mengalami gejala depresi
  • Mudah kesal
  • Kulit yang terasa terbakar atau menggelitik
  • Perubahan pada aktivitas elektrik di otak
  • Gelisah dan cemas
  • Turunnya nafsu makan dan berat badan
  • Mual

Namun, Anda tentunya perlu untuk berkonsultasi ke dokter ketika mengalami gejala di atas, untuk menjalani pemeriksaan lebih pasti, karena apa yang dialami bisa jadi disebabkan oleh kondisi atau faktor lainnya.

Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi efek dari radiasi elektromagnetik? 

Teknologi sudah tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari, tetapi itu tidak berarti Anda tidak boleh menggunakan benda-benda elektronik sama sekali, karena benda-benda elektronik masih memiliki kadar radiasi elektromagnetik yang rendah.

Anda dapat meminimalisasi terkena radiasi elektromagnetik dengan mengurangi pemaparannya, seperti:

  • Menaruh ponsel atau benda elektronik lainnya di tempat lain ketika tidak digunakan
  • Menggunakan alat pengeras suara (speaker) atau earphone yang masih menggunakan kabel daripada headphone bluetooth
  • Hindari meletakkan benda-benda elektronik di kantong celana atau baju
  • Jangan meletakkan ponsel di bawah bantal ketika tidur

Anda perlu menghindari terpapar radiasi elektromagnetik tingkat tinggi, seperti menjalani pemeriksaan x-ray dan berjemur di bawah matahari dalam jangka waktu yang lama dan berulang.

Elsevier. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0013935118300355
Diakses pada 10 September 2019

EMFscientist.org. https://www.emfscientist.org/index.php/emf-scientist-appeal 
Diakses pada 10 September 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/emf#protection
Diakses pada 10 September 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health-news/are-wireless-headphones-dangerous
Diakses pada 10 September 2019

Science Direct. https://www.sciencedaily.com/releases/2017/12/171213095534.htm
Diakses pada 10 September 2019

National Toxicology Program. https://www.niehs.nih.gov/health/materials/cell_phone_radiofrequency_radiation_studies_508.pdf
Diakses pada 10 September 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24280284
Diakses pada 10 September 2019

WHO. https://www.iarc.fr/wp-content/uploads/2018/07/pr208_E.pdf
Diakses pada 10 September 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed