Bayi Tidur Ngorok, Apakah Hal Ini Normal?


Umumnya, bayi tidur ngorok bukan hal yang berbahaya. Namun ketika terjadi terus menerus dan tidak menunjukkan perbaikan, bisa jadi merupakan tanda terjadinya sleep-disordered breathing. Segera periksa ke dokter.

(0)
07 Apr 2021|Azelia Trifiana
Bayi tidur ngorok sebenarnya hal yang normalBayi tidur ngorok sebenarnya hal yang normal
Anggota baru keluarga Anda boleh saja berukuran paling mungil dari orang-orang di sekitarnya. Tapi, napasnya justru bisa jadi paling kencang. Bahkan, terkadang bayi tidur ngorok alias mendengkur. Tak perlu khawatir, jarang sekali kondisi ini merupakan gejala penyakit serius.Penyebab paling utama bayi ngorok adalah hidungnya tersumbat. Apabila ini terjadi, coba kenali gejala-gejala lain apakah bayi sedang mengalami common cold atau tidak.

Penyebab bayi tidur mendengkur

Ketika bayi tertidur, napasnya kerap terdengar lebih kencang. Bahkan, suara napas ini terdengar seperti dengkuran. Terlebih, saluran pernapasan bayi masih sangat kecil sehingga kelebihan lendir atau kondisi kering sudah membuat mereka bernapas semakin keras.Terkadang, kondisi ini terdengar seolah bayi tidur ngorok. Padahal, itu hanya suara saat mereka bernapas saja. Ketika bayi bertambah besar, suara napasnya menjadi lebih pelan. Selain itu, ada juga alasan lain yang membuat bayi terdengar seakan mendengkur, seperti:

1. Hidung tersumbat

Ini adalah penyebab paling sering bayi tidur ngorok. Namun Anda tak perlu panik karena bisa melegakannya dengan memberikan saline drop. Umumnya cara ini sudah cukup efektif mengatasi hidung tersumbatNamun apabila cara pernapasan bayi tidak kunjung membaik, ada baiknya orangtua merekam bunyi dengkuran agar bisa dijadikan bahan diskusi ketika periksa ke dokter spesialis anak.

2. Deviasi septum

Karakter anatomi seperti deviasi septum juga mungkin terjadi pada anak-anak, yaitu ketika dinding tipis di antara kedua lubang hidung posisinya tidak simetris berada di tengah. Artinya, ada bagian tulang rawan yang miring.Kondisi ini bisa terjadi beberapa hari setelah bayi lahir dengan prevalensi sekitar 20%. Meski demikian, kondisi ini bisa mereda dengan sendirinya ketika bayi tumbuh besar.

3. Laryngomalacia

Bayi tidur ngorok juga bisa jadi merupakan tanda-tanda laryngomalacia. Kondisi ini menyebabkan jaringan di kotak suara atau laring melunak sehingga bentuknya tidak sesuai. Konsekuensinya, jaringan-jaringannya bisa menutupi saluran pernapasan bahkan menutupnya.Kabar baiknya, 90% kondisi pada bayi ini akan mereda dengan sendirinya tanpa penanganan apapun. Umumnya, laryngomalacia tak lagi terdeteksi ketika memasuki usia 18-20 tahun.

4. Obesitas

Ada pula studi yang menemukan bahwa bayi atau anak-anak yang kelebihan berat badan lebih rentan mendengkur. Alasannya karena obesitas dapat membuat saluran pernapasan terhimpit. Selain itu, risiko terjadinya sleep-disordered breathing pun meningkat.

5. Sleep-disordered breathing

Ada banyak jenis kondisi sleep-disordered breathing dengan tingkat keseriusan berbeda-beda. Ada yang merupakan kebiasaan sederhana yang terjadi 2 kali setiap minggunya tanpa gejala lain.Di sisi lain, ada pula yang disebut dengan sleep apnea obstruktif ketika saluran pernapasan bayi berkali-kali tertutup saat terlelap di malam hari. Bukan tidak mungkin, sleep apnea ini mengganggu kualitas tidur sehingga berdampak pada kesehatan fisik hingga mental.

6. Reaksi alergi

Ada beberapa kasus ketika bayi mengalami reaksi alergi dan terjadi peradangan di hidung serta tenggorokan. Apabila ini terjadi, maka akan lebih sulit untuk bernapas. Akibatnya, risiko bayi ngorok pun meningkat.

7. Terpapar asap rokok

Bukan hanya sebagai perokok pasif, bayi yang terpapar thirdhand smoke juga bisa mengalami masalah pernapasan. Ini adalah kondisi yang tidak seharusnya terjadi, karena bayi dan anak-anak berhak mendapat akses udara dan lingkungan yang bebas dari asap rokok serta residunya.

Kapan menandakan masalah lain?

bayi tidur
Segera periksakan ke dokter bila bayi kesulitan bernapas saat tidur
Beberapa tanda-tanda yang mungkin mengindikasikan bahwa bayi ngorok karena masalah yang lebih besar adalah:
  • Durasi mendengkur lebih dari 3 malam per hari
  • Kesulitan bernapas saat tertidur
  • Kulit tampak kebiruan
  • Tampak lesu di pagi dan siang hari
  • Diagnosis attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD)
  • Obesitas
  • Berat badan di bawah rata-rata (gagal tumbuh)
Terkait dengan penanganan, bayi yang mendengkur sesekali tidak perlu penanganan khusus karena bisa mereda dengan sendirinya. Bahkan ketika sudah menjadi kebiasaan pun, juga akan hilang ketika bayi bertambah besar.Namun ketika ada kecurigaan kondisi medis lain, dokter akan melakukan pemeriksaan dan mungkin mengambil tindakan medis seperti:
  • Operasi adenotonsillectomy (untuk bayi dengan sleep apnea)
  • Pemasangan alat postive airway pressure jika operasi tidak berhasil
Jangan lupakan pula bahwa orangtua bertanggung jawab dalam menerapkan sleep hygiene yang tepat hingga memastikan udara dan lingkungan sekitar bayi bebas dari asap rokok.

Catatan dari SehatQ

Umumnya, bayi tidur ngorok bukan hal yang berbahaya. Namun ketika terjadi terus menerus dan tidak menunjukkan perbaikan, bisa jadi merupakan tanda terjadinya sleep-disordered breathing. Bukan sekadar mendengkur, kesehatan fisik dan mental si kecil juga menjadi taruhannya.Jadi, orangtua perlu benar-benar mencatat polanya. Apakah anak terdengar seakan mendengkur hanya karena memang saluran pernapasan mereka masih sempit, atau ada tanda-tanda lain?Jangan lupakan pula bahwa ketika sudah berlebihan, kondisi ini juga bisa berdampak negatif pada kualitas tidur orangtua atau saudara kandung mereka.Untuk berdiskusi lebih lanjut kapan bayi mendengkur dikatakan berbahaya, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
bayi & menyusuimenidurkan bayibayi pilek
Sleep Foundation. https://www.sleepfoundation.org/snoring/snoring-children
Diakses pada 22 Maret 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/parenting/newborn-snoring
Diakses pada 22 Maret 2021
Indian Journal of Otolaryngology and Head & Neck Surgery. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3431516/
Diakses pada 22 Maret 2021
Genetic and Rare Diseases. https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/6865/laryngomalacia
Diakses pada 22 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait