Belum Tua Tapi Sudah Pelupa? Coba Cari Tahu Apa Penyebabnya


Otak punya kapasitas terbatas untuk menyimpan dan mengingat kembali berbagai hal. Bahkan faktanya, ada banyak hal yang memicu seseorang menjadi pelupa, mulai dari gaya hidup hingga melupakan ingatan secara sengaja.

(0)
15 Apr 2021|Azelia Trifiana
Ada beberapa faktor yang membuat seseorang pelupaAda beberapa faktor yang membuat seseorang pelupa, mulai dari penyakit hingga yang disengaja
Bagi si pelupa, ada banyak sekali cara jitu hingga makanan yang disebut bisa menambah daya ingat. Namun sebenarnya, lebih krusial menelusuri apa penyebab lupa yang terjadi terus menerus. Ada kondisi sering lupa yang wajar, ada pula yang sudah menjadi sinyal terjadinya penurunan fungsi otak.Namun jangan khawatir, Anda tidak sendiri. Menurut penelitian tahun 2015, sebuah informasi akan terlupakan 65% dalam waktu 1 jam, 66% setelah memasuki hari berikutnya, bahkan 75% berselang 6 hari kemudian.

Penyebab sering lupa

Otak punya kapasitas terbatas untuk menyimpan dan mengingat kembali berbagai hal. Bahkan faktanya, ada banyak hal yang memicu seseorang menjadi sering lupa akan sesuatu, seperti:

1. Teori kerusakan

Dalam dunia medis ada istilah decay theory atau teori kerusakan, yaitu anggapan bahwa informasi yang jarang atau tidak pernah digunakan perlahan rusak atau hilang dengan sendirinya. Inilah yang membuat seseorang seperti sulit mengingat kembali hal yang pernah ada di ingatannya.Menurut teori ini, jejak memori akan kembali terbentuk setiap kali seseorang menjalani pengalaman baru. Dari waktu ke waktu, jejak ini akan memudar hingga akhirnya hilang. Jika tidak dilatih atau diingat kembali, maka akan hilang sepenuhnya.Meski demikian, ada bantahan dari teori ini bahwa informasi yang tidak digunakan atau diingat pun tetap akan ada di bagian memori jangka panjang otak.

2. Gangguan (interferensi)

Beberapa orang bisa saja menjadi pelupa ketika ada fenomena berupa interferensi. Artinya, beberapa ingatan akan bersaing dan tercampur dengan memori lainnya.Lebih jauh lagi, ada 2 jenis interferensi yaitu:
  • Proaktif

Ketika ingatan lebih lama membuat seseorang lebih sulit bahkan mustahil menyimpan informasi baru
  • Retroaktif

Ketika informasi baru mengganggu kemampuan mengingat informasi yang sudah ada sebelumnyaMenurut hasil penelitian tahun 2012, tindakan mengingat sesuatu bisa membuat hal lain terlupakan. Fenomena retrieval-induced forgetting ini juga kerap terjadi ketika ingatannya serupa.Namun, hal ini bersifat adaptif. Artinya ketika sudah pernah terjadi, kemungkinan terulang di kemudian hari lebih kecil.

3. Gagal menyimpan memori baru

Terkadang, penyebab sering lupa bisa juga terjadi karena memang informasi itu tidak pernah tersimpan di memori jangka panjang. Dalam sebuah eksperimen klasik, para peneliti meminta partisipan mengidentifikasi gambar koin dolar AS yang benar. Menariknya, meski sehari-hari mereka familiar dengan koin ini, ternyata justru sulit mengingat detailnya.Alasannya karena hanya detail penting saja yang disimpan dalam memori jangka panjang. Gambar detail atau kata-kata yang tercetak di koin tidak termasuk. Informasi semacam ini tidak diperlukan dalam transaksi sehingga dinilai kurang penting.

4. Lupa yang disengaja

Terkadang, seseorang berusaha secara aktif melupakan sesuatu, terutama yang bersifat traumatis atau mengganggu. Kenangan yang kelam ini bisa menyebabkan kecemasan atau marah. Proses melupakan yang dimotivasi ini bisa terjadi lewat supresi (dengan sadar) atau represi (tanpa sadar).Meski demikian, tidak semua psikolog menerima represi ingatan. Alasannya, sulit – bahkan tidak mungkin – memelajari apakah sebuah memori telah mengalami represi sebelumnya.Selain itu, ingat pula bahwa aktivitas mental seperti mengingat dan mengulang sesuatu adalah cara untuk mempertajam daya ingat. Hal-hal yang menyakitkan atau traumatis tidak akan diingat atau diulang dengan sengaja, apalagi didiskusikan.Bahkan, melupakan ingatan kelam seperti kekerasan terhadap perempuan membantu seseorang berdamai dengan lebih baik. Mengingat kenangan semacam itu secara detail dapat menyamarkan emosi yang melekat pada kejadian itu.

5. Gaya hidup

Kebiasaan buruk terlalu banyak mengonsumsi alkohol, kurang tidur, stres, hingga depresi adalah bisa berpengaruh terhadap daya ingat seseorang. Terlebih tidur merupakan aktivitas yang berperan penting bagi konsolidasi memori sehingga bahaya jika kualitas tidur menurun.Konsumsi obat tertentu juga bisa berpengaruh terhadap ingatan, seperti antidepresan, obat alergi, dan obat penenang. Diskusikan dengan dokter apabila konsumsi obat dirasa berpengaruh pada daya ingat.

Catatan dari SehatQ

Lupa adalah kondisi berubah atau hilangnya informasi yang tadinya tersimpan dalam memori jangka pendek maupun jangka panjang. Bisa terjadi mendadak, bisa pula bertahap ketika memori yang lebih lama seperti masa kecil mulai hilang.Sebenarnya ini normal. Namun ketika terjadi terus menerus atau polanya tidak biasa, bisa jadi merupakan sinyal terjadinya hal yang lebih serius.Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menguranginya bisa dengan aktif bergerak, tidur cukup, mengasah ingatan, hingga menuangkannya dalam bentuk tulisan.Untuk berdiskusi lebih lanjut apakah kondisi pelupa ini masih wajar atau sudah serius, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gangguan mentalkesehatan mentalkesehatan otak
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/explanations-for-forgetting-2795045
Diakses pada 1 April 2021
Memory & Cognition. https://link.springer.com/article/10.3758%2Fs13421-012-0211-7
Diakses pada 1 April 2021
Cognitive Psychology. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/0010028579900136?via%3Dihub
Diakses pada 1 April 2021
PLOS One. https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0120644
Diakses pada 1 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait