Terapi urine dipercaya bisa maksimalkan manfaat air kencing untuk kesehatan tubuh
Terapi urine dengan mengambil manfaat air kencing masih sering dilakukan

Pernah dengar orang yang minum air kencingnya sendiri untuk menyembuhkan penyakit? Ini mungkin terdengar menjijikan. Namun nyatanya, metode yang disebut terapi urine ini sudah dicoba banyak orang dan bahkan berakar sejak ribuan tahun yang lalu. Orang yang menjalaninya percaya, bahwa mafaat air kencing untuk kesehatan bukanlah isapan jempol belaka.

Masalahnya, apakah terapi urine benar-benar aman dilakukan? Pasalnya hingga saat ini belum ada penelitian yang menyebutkan secara jelas manfaat terapi urine. Justru minum air seni bisa meningkatkan risiko masuknya bakteri, racun, dan zat berbahaya lainnya ke dalam aliran darah.

Lebih jauh tentang terapi urine

Terapi urine ternyata sudah mulai dilakukan sejak ribuan tahun lalu. Menurut catatan yang ada, memanfaatkan air kencing sebagai obat telah digunakan sejak kerajaan Yunani, Mesir, dan Romawi masih berkuasa.

Mereka percaya, mengonsumsi air seni sendiri bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sebab, urine yang keluar dari dalam tubuh disebut mengandung berbagai zat yang bermanfaat.

Padahal nyatanya, sebagian besar urine sebagian terdiri dari air. Selain air, urine juga mengandung urea, asam urat, kreatinin, elektrolit, fosfat, dan asam organik dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Cairan ini mengandung protein, tapi jumlahnya sangat sedikit dan tidak signifikan untuk memengaruhi fungsi apapun di tubuh.

Orang yang menjalani terapi urine pun mengklaim bahwa air seni yang keluar dari dalam tubuh kita dalam kondisi steril. Hal tersebut tidak tepat. Memang, saat urine berada di dalam ginjal, kondisinya masih steril. Namun begitu urine tersebut sudah keluar dari tubuh, cairan ini tidak lagi steril.

Meski tidak beracun, urine pun menjadi tidak steril dan bersih setelah berada di luar tubuh. Sebab, sebersih apapun area genital kita, tetap saja ada bakteri-bakteri yang memang secara normal memang menetap di sana.

Mitos manfaat terapi urine

Klaim yang ada seputar manfaat terapi urine terdengar begitu mentereng. Bahkan, metode ini disebut dapat menyembuhkan berbagai penyakit berbahaya. Beberapa kondisi lain yang dipercaya dapat disembuhkan dengan terapi urine antara lain:

Melihat manfaat di atas, tidak mengherankan banyak orang yang tertarik untuk menjalaninya. Namun sekali lagi, belum ada penelitian yang bisa membuktikan efek positif terapi urine untuk kesehatan.

Risiko menjalani terapi urine

Urine yang keluar dari tubuh memang tidak beracun. Namun, tergantung dari kondisi tubuh Anda, urine yang keluar bisa saja mengandung berbagai zat yang justru bisa berbahaya bagi kesehatan, seperti:

1. Bakteri

Tubuh kita itu sarang bakteri, bakteri baik maupun bakteri penyebab penyakit. Tidak terkecuali saluran kencing yang juga mengandung berbagai jenis bakteri. Pada kondisi normal, bakteri tersebut tidak berbahaya. Namun saat jumlahnya berlebih, bisa lain cerita.

Saat urine keluar dari saluran kencing, maka cairan ini otomatis akan terpapar bakteri yang ada di saluran maupun bakteri di sekitar area genital. Jika urine tersebut kemudian diminum, maka urine yang sudah terpapar bakteri itu akan masuk ke tubuh, menambah jumlah bakteri dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi atau gangguan pencernaan.

2. Zat sisa

Tubuh mengeluarkan urine bukan tanpa alasan. Tentu, karena zat yang ada di dalam urine tidak lagi dibutuhkan tubuh. Urine mengandung produk sisa metabolisme yang disaring dari darah di dalam tubuh. Produk sisa metabolisme memang harus dikeluarkan dari tubuh. Sebab jika tetap ada di dalam, sisa metabolisme ini bisa memicu terjadinya penyakit.

Jika urine tersebut kembali Anda minum, maka zat yang seharusnya sudah keluar dari tubuh tadi kembali masuk. Sehingga, lagi-lagi ginjal harus menyaringnya keluar. Hal ini justru akan memperberat kerja ginjal.

3. Obat-obatan

Minum air kencing juga tidak disarankan apalagi jika Anda rutin mengonsumsi obat-obatan. Obat yang masuk ke tubuh akan menjalani proses pengolahan agar bisa diserap. Sementara itu, sisa-sisa bahan metabolisme yang tidak diserap akan dikeluarkan melalui urine.

Sehingga, jika Anda minum cairan tersebut, maka tandanya Anda kembali mengonsumsi bahan-bahan obat yang sudah dikeluarkan. Akibatnya, dosis obat di dalam tubuh jadi berubah, sehingga kerjanya tidak efektif.

Bagi Anda yang ingin menjalani terapi urine atau mencoba manfaat air kencing, sebaiknya pikir dua kali. Jangan sampai usaha untuk menjadi lebih sehat justru memberikan hasil sebaliknya.

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3032615/
Diakses pada 3 Maret 2020

Medicinet. https://www.medicinenet.com/urine_therapy/views.htm
Diakses pada 3 Maret 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/drinking-urine
Diakses pada 3 Maret 2020

Artikel Terkait