Beda Tipis, Ini yang Membedakan Selfishness dan Self-Care


Setiap individu punya hak untuk merawat dirinya sendiri atau self-care, itu pasti. Hanya saja, batasan antara memerhatikan diri sendiri dengan selfishness sangatlah tipis. Perbedaan utamanya adalah pada motif.

(0)
17 Mar 2021|Azelia Trifiana
Selfishness dan self-care adalah dua hal berbedaSelfishness dan self-care adalah dua hal berbeda
Setiap individu punya hak untuk merawat dirinya sendiri atau self-care, itu pasti. Hanya saja, batasan antara memerhatikan diri sendiri dengan selfishness sangatlah tipis. Perbedaan utamanya adalah ketika berlaku egois, Anda turut menyeret orang lain untuk menyesuaikan keinginan diri sendiri.Inilah yang membedakan self-care dengan tindakan selfish. Jadi, sebelum berlindung di balik kedok merawat diri sendiri, perhatikan dulu apakah ada hak orang lain yang terganggu karenanya?

Beda selfishness dan self-care

Sebagai makhluk sosial, ada ranah orang lain yang harus dihormati. Apabila ranah ini terusik, bisa jadi pemicunya adalah karena Anda bersikap egois. Orang lain bisa saja melayangkan protes atau kritis sebagai respons.Namun, tak jarang seorang individu berdalih bahwa itu bukanlah keegoisan, melainkan cara untuk merawat diri sendiri. Terlebih, kampanye tentang mencintai diri sendiri ini semakin populer dalam kaitannya dengan kesehatan mental.Ini salah.Beberapa perbedaan utama selfishness dan self-care adalah:

1. Tidak melibatkan moral

Tindakan egois terkadang bisa kelewat batas karena tidak ada pertimbangan moral di dalamnya. Orang yang baik idealnya akan berpikir tentang orang lain terlebih dahulu, bahkan tak segan memberikan apa yang diperlukan sesama.Namun bagi orang yang bersikap egois, ini mustahil terjadi. Hal yang menjadi prioritas utama adalah dirinya sendiri. Bahkan apabila tindakannya merugikan orang lain, mereka tak akan ambil pusing karena tak ada pertimbangan moral yang dipikirkan.

2. Justru buruk untuk kesehatan mental

Mencegah lebih baik ketimbang mengobati, itu berarti bagi orang yang melakukan self-care agar tidak menjadi depresi atau mengalami kecemasan berlebih. Itulah sebabnya, setiap orang disarankan menemukan cara mereka sendiri untuk memanjakan diri baik dengan menjalani hobi, menyendiri, hingga meditasi.Di sisi lain, selfishness justru berdampak buruk bagi kesehatan mental orang yang melakukannya. Relasi sosial dengan orang lain bisa jadi buruk. Dalam jangka panjang, konflik demi konflik ini akan memicu stres dan membuat keegoisan semakin menjadi-jadi.

3. Menutup diri dari sekitar

Perhatikan pula kehidupan sosial orang yang berlaku egois. Mereka seakan menjadi hama yang dijauhi orang sekitarnya. Jelas saja, siapa yang mau terus-terusan menjadi korban dan harus menuruti keegoisannya?Lambat laun, kondisi ini akan membuat orang yang selfish semakin menutup diri dari sekitar. Mereka semakin merasa tak peduli pada apa yang terjadi di sekitarnya.Bandingkan dengan sosok orang yang melakukan self-care secara berkala. Sah-sah saja bagi mereka untuk menikmati me-time seorang diri. Namun setelah itu, mereka kembali berfungsi sebagai makhluk sosial yang baik dan menyenangkan.

4. Merugikan orang lain

Perbedaan paling signifikan dari self-care dan selfishness adalah konsekuensinya. Sebagai contoh, seorang karyawan yang mengambil cuti untuk beristirahat setelah banyak lembur berarti sedang melakukan self-care.Namun di sisi lain, orang yang egois tak akan segan meninggalkan pekerjaannya hingga merepotkan rekan sekantor. Mungkin mendadak, disengaja, tanpa alasan, hingga menghilang tanpa ada kabar. Jelas, tindakan semacam ini sangat merugikan orang lain.

5. Bersikap manipulatif

Terkadang, orang egois bisa bertindak manipulatif demi mendapatkan keinginannya. Mereka bisa bersikap seakan-akan peduli kepada orang lain padahal hasil akhir yang menjadi target adalah kepentingannya sendiri. Sayangnya, sikap manipulatif ini kerap kali menjebak orang yang dekat dengannya.Sementara orang yang murni merawat dirinya sendiri, tak akan terpikir sama sekali untuk bersikap manipulatif. Alasannya karena memang apa yang dilakukannya hanya untuk menyenangkan diri, tanpa merugikan kepentingan orang lain.

6. Ada unsur paksaan

Pada dasarnya, setiap interaksi seorang individu dengan lainnya bersifat transaksional. Bukan selalu dalam bentuk uang, namun bisa juga dengan hal-hal yang tak kasat mata. Selama seluruh pihak yang terlibat tak keberatan, maka itu bukan masalah.Namun sayangnya, ketika seseorang bersikap egois, ada unsur paksaan dalam hubungan transaksional. Ketika terpaksa, artinya apa yang dilakukannya bukan murni keinginan diri sendiri.

7. Tidak ada empati

Selaras dengan seluruh perbedaan di atas, selfishness juga tentunya tidak melibatkan empati di dalamnya. Kepentingan yang menjadi prioritas adalah diri sendiri, namun bukan demi menjadi sosok lebih baik.Bedakan dengan prosedur keselamatan di pesawat yang mengharuskan kita memakai masker oksigen untuk diri sendiri baru menolong orang lain. Tujuannya bukan untuk berebut siapa yang selamat dan tidak, namun agar bisa tetap bernapas dan membantu mereka yang belum bisa menolong diri sendiri seperti anak-anak.Sebaliknya pada orang yang bersikap egois, tidak ada pertimbangan tentang apakah orang lain akan dirugikan atas apa yang dilakukannya atau tidak. Diri sendiri tetap menjadi prioritas, dengan mengabaikan orang lain.

Catatan dari SehatQ

Jadi, sudah jelas bahwa self-care dan selfishness adalah hal yang sangat bertentangan. Sayangnya, sikap egois ini terkadang menjadi benalu yang merugikan orang-orang di sekitarnya. Bahkan, bisa jadi konsekuensinya berlangsung hingga jangka panjang.Bentuk self-care tidak hanya harus dengan aktivitas menyenangkan. Berani berkata tidak dan membatasi diri agar tidak terseret orang-orang egois alias toxic juga merupakan bentuk apresiasi terhadap diri sendiri.Untuk berdiskusi lebih lanjut tentang keterkaitan kedua hal di atas dengan kesehatan mental, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
kesehatan mentalmenjalin hubunganpola hidup sehat
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-legacy-distorted-love/201302/is-self-care-selfish
Diakses pada 1 Maret 2021
Harvard Business Review. https://hbr.org/1989/05/how-selfish-are-people-really
Diakses pada 1 Maret 2021
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/cui-bono/201501/good-neutral-and-bad-selfishness
Diakses pada 1 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait