Kenali Radang Kelenjar Susu (Mastitis), Penyebab, Gejala dan Cara Mencegahnya


Radang kelenjar susu atau mastitisyang umum terjadi pada ibu menyusui bisa disebabkan oleh banyak hal. Ini gejala, pengobatan dan pencegahan yang bisa dilakukan.

(0)
31 Jul 2019|Dina Rahmawati
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Penyebab radang kelenjar susu atau mastitis beragam salah satunya putting lecetRadang kelanjar susu atau mastitis menyebabkan payudara terasa sakit
Pada tahun 2018 silam, artis Shireen Sungkar dikabarkan pernah mengalami infeksi payudara atau mastitis saat memberikan ASI eksklusif kepada anak ketiganya. Mastitis adalah radang kelenjar susu yang biasanya disebabkan oleh infeksi. Selain infeksi, penyakit ini juga disebabkan oleh faktor lain seperti tersumbatnya saluran ASI.Ada beberapa hal yang dapat menjadi penyebab mastitis pada ibu menyusui. Lantas, apa saja pemicu tersebut? Bolehkah ibu yang mengalami mastitis menyusui bayinya?

Penyebab mastitis atau radang kelenjar susu

Mastitis biasanya terjadi pada ibu menyusui. Ketika mengalami mastitis, wanita akan merasakan payudaranya nyeri hingga bengkak. Kondisi ini sering terjadi dalam tiga bulan pertama setelah melahirkan.Mastitis terjadi ketika adanya bakteri yang masuk ke kelenjar susu karena kerusakan pada kulit di sekitar puting. Sementara, mastitis karena tersumbatnya saluran ASI terjadi ketika ASI mengalami penumpukan di payudara sehingga terjadilah peradangan.Bukan hanya itu, ada beberapa pemicu terjadinya mastitis yang harus Anda ketahui. Pemicu-pemicu tersebut meliputi:

1. Kulit puting yang lecet

Kulit puting yang lecet atau mengelupas membuat bakteri lebih mudah masuk ke dalam payudara ibu. Selain itu, kondisi ini juga bisa membuat ibu enggan untuk menyusui sehingga keduanya dapat memicu terjadinya mastitis.

2. Pengosongan payudara yang tidak sempurna

Saat malam hari, tidak jarang ibu menyusui sangat mengantuk sehingga ketika bayi ingin menyusu, pemberian ASI hanya dilakukan sebentar saja. Akibatnya, pengosongan ASI di payudara pun menjadi tidak sempurna dan dapat memicu terjadinya mastitis.

3. Frekuensi menyusui yang jarang atau waktu menyusui yang pendek

Ketika ibu jarang menyusui bayi atau hanya menyusui dalam waktu yang pendek, hal ini bisa memicu ibu mengalami radang payudara atau mastitis. Penumpukan ASI yang terjadi dapat menjadi penyebab radang payudara.

4. Pelekatan bayi yang kurang baik

Bayi yang hanya mengisap puting, tidak termasuk areola (kulit di sekitar puting), dapat menyebabkan puting ibu terhimpit di antara gusi dan bibir bayi sehingga aliran ASI tersalurkan secara tidak sempurna. Oleh sebab itu, hal ini bisa memicu terjadinya mastitis.

5. Jumlah ASI yang terlalu banyak

Jumlah ASI yang terlalu banyak dapat menyebabkan ASI sering menumpuk. Hal ini bisa memicu terjadinya radang kelenjar susu.

6. Berhenti menyusui dengan cepat atau mendadak

Ketika bepergian, bayi bisa merasa lapar sehingga ibu harus menyusuinya. Namun, jika ibu berhenti menyusui dengan cepat atau mendadak maka pengosongan ASI di payudara pun menjadi tidak sempurna dan memicu ibu berisiko mengalami mastitis.
Menyusui dengan satu payudara dapat memicu terjadinya mastitis

7. Menyusui dengan satu payudara

Menyusui dengan satu payudara dapat memicu terjadinya mastitis. Hal ini disebabkan karena satu payudara mengalami pengosongan ASI yang sempurna, sementara satu payudara lain mengalami penumpukan ASI.

8. Mengenakan bra yang ketat

Bra yang ketat bisa membuat puting tertekan atau tergesek sehingga mengalami luka. Hal ini bisa menyebabkan bakteri masuk dan memicu terjadinya mastitis.

9. Menggunakan krim puting

Penggunaan krim puting yang berlebihan dapat membuat bakteri dari mulut bayi menumpuk. Hal ini bisa jadi pemicu ibu mengalami radang kelenjar susu.

10. Kelelahan

Kelelahan dapat membuat sistem kekebalan tubuh ibu menyusui melemah sehingga rentan mengalami mastitis.

11. Malnutrisi

Jika ibu menyusui mengalami malnutrisi, maka daya tahan tubuhnya menjadi rendah. Daya tahan tubuh yang rendah bisa memicu terjadinya mastitis karena infeksi atau pengosongan ASI yang tidak sempurna.

12. Merokok

Merokok dapat merusak saluran susu sehingga membuat ibu menyusui lebih rentan terkena infeksi. Hal ini bisa menjadi pemicu terjadinya mastitis.Untuk mengatasi masalah ini, ibu menyusui dianjurkan untuk menjaga kebersihan payudara sehingga terhindar dari bakteri yang dapat menyebabkan infeksi. Selain itu, seringlah menyusui agar pengosongan ASI terjadi dengan sempurna sehingga ASI tidak menumpuk dan memicu terjadinya radang. Akan tetapi, jika sudah terlanjur kena mastitis maka Anda dapat mengonsumsi antibiotik dan menggunakan kompres hangat pada payudara.

  • Pembengkakan pada payudara.
  • Payudara yang sensitif atau nyeri ketika disentuh. Payudara juga bisa terasa hangat ketika diraba.
  • Muncul rasa sakit atau sensasi panas seperti terbakar ketika Anda menyusui.
  • Terbentuk benjolan pada payudara akibat jaringan payudara yang menebal.
  • Timbul garis-garis merah pada payudara, dengan bentuk yang mirip dengan sarang laba-laba.
  • Tubuh terasa nyeri atau ngilu.
  • Demam, umumnya suhu lebih dari 38,5 derajat Celsius.
  • Menggigil.
Jika Anda mengalami gejala seperti yang telah disebutkan, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter. 

Kondisi ibu menyusui yang meningkatkan risiko terkena radang kelanjar susu

Hampir 20 persen ibu menyusui juga pernah merasakan kondisi yang sama. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), risiko radang payudara pada ibu menyusui ini atau pembengkakan kelenjar susu akan meningkat bila Anda memiliki kondisi seperti berikut:
  • Pernah mengalami mastitis.
  • Puting yang lecet. Selain nyeri, kondisi ini juga bisa menjadi jalan masuk bagi bakteri menujubagian payudara dengan ASI tersumbat.
  • Bayi yang kesulitan mengisap ASI, misalnya karena kondisi tongue tie.
  • Frenulum yang pendek.
  • Hiperlaktasi atau produksi ASI yang terlalu banyak.
  • Proses menyusui yang belum sepenuhnya selesai, sehingga payudara tidak benar-benar kosong.
  • Payudara yang tertekan, contohnya akibat bra yang terlalu ketat.
  • Sumbatan pada saluran ASI. Kondisi ini bisa akibatgumpalan ASI, jamur, atau sel-sel kulit.
  • Penggunaan krim khusus pada puting, misalnya untuk mencegah lecet.
  • Ibu dan atau bayi yang sedang sakit.
  • Ibu yang mengalami stres, kelelahan, serta malanutrisi.

Bolehkah ibu menyusui bayi saat mengalami radang kelenjar susu?

Ibu masih boleh menyusui meski terkena radang kelenjar susu atau mastitis. Bahkan pada kebanyakan kasus, menyusui terbukti bisa membantu penyembuhan mastitis dengan cepat. Selain itu, jika Anda meminum antibiotik untuk menyembuhkan mastitis, maka hal tersebut aman-aman saja karena tidak ada bahaya yang mengancam si bayi.Namun, bila Anda merasa terlalu nyeri untuk menyusui dari payudara yang terkena mastitis maka Anda dapat menggunakan pompa ASI untuk mengosongkannya. Kompres hangat sebelum menyusui juga dapat membantu mendorong ASI mengalir. Pastikan Anda mengosongkan payudara yang terkena mastitis agar tidak terkena masalah lainnya.
Memberikan ASI secara tepat dapat mencegah mastitis

Cara mengatasi mastitis pada ibu menyusui

Anda tidak perlu memutuskan untuk berhenti menyusui atau menyapih dini ketika mengalami mastitis. Anda bisa melakukan beberapa cara berikut untuk mengatasi mastitis pada ibu menyusui seperti:
  • Tidak berhenti menyusui. Pasalnya, ketika ASI sudah mulai keluar dari payudara yang mengalami mastitis, nyeri akan mulai berkurang. Namun bila sakit tidak tertahankan, Anda bisa memindahkan bayi ke payudara yang sehat. Anda juga bisa memerah ASI dengan alat khusus agar lebih mudah.
  • Menerapkan teknik menyusui yang benar, misalnya memastikan proses perlekatan mulut bayi pada payudara Anda sudah benar agar puting tidak lecet.
  • Memastikan ASI benar-benar kosong dari payudara pada tiap proses menyusui. Bila buah hati sudah kenyang dan tidak mau menyusu lagi, Anda bisa mengeluarkan sisa ASI dengan memijat payudara atau menggunakan alat khusus pemompa ASI.
  • Memijat gumpalan ASI yang terbentuk pada payudara. Lakukan dengan lembut agar tidak sakit. Usap dari area yang gumpal ke arah puting susu untuk membantu ASI mengalir.
  • Memastikan tubuh Anda tidak kekurangan cairan.
  • Jangan lupa untuk beristirahat agar tidak stres dan kelelahan.
  • Menempelkan kompres hangat pada payudara yang bengkak. Selain mengurangi nyeri, langkah ini bisa membantu agar ASI keluar lebih lancar.
  • Mengonsumsi obat pereda nyeri dan demam, seperti ibuprofen. Namun selalu konsultasikan dulu dengan dokter mengenai keamanannya.

Apa saja yang harus dihindari ibu menyusui untuk mencegah mastitis?

Terdapat beberapa hal yang harus dihindari oleh ibu menyusui untuk mencegah terjadinya mastitis. Beberapa hal tersebut, di antaranya:
  • Jarang menyusui
  • Tidak mengosongkan ASI sepenuhnya ketika menyusui
  • Tidak merubah posisi yang digunakan selama menyusui
  • Menggunakan bra yang ketat
  • Memberikan ASI dengan cara yang tidak tepat
  • Tidak mencuci tangan sebelum nyentuh payudara dan setelah mengganti popok
  • Menggunakan krim puting dengan waktu yang lama
  • Merokok
  • Tidak cukup istirahat
Istirahat adalah hal yang penting karena dapat membantu meningkatkan fungsi kekebalan tubuh sehingga terhindar dari mastitis. Oleh sebab itu, ibu menyusui harus beristirahat dengan cukup dan mendapat banyak asupan nutrisi.

Kapan perlu ke dokter?

Menurut sumber, jika Anda merasa tidak enak badan selama lebih dari 24 jam sehabis mengalami mastitis meskipun terus menyusui si kecil, ada baiknya penanganan dokter diberikan. Terutama ketika mastitis membuat Anda tidak mampu menyusui si kecil.Penanganan lebih lanjut mungkin akan dibutuhkan ketika gejala Anda tidak membaik 48 jam setelah minum antibiotik. Jadi, jangan sepelekan kondisi Anda dan selalu perhatikan perkembangannya dengan berkonsultasi dengan dokter, ya.
ibu menyusuimastitis
Healthline. https://www.healthline.com/health/mastitis#prevention
Diakses pada 30 Juli 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/mastitis/symptoms-causes/syc-20374829
Diakses pada 30 Juli 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/163876.php
Diakses pada 30 Juli 2019
What to expect. https://www.whattoexpect.com/mastitis.aspx
Diakses pada 30 Juli 2019
Better Health. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/HealthyLiving/breastfeeding-dealing-with-mastitis
Diakses pada 30 Juli 2019
IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/mastitis-pencegahan-dan-penanganan
Diakses pada 30 Juli 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/mastitis/
Diakses pada 4 Juni 2020
IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/mastitis-pencegahan-dan-penanganan Diakses pada 17 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait