Begini Proses Menstruasi yang Terjadi pada Wanita


Proses menstruasi terjadi dalam satu siklus yang terdiri dari 4 fase, yaitu fase menstruasi, fase folikular, fase ovulasi, dan fase luteal. Berjalannya fase tersebut diatur oleh hormon agar siklus bisa tetap teratur.

(0)
16 Mar 2021|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Proses menstruasi terjadi dalam 4 fase selama kurang lebih 21-35 hariProses menstruasi terjadi dalam 4 fase yaitu fase menstruasi, folikular, ovulasi, dan luteal
Proses menstruasi adalah keluarnya darah dari vagina akibat dinding rahim yang luruh karena sel telur di rahim, tidak dibuahi oleh sperma. Menstruasi umumnya terjadi setiap 28 hari sekali. Namun setiap wanita memiliki durasi siklus yang berbeda-beda.Siklus menstruasi merupakan siklus hormonal yang terjadi setiap bulan di tubuh wanita untuk mempersiapkan kehamilan. Saat kehamilan tidak terjadi, maka persiapan yang sudah dibuat tadi akan luruh dan keluar sebagai darah dan disebut sebagai menstruasi atau haid.

Proses yang terjadi pada siklus menstruasi

Proses terjadinya menstruasi disebut sebagai siklus menstruasi dan terbagi dalam 4 fase
Proses menstruasi biasanya berlangsung antara 21-35 hari
Proses menstruasi terjadi dalam empat fase yang pada kondisi normal, akan berulang setiap bulan. Siklus menstruasi dimulai dari hari pertama menstruasi dan berakhir di hari pertama menstruasi bulan berikutnya.Setiap wanita memiliki durasi siklus menstruasi yang berbeda-beda. Normalnya, siklus ini berlangsung antara 21-35 hari dan rata-rata perempuan memiliki siklus dengan durasi 28 hari.Selama siklus tersebut berlangsung, ada empat fase yang dilalui tubuh, yaitu fase menstruasi, fase folikular, fase ovulasi, dan fase luteal. Setelah fase luteal selesai, tubuh akan langsung masuk ke fase menstruasi dan siklus ini akan terus berulang hingga wanita mengalami menopause.

1. Fase menstruasi

Fase menstruasi merupakan fase pertama dari siklus menstruasi. Mulainya fase ini ditandai dengan keluarnya darah haid dari vagina. Darah yang keluar merupakan jaringan dinding rahim yang luruh karena kehamilan tidak terjadi.Setiap bulannya, tubuh wanita yang masih masuk ke dalam masa subur akan secara otomatis mempersiapkan diri untuk menyambut kehamilan.Oleh karena itu, jika sewaktu-waktu sel telur yang ada telah dibuahi oleh sperma, tubuh sudah lebih siap untuk menjaga Si Jabang Bayi sehingga bisa tumbuh dengan aman.Salah satu persiapan yang dilakukan oleh tubuh adalah menebalkan dinding rahim. Sebab, saat sel telur berhasil dibuahi, sel ini kemudian akan menempel di dinding rahim dan tumbuh di sana sampai akhirnya menjadi janin.Apabila kehamilan tidak terjadi, maka dinding rahim yang sudah terlanjur menebal tadi berarti tidak jadi digunakan. Alhasil, jaringan-jaringannya akan meluruh dengan sendirinya.Luruhan tersebut keluar sebagai darah yang kemudian kita kenal sebagai darah menstruasi.Itulah alasannya wanita tidak akan mengalami menstruasi saat hamil. Sebab, jaringan dinding rahim yang menebal tadi benar-benar digunakan sebagai tempat tumbuhnya calon bayi.

2. Fase folikular

Fase folikular merupakan fase kedua dalam proses menstruasi. Dimulainya fase ini ditandai dengan pelepasan follicle stimulating hormone (FSH) oleh kelenjar pituitari.Dengan adanya hormon tersebut, indung telur akan mulai memproduksi kantung-kantung kecil bernama folikel, berisi sel telur yang belum matang.Sel telur tersebut kemudian akan melalui proses pematangan dan selama proses ini, tidak semua sel yang ada akan bertahan. Hanya sel paling sehat lah yang akan benar-benar matang. Sementara itu sel yang lain akan diserap oleh tubuh.Proses pematangan ini biasanya akan berlangsung selama 16 hari. Namun rentang normal fase folikular beragam antara 11 – 27 hari, tergantung dari lama siklus menstruasi Anda.

3. Fase ovulasi

Saat sel telur sudah matang, kadar hormon estrogen di tubuh akan mulai meningkat. Peningkatan estrogen ini kemudian akan memicu kelenjar pituitari melepas luteinizing hormone (LH). Adanya LH inilah yang menjadi awal dari fase ovulasi.Ovulasi adalah proses pelepasan sel telur yang sudah matang dari indung telur ke tuba falopi menuju rahim agar bisa dibuahi oleh sperma. Di fase ovulasi inilah seorang wanita dikatakan sedang mengalami masa subur.Jika Anda berhubungan seks pada fase ovulasi tanpa menggunakan alat kontrasepsi, maka potensi kehamilannya pun tinggi.Sel telur yang dilepaskan saat ovulasi akan bertahan di rahim selama 24 jam. Setelah itu, sel akan mati atau larut ke jaringan-jaringan di sekitarnya.Meski begitu, bukan berarti Anda hanya punya kemungkinan hamil satu hari dalam sebulan. Pasalnya, sperma bisa bertahan hingga lima hari di dalam rahim.Oleh karena itu, jika Anda berhubungan intim tiga atau empat hari sebelum ovulasi terjadi, pembuahan sel telur masih bisa terjadi dan kemungkinan untuk hamil pun masih ada.Pada wanita yang memiliki siklus haid 28 hari, ovulasi biasanya akan terjadi di hari ke-14.

4. Fase luteal

Fase luteal ditandai dengan terbentuknya corpus luteum yang berasal dari folikel tempat sel telur matang berada.
Setelah sel telur tersebut dipelaskan ke rahim, folikel akan berubah menjadi corpus luteum dan mengeluarkan hormon, terutama estrogen serta progesteron.
Naiknya kadar kedua hormon tersebut akan memicu penebalan dinding rahim yang nantinya akan dijadikan sebagai tempat implantasi atau menempelnya sel telur jika berhasil dibuahi oleh sperma.Jika kehamilan berhasil terjadi, tubuh akan memproduksi human chorionic gonadotropin (hCG), sebagai hormon yang hanya ada pada saat hamil. Hormon inilah yang biasanya terdeteksi pada alat-alat tes kehamilan.Hormon ini akan membantu mengatur corpus luteum agar terus berfungsi mengeluarkan hormon yang diperlukan sekaligus menjaga dinding rahim tetap tebal.Sebaliknya, jika kehamilan tidak berhasil terjadi, corpus luteum akan menyusut dan diserap oleh tubuh. Saat struktur tersebut hilang, maka kadar estrogen dan progesteron akan menurun dan memicu luruhnya dinding rahim.Ketika jaringan dinding rahim mulai luruh, fase menstruasi akan dimulai dan siklus pun akan berulang alias kembali ke tahap awal.Baca Juga: Cara Mempercepat Datang Bulan yang Aman dan Alami

Hormon yang berperan dalam proses menstruasi

Hormon estrogen adalah salah satu hormon yang berperan dalam proses menstruasi
Hormon estrogen salah satu hormon yang berperan dalam proses menstruasi
Proses menstruasi bisa berjalan dengan baik karena ada hormon yang mengaturnya. Berikut ini hormon yang berperan dalam setiap fase menstruasi.

• Hormon estrogen

Estrogen adalah hormon yang berperan untuk menumbuhkan dan mematangkan dinding rahim yang menebal dalam fase luteal. Saat masuk fase ini, kadar estrogen di tubuh akan meningkat.Memasuki fase menstruasi, kadar estrogen akan kembali menurun karena tubuh tidak lagi membutuhkannya untuk menebalkan dinding rahim.Sebagian besar estrogen di tubuh diproduksi di indung telur dan sebagian kecilnya dihasilkan di kelenjar adrenal serta jaringan lemak.

• Hormon progesteron

Progesteron adalah hormon yang berperan besar saat fase luteal. Pada fase ini, hormon progesteron akan mengontrol pertumbuhan dinding rahim agar tidak berlebihan sekaligus menjaga strukturnya apabila kehamilan benar-benar terjadi.Sementara itu, apabila kehamilan tidak terjadi, kadarnya akan menurun saat tubuh sudah memasuki fase menstruasi.

• Follicel stimulating hormone (FSH)

Follicel stimulating hormone (FSH) adalah hormon yang diproduksi di kelenjar pituitari pada otak, dan bertugas untuk menstimulasi folikel di indung telur untuk mematangkan sel telur.Dimulainya produksi hormon FSH menandai awal fase folikular yang biasanya akan berlangsung selama 16 hari.

• Luteinizing hormone (LH)

Sama seperti FSH, LH juga diproduksi di kelenjar pituitari. Dengan adanya LH, sel telur yang sudah dimatangkan oleh FSH akan dilepaskan ke rahim dan sehingga bisa dibuahi, menandai dimulainya fase ovulasi.

Proses menstruasi yang normal dan tidak normal

Proses menstruasi yang normal dan tidak normal bisa dilihat dari gejala yang muncul
Proses menstruasi yang tidak normal adalah yang tidak teratur
Proses menstruasi yang normal bisa dilihat dari durasi siklus dan lama fase menstruasi berlangsung.Siklus menstruasi yang normal berlangsung selama 21-35 hari. Namun, jika siklus Anda lebih sebentar atau lama dari durasi tersebut, bukan berarti pasti ada gangguan yang terjadi. Siklus menstruasi tidak teratur bisa dipicu oleh beberapa hal dan tidak semuanya berbahaya.Darah menstruasi biasanya akan keluar sepanjang dua hingga tujuh hari. Selama fase menstruasi dan beberapa hari sebelumnya, sebagian wanita mengalami gejala seperti nyeri dan kram perut. Namun, sebagian lainnya melewati siklus menstruasinya tanpa merasakan gejala.Definisi normal pada proses menstruasi bisa dibilang luas. Proses yang normal di tubuh Anda, belum tentu normal di tubuh orang lain begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, saat gangguan siklus haid terjadi, diperlukan diagnosis dari dokter untuk memastikan penyebabnya.Periksakan diri Anda ke dokter apabila dalam proses menstruasi, muncul hal-hal seperti di bawah ini.
  • Menstruasi tiba-tiba berhenti selama lebih dari tiga bulan, padahal Anda tidak sedang hamil.
  • Siklus menstruasi tiba-tiba berantakan padahal sebelumnya teratur.
  • Darah haid keluar lebih dari tujuh hari.
  • Volume darah haid yang keluar sangat banyak, sehingga Anda harus mengganti tampon atau pembalut setiap jam atau dua jam sekali.
  • Siklus menstruasi terjadi lebih cepat atau lebih lambat dari kondisi normal.
  • Anda mengalami perdarahan di tengah-tengah siklus menstruasi.
  • Tiba-tiba merasa demam dan sakit setelah menggunakan tampon
Anda juga bisa berdikusi lebih lanjut soal proses menstruasi atau gangguan kesehatan yang berkaitan dengan reproduksi secara langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
siklus haidhaidmenstruasi
Healthline. https://www.healthline.com/health/womens-health/stages-of-menstrual-cycle
Diakses pada 2 Maret 2021
Womens Health. https://www.womenshealth.gov/menstrual-cycle/your-menstrual-cycle
Diakses pada 2 Maret 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/womens-health/in-depth/menstrual-cycle/art-20047186
Diakses pada 2 Maret 2021
Women in Balance. https://womeninbalance.org/about-hormone-imbalance/
Diakses pada 2 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait