Waspadai Infeksi Oportunistik dan Komplikasi HIV yang Berbahaya Ini

Ada banyak infeksi oportunistik dan komplikasi HIV, termasuk tuberkulosis dan pneumonia kronis
Untuk menghindari infeksi oportunistik dan komplikasi HIV, orang yang hidup dengan virus ini harus mengonsumsi ARV seumur hidup

HIV dan AIDS masih menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat dunia, termasuk di Indonesia. Hingga Desember 2017, angka kematian akibat infeksi oportunistik atau komplikasi HIV dan AIDS mencapai 15.429.

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Apabila tidak ditangani melalui pemberian obat antiretroviral (ARV), orang dengan HIV akan mememasuki fase 3 yang disebut acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), dan mengalami penyakit dan infeksi yang disebut infeksi oportunistik

Infeksi oportunistik sebagai komplikasi HIV & AIDS

Infeksi oportunistik bisa menyerang tubuh dengan sistem kekebalan yang lemah. Infeksi oportunistik sering dihubungankan dengan HIV dan AIDS, karena HIV menyerang sel-T CD4 (sering disebut hanya CD4), yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh.

Umumnya, orang sehat memiliki CD4 dengan rentang 500-1400 per milimeter kubik darah (sering dituliskan 500-1400). Orang yang positif HIV memiliki risiko lebih rendah untuk terserang infeksi oportunistik, jika memiliki jumlah CD4 di atas 500. Semakin rendah CD4 seseorang, semakin rentan ia untuk mengidap penyakit.

Berikut ini 20 infeksi oportunistik atau komplikasi HIV yang umum terjadi.

  • Candidiasis. Kondisi ini merupakan infeksi jamur umum, dan dan dapat diobati dengan obat antijamur setelah dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter.
  • Coccidioidomycosis,yaitu infeksi yang juga dipicu oleh jamur dan dapat berujung pneumonia, jika tidak ditangani.
  • Cryptococcosis, sebagai infeksi jamur yang sering masuk melalui paru-paru. Infeksi ini dapat dengan cepat menyebar ke otak, dan sering berakibat fatal, karena menyebabkan meningitis cryptococcus.
  • Cryptosporidiosis, yaitu penyakit diare yang kerap menjadi kronis. Penyakit ini dicirikan oleh kram perut dan diare yang parah.
  • Sitomegalovirus, infeksi virus yang sering terjadi di bagian mata dan organ pencernaan. Infeksi ini sebenarnya umum terjadi, terutama pada orang dewasa.
  • Ensefalopati yang berkaitan dengan HIV. Gangguan medis ini menyerang otak seiring berjalannya usia, dan sering menyerang individu yang memilki jumlah CD4 kurang dari 100.
  • Herpes simplex (kronis) dan herpes zoster. Herpex simplex merupakan infeksi yang dicirikan oleh luka pada mulut atau bagian kelamin. Sementara itu, herpes zoster menyebabkan lepuhan pada kulit, yang disertai rasa sakit.
  • Histoplasmosis, yaitu infeksi oleh spora jamur yang sering berasal dari kotoran burung atau tanah. Kondisi medis ini dapat diobati melalui pemberian antibiotik.
  • Isosporiasis, yaitu infeksi parasit yang dapat berkembang saat penderitanya melakukan kontak dengan aliran air, atau makanan yang sudah terkontaminasi.
  • Kompleks Mikobakterium Avium (MAC), yang merupakan infeksi akibat bakteri, dan sering terjadi pada orang dengan jumlah CD4 kurang dari 50. Apabila bakteri tersebut masuk ke aliran darah, infeksi ini dapat berakibat kematian.
  • Pneumonia jiroveci pneumocystis, yaitu jenis pneumonia yang disebabkan oleh infeksi jamur Pneumocystis jiroveci (dahulu disebut jamur Pneumocystis carinii). Infeksi oportunistik ini menjadi penyebab kematian utama pada orang dengan HIV.
  • Pneumonia kronis. Anda mungkin sudah sering mendengar penyakit ini. Pneumonia merupakan infeksi baru-baru, yang bisa disebabkan oleh bakteri, jamur, atau virus. Pneumonia dapat terjadi di salah satu paru-paru, atau keduanya sekaligus.
  • Leukoensefalopati multifokal progresif, yaitu gangguan saraf yang disebabkan oleh virus dansering menyerang orang dengan jumlah CD4 di bawah 200.
  • Toksoplasmosis, yaitu infeksi parasit yang juga umum menyerang orang-orang dengan CD4 di bawah 200.
  • Tuberkulosis, yaitu penyakit yang juga menyerang organ paru-paru, dan disebabkan oleh infeksi kuman mycobacterium tuberuculosis.
  • Wasting syndrome (berkaitan dengan HIV). Sindrom ini merupakan infeksi oportunistik yang menyebabkan penurunan bobot penderitanya. Penurunan berat badan tersebut dapat mencapai lebih dari 10% berat badan normal penderita.
  • Sarkoma kaposi, yaitu jenis kanker yang kerap muncul dengan lesi di bagian mulut, atau lesi yang menutupi permukaan kulit. Terapi radiasi dan kemoterapi merupakan penanganan kondisi medis ini, yang bertujuan untuk mengecilkan tumor.
  • Limfoma. Beberapa jenis kanker yang menyerang sistem limfatik (getah bening) dan kerap terjadi pada orang-orang yang hidup dengan HIV. Penanganan kondisi ini akan bergantung pada kesehatan penderitanya, serta jenis kanker yang diidap.
  • Kanker serviks. Kanker ini menyerang leher rahim, sehingga hanya terjadi pada wanita. Wanita yang hidup dengan HIV berisiko tinggi untuk menderita kanker serviks.

[[artikel-terkait]]

Lakukan Tes HIV dan konsumsi ARV untuk hindari infeksi oportunistik dan komplikasi HIV

Untuk menghindari infeksi oportunistik dan komplikasi HIV di atas, ketahui status HIV Anda, serta konsumsilah obat antiretroviral (ARV) jika dinyatakan positif HIV.

Tes HIV menjadi cara paling akurat untuk mengetahui status HIV, terutama bagi Anda yang pernah menjalani hubungan seks berisiko, atau memiliki riwayat sebagai pecandu narkoba. Ibu hamil juga disarankan untuk menjalani tes HIV.

Apabila hasil tes menunjukkan Anda positif HIV, maka dokter akan memberikan obat ARV. Obat ARV tidak dapat menyembuhkan infeksi HIV. Walau begitu, obat-obatan ini dapat mencegah perkembangan HIV di tubuh, mencegah infeksi oportunistik dan komplikasi HIV, dan menolong Anda dalam menjalani hidup sehat seperti orang lain.

AIDS Info. https://aidsinfo.nih.gov/understanding-hiv-aids/fact-sheets/26/86/what-is-an-opportunistic-infection-

Diakses pada 14 Agustus 2019

 

Healthline. https://www.healthline.com/health/hiv-aids/hiv-vs-aids

Diakses pada 14 Agustus 2019

 

Healthline. https://www.healthline.com/health/hiv-aids/most-dangerous-complications-of-hiv

Diakses pada 14 Agustus 2019

 

Kementerian Kesehatan RI. http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/Laporan_HIV_AIDS_TW_4_Tahun_2017__1_.pdf

Diakses pada 14 Agustus 2019

 

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000671.htm

Diakses pada 14 Agustus 2019

 

Web MD. https://www.webmd.com/hiv-aids/cd4-count-what-does-it-mean

Diakses pada 14 Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed