logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Mental

Jenis Obat Antidepresan dan Risiko Efek Sampingnya

open-summary

Jenis obat antidepresan yang dapat bantu atasi depresi mulai dari Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs), Antidepresan trisiklik (TCAs), hingga Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOIs),.


close-summary

21 Agt 2019

| Arif Putra

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Orang yang didiagnosis depresi harus mendapatkan penanganan, seperti terapi dan pemberian antidepresan

Depresi terjadi ketika adanya ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak

Table of Content

  • Beberapa jenis obat depresi dan efek sampingnya
  • Risiko dan efek samping obat antidepresan untuk pengobatan depresi
  • Catatan dari sehatQ

Seperti penyakit mental lainnya, kondisi depresi bukanlah kondisi yang sepele. Orang yang terdiagnosis depresi, harus segera menjalani perawatan, termasuk dengan mengonsumsi obat-obatan. Obat untuk menangani depresi ini disebut dengan antidepresan.

Advertisement

Depresi adalah gangguan umum yang memicu ketidakseimbangan senyawa kimia penting, serta fungsi otak. Obat antidepresan digunakan untuk memperbaiki disfungsi tersebut.

Baca Juga

  • Antigalau, Ini 10 Cara Mengatasi Kesepian agar Hidup Lebih Happy
  • Mendengar Bisikan untuk Sakiti Bayi, Kenali Tanda Psikosis Postpartum
  • Sering Mengalami Pikiran Kosong? Kenali Penyebab dan Cara Mencegahnya

Beberapa jenis obat depresi dan efek sampingnya

Antidepresan untuk pengobatan depresi bekerja dengan memengaruhi neurotransmiter, senyawa kimia penting untuk membawa sinyal di dalam otak. Neurotransmiter atau pembawa spesan kimiawi juga bekerja untuk mengatur mood, nafsu makan, hasrat seksual, dan rasa senang. Beberapa contoh neurotransmiter, yakni serotonin, norepinefrin, serta dopamin.

Orang yang mengalami depresi memiliki kadar neurotransmiter yang rendah
Orang yang mengalami depresi memiliki kadar neurotransmiter yang rendah

 

Penderita depresi memiliki kadar neurotransmiter yang rendah. Antidepresan bekerja untuk meningkatkan neurotransmiter di otak tersebut.

Berikut beberapa jenis antidepresan, sebagai bagian dari pengobatan depresi.

1. Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs)

Jenis obat antidepresan penghambat reuptake serotonin selektif (SSRIs) bekerja dengan menghambat dengan selektif penyerapan kembali (reuptake) neurotransmiter serotonin oleh sel saraf. Dengan begitu, kadar serotonin pun dapat meningkat, dan diharapkan membuat Anda lebih bahagia.

SSRI adalah golongan antidepresan baru, yang dikembangkan pertama kali tahun 1970-an. Beberapa contoh obat antidepresan SSRI, yakni:

  • Fluoksetine
  • Paroksetine
  • Vilazodon
  • Citalopram
  • Fuvoksamin
  • Escitalopram
  • Sertraline

2. Serotonin and Norepinephrine Reuptake Inhibitors (SNRIs)

Mirip dengan SSRI, obat depresi penghambat reuptake serotonin dan norepinefrin (SNRI) bekerja untuk menghambat terserapnya kembali norepinefrin dan serotonin oleh sel saraf. Sehingga, penderitanya diharapkan kembali pulih dengan mengonsumsi antidepresan ini.

Meningkatkan kadar norepinefrin bersamaan dengan kadar serotonin, bermanfaat juga untuk orang-orang dengan keterbelakangan psikomotorik (perkembangan gerakan dan pikiran fisik yang terhambat).

Beberapa contoh dari SNRI, yakni venlafaksin, vuloksetine, desvenlafaksin, milnacipran, levomilnacipran.

3. Antidepresan trisiklik (TCAs)

Antidepresan trisiklik (TCA) adalah jenis obat antidepresan yang lebih tua, dan pertama kali ditemukan pada 1950-an. Obat ini dinamai berdasarkan struktur kimianya, yang terdiri atas tiga cincin atom yang saling berhubungan.

TCA bekerja dengan cara memblokir penyerapan serotonin dan norepinefrin, ke dalam sel-sel saraf. TCA juga menghalangi penyerapan neurotransmitter lain yang dikenal sebagai asetilkolin (yang membantu mengatur pergerakan otot rangka).

Ada banyak contoh obat antidepresan TCA, sebagai pengobatan depresi. Beberapa di antaranya yakni amitriptylin, desipramin, amoksapin, serta klomipramin.

4. Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOIs)

Antidepresan penghalang oksidase monoamin, merupakan golongan obat pertama yang dikembangkan, untuk pengobatan depresi. jenis obat antidepresan ini pertama kali ditemukan pada 1950-an.

MAOIs bekerja dengan menghambat aksi enzim yang disebut monoamine oksidase. Dengan memblokir aksi enzim ini, kadar neurotransmiter pun dapat meningkat, serta diharapkan dapat memperbaiki suasana hati.

5. Antidepresan Atipikal

Antidepresan atipikal bisa dibilang sebagai jenis obat antidepresan, yang baru ditemukan. Sehingga, golongan ini tidak masuk ke dalam salah satu kategori yang tercantum di atas.

Secara luas, antidepresan atipikal meningkatkan kadar serotonin, norepinefrin, dan dopamin dengan cara yang unik. Beberapa contoh obat antidepresan atipikal, yakni:

  • Bupropion, yang diklasifikasikan sebagai penghambat terserapnya dopamin. Antidepresan ini digunakan untuk pengobatan depresi, gangguan afektif musiman, serta membantu orang yang ingin berhenti merokok.
  • Mirtazapin, yang digunakan untuk depresi berat. Obat ini bekerja dengan menghambat reseptor hormon stres epinefrin (adrenalin) di otak.
  • Trazodon dan vortioksetin. Dua obat ini digunakan untuk pengobatan depresi berat. Keduanya merupakan antidepresan yang menghambat penyerapan serotonin serta memblokir reseptor adrenergik.

Selain depresi, antidepresan juga dapat digunakan untuk membantu mengatasi beberapa kondisi lain seperti gangguan kecemasan, ketakutan berlebih terhadap sesuatu, dan stres pasca trauma (PTSD). Meskipun begitu, perlu diingat bahwa penggunaan obat ini membutuhkan resep dokter.

Risiko dan efek samping obat antidepresan untuk pengobatan depresi

Antidepresan kadang-kadang digunakan dengan kombinasi dengan obat lain, untuk menangani berbagai gangguan mental. Dalam beberapa kasus, penggunaan kombinasi obat-obatan yang keduanya bekerja serotonergik dapat menyebabkan sindrom serotonin.

Sindrom serotonin adalah akumulasi racun dari serotonin, yang dapat memicu gangguan fisik dan psikis, dan berpotensi berbahaya. Beberapa gejala sindrom serotonin yang umum terjadi, di antaranya:

  • Otot berkedut
  • Berkeringat
  • Menggigil
  • Diare
  • Demam tinggi
  • Kejang
  • Detak jantung tidak teratur
  • Tidak sadarkan diri
Penggunaan antidepresan dapat menyebabkan sindrom serotonin
Konsumsi depresan tetap memiliki risiko, sehingga penggunaannya harus diawasi oleh dokter

Untuk menghindari hal ini, selalu beri tahu dokter mengenai semua obat yang Anda gunakan, termasuk obat resep, obat bebas, suplemen gizi, atau obat herbal.

Catatan dari sehatQ

Antidepresan untuk pengobatan depresi, hanya boleh digunakan sesuai resep. Kemunculan manfaat antidepresan umumnya butuh waktu hingga delapan minggu. Dalam waktu tersebut, Anda tidak boleh berhenti, mengurangi, atau meningkatkan dosis tanpa terlebih dahulu berbicara dengan dokter.

Berhenti tiba-tiba dapat menyebabkan gejala putus obat yang mengganggu, dan seringkali membuat Anda lemah. Anda pun berpotensi mengalami mual, muntah, tremor, mimpi buruk, pusing, depresi, dan sensasi kejang.

Jika ingin berkonsultasi langsung pada dokter, Anda bisa Anda bisa chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.
Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.

Advertisement

mengatasi depresidepresi

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved