Selain gigitan anjing, ada gigitan hewan lainnya yang menjadi penyebab rabies
Gigitan anjing bukan satu-satunya penyebab rabies

Dahulu, rabies sempat menggemparkan dunia karena selain berpotensi tinggi menyebabkan kematian, rabies juga mampu membuat penderitanya menjadi agresif dan berperilaku dengan tidak sewajarnya.

Meskipun jarang terjadi tetapi salah satu sarana yang diyakini menjadi penyebab rabies adalah gigitan anjing, sampai-sampai di Indonesia, rabies dikenal sebagai penyakit anjing gila. Apakah memang gigitan anjing adalah penyebab rabies?

Apakah penyebab rabies adalah karena digigit anjing?

Faktanya, penyebab rabies adalah infeksi virus rabies yang menular melalui saliva atau air liur dari hewan atau manusia yang menderita rabies. Oleh karenanya, gigitan anjing tidak tepat dinyatakan sebagai satu-satunya penyebab rabies.

Air liur dari anjing yang terinfeksi yang menjadi penyebab rabies. Penyakit anjing gila juga dapat dialami ketika air liur dari hewan atau manusia yang terinfeksi rabies terpapar pada luka di kulit.

Pada kasus tertentu, penyakit rabies dapat menular melalui transplantasi organ dari penderita rabies. Anda tidak akan mengalami penyakit rabies dengan kontak kulit, atau karena terpapar darah, tinja, atau urine hewan atau manusia yang menderita rabies. Namun pastikan Anda tidak memiliki luka di kulit.

Selain anjing, hewan lain yang berpotensi menularkan rabies melalui air liurnya adalah sigung, rubah, kelelawar, dan rakun. Meskipun demikian, kebanyakan kasus rabies ditularkan melalui gigitan anjing.

Apa yang terjadi saat seseorang terkena rabies?

Virus penyebab rabies akan masuk ke dalam sistem saraf pusat dan dapat mengakibatkan gangguan pada otak dan kematian. Umumnya, virus penyebab rabies akan mulai memunculkan gejalanya sekitar seminggu atau beberapa bulan setelah terinfeksi.

Akan tetapi, gejala rabies juga bisa muncul beberapa hari setelah sudah terinfeksi virus penyebab rabies. Saat Anda digigit anjing atau hewan lainnya yang menderita rabies, bagian luka akan terasa menggelitik, panas, tertusuk-tusuk, atau berdenyut-denyut.

Gejala utama dari penyakit rabies adalah kemunculan perilaku yang agresif, hiperaktif, serta fobia terhadap air dan udara. Beberapa hari setelah gejala ini muncul, penderita dapat meninggal akibat masalah di pernafasan dan jantung.

Tidak semua penderita rabies menunjukkan perilaku agresif, terdapat beberapa penderita yang malah mengalami kelumpuhan pada otot, dimulai pada daerah tempat penderita mengalami luka atau gigitan. Setelahnya, penderita dapat mengalami koma dan akhirnya kematian.

Beberapa gejala lain yang bisa timbul akibat infeksi dari virus penyebab rabies adalah:

  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Rasa sakit.
  • Kegelisahan kejang otot.
  • Kebingungan
  • Pemikiran yang abnormal.
  • Kelelahan.
  • Halusinasi.
  • Kesulitan untuk berbicara.
  • Sensitif terhadap suara, cahaya, atau sentuhan.
  • Peningkatan produksi air mata atau air liur.

Sementara itu, bila gejala rabies sudah berkembang menjadi lebih parah, penderita dapat mengalami tanda-tanda berupa:

  • Kesulitan menggerakkan otot wajah;
  • Munculnya busa dalam mulut akibat kesulitan menelan dan peningkatan produksi air liur yang meningkat.
  • Penglihatan berbayang.
  • Pergerakan abnormal pada otot diafragma dan otot yang mengendalikan pernapasan

Apa yang harus dilakukan jika seseorang tergigit anjing yang menderita rabies?

Saat seseorang tergigit anjing ataupun hewan lain yang dicurigai menderita rabies, maka luka bekas gigitan harus segera dibilas di bawah air mengalir.

Luka bekas gigitan perlu dicuci selama minimal 15 menit dengan air dan sabun, deterjen, povidone iodine, serta senyawa lainnya yang mampu membunuh virus penyebab rabies.

Setelahnya, penderita harus dibawa ke rumah sakit untuk disuntikkan vaksin rabies dan diinjeksi rabies immunoglobulin untuk menghindari virus penyebab rabies masuk ke sistem saraf pusat.

Selalu segera bawa penderita gigitan anjing atau hewan lainnya ke dokter untuk menghindari perkembangan gejala dari virus penyebab rabies dalam tubuh.

CDC. https://www.cdc.gov/rabies/transmission/index.html
Diakses pada 17 Desember 2019

CDC. https://www.cdc.gov/rabies/index.html
Diakses pada 17 Desember 2019

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/13848-rabies
Diakses pada 17 Desember 2019

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/rabies
Diakses pada 17 Desember 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed