Penyebab Bayi Gumoh Habis Menyusu dan Cara Mengatasinya yang Benar


Gumoh adalah keluarnya cairan susu atau makanan yang baru saja ditelan oleh bayi. Penyebab bayi sering gumoh umumnya karena cincin otot bayi belum dapat menutup dengan sempurna.

(0)
Salah satu penyebab bayi gumoh karena cincin otot belum menutup sempurna atau menelan udara saat menyusu.Gumoh terjadi ketika susu atau makanan yang baru saja ditelan keluar dari mulut bayi
Penyebab bayi gumoh sering kali menjadi perhatian para orangtua baru. Pasalnya, bayi akan mengeluarkan air susu secara tiba-tiba yang membuat Anda khawatir akan kesehatannya.Namun, Anda tidak perlu panik karena kondisi ini cenderung tidak membahayakan. Agar rasa khawatir tidak terus melanda, mari ketahui penyebab dan cara mengatasi bayi gumoh. Dengan ini, Anda bisa tetap tenang ketika Si Kecil mengalaminya. 

Apa penyebab bayi gumoh?

Gumoh adalah keluarnya cairan susu atau makanan yang baru saja ditelan oleh bayi. Dalam dunia medis, gumoh disebut dengan istilah gastroesophageal reflux atau refluks. Setelah bayi menyusu, cairan ASI atau susu formula akan ditelan dan melewati kerongkongan (esofagus) menuju lambung. Sebelum lambung, terdapat cincin otot di ujung esofagus yang berfungsi sebagai gerbang masuk ke lambung. Cincin otot tersebut akan menutup ketika cairan atau makanan sudah masuk ke dalam lambung, guna mencegahnya naik kembali ke kerongkongan. Namun pada usia bayi yang berusia di bawah 5 bulan, cincin otot belum dapat menutup dengan sempurna yang menyebabkan air susu lebih mungkin untuk naik ke kerongkongan. Inilah yang menjadi penyebab bayi gumoh.Selain itu, gumoh juga seringkali terjadi ketika Si Kecil terlalu banyak minum susu atau menelan udara saat menyusu. Seiring bertambahnya usia bayi, intensitas gumoh pada bayi akan berkurang. Frekuensi gumoh kemudian akan berhenti dengan sendirinya ketika buah hati berusia sekitar 4 sampai 5 bulan atau saat bayi sudah diberi makanan pendamping ASI (MPASI), yakni pada sekitar 6 bulan hingga 1 tahun). 

Apa perbedaan bayi gumoh dengan muntah?

Bayi gumoh bukan merupakan kondisi yang berbahaya dan perlu Anda terlalu khawatirkan. Meski demikian, gumoh berbeda dengan muntah pada bayi.Muntah terjadi ketika ada dorongan dan kontraksi yang kuat dari otot lambung untuk mengeluarkan isi lambung. Sedangkan gumoh pada bayi terjadi ketika cairan mengalir keluar tanpa adanya tekanan dari lambung si Kecil.Gumoh biasanya terjadi bersamaan dengan sendawa, tanpa membuat bayi menjadi rewel atau merasa tidak nyaman. 

Bagaimana cara mengatasi gumoh pada bayi?

Gumoh pada bayi termasuk kondisi yang umum dialami oleh sebagian besar bayi. Tapi setiap bayi memiliki intensitas gumoh yang berbeda-beda, yang umumnya tidak membutuhkan penanganan khusus. Jika bayi sering gumoh, berikut tips yang bisa Anda coba untuk mengatasinya.

1. Perhatikan posisi bayi saat menyusu atau makan

Biasakan menyusui atau memberi makan pada bayi dalam posisi tubuh yang lebih tegak. Pertahankan posisi ini selama 20-30 menit setelah pemberian makan atau susu untuk membuat susu atau makanan lebih cepat turun ke saluran pencernaan. 

2. Perhatikan porsi susu dan makanan

Jangan berlebihan saat menyusui bayi. Bila bayi sudah tampak kenyang, jangan paksa dia untuk terus menyusu. Untuk mencegahnya menyusu secara berlebih, Anda sebaiknya memberikan makanan atau susu dengan jumlah sedikit namun dengan frekuensi lebih sering.Anda juga perlu menyusun jadwal menyusui secara teratur. Jangan sampai bayi Anda terlalu lapar, karena usaha kerasnya saat mengisap ASI atau susu formula bisa membuat makin banyak udara yang ikut masuk sehingga menambah risiko gumoh.

3. Berikan jeda setelah menyusui

Setelah memberi makan atau menyusui bayi, jangan langsung mengajak Si Kecil bermain. Berikan jeda beberapa saat beraktivitas lain. Misalnya, berikan jeda waktu selama 30 menit bila Anda ingin meletakkan bayi di car seat dan mengajaknya bepergian. Pastikan juga pakaian dan popok bayi tidak terlalu ketat.

4. Sendawakan bayi

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyebab bayi gumoh adalah dengan membuat bayi Anda bersendawa setelah menyusu atau makan. Sendawa dapat membantu bayi untuk mengeluarkan udara yang mungkin menumpuk di dalam lambungnya.Tapi ingat, sendawakan bayi dengan benar. Anda bisa membiarkan dada dan perut bayi bersandar di dada dan pundak Anda, lalu mengusap punggungnya hingga ia bersendawa. Hindari menepuk punggungnya terlalu keras atau menekan perut bayi agar tidak memicu gumoh.

5. Hindari posisi tidur tengkurap

Mungkin banyak beredar anggapan bahwa tidur tengkurap bisa mengurangi risiko gumoh. Namun anggapan ini tidaklah benar. Tak hanya itu, tidur tengkurap bahkan bisa meningkatkan risiko sindrom kematian bayi mendadak atau sudden infant death syndrome (SIDS). Bila bayi sering gumoh saat tidur, posisikan agar kepalanya berada lebih tinggi ketika ia tidur. Tapi jangan menggunakan bantal untuk mengganjal kepala Si Kecil.Anda bisa menambah ganjalan di bawah kasur pada bagian kepala bayi. Misalnya menggunakan kain atau busa. Dengan ini, posisi kepala bayi akan sedikit lebih tinggi dari bagian kakinya ketika berbaring telentang.

6. Cermati ukuran dot

Jika buah hati menggunakan botol untuk minum susu, Anda perlu mencermati ukuran dot dengan tepat.Apabila ukuran dot terlalu besar, air susu dapat keluar terlalu cepat. Kondisi ini bisa membuat bayi tersedak maupun gumoh.Sedangkan ukuran dot yang terlalu kecil dapat membuat bayi menelan lebih banyak udara ketika menyusu. Penumpukan udara dalam lambung bayi dapat meningkatkan risiko gumoh. 

7. Perhatikan makanan sang ibu karena bisa memengaruhi ASI

Jika bayi Anda minum ASI, sang ibu perlu memerhatikan pola makannya. Pasalnya, makanan dan minuman yang Anda konsumsi akan memegaruhi kualitas ASI yang diminum buah hati. Mungkin saja sering gumoh terjadi karena dampak dari jenis makanan atau minuman tertentu yang dikonsumsi sang ibu. 

8. Berikan susu atau makanan dalam tenang

Saat menyusui, usahakan agar suasana di sekeliling Anda tenang dan tanpa gangguan. Jika Si Kecil merasa panik atau terganggu, ia akan cenderung menelan udara saat menyusu yang membuatnya mengalami gumoh.

Kapan gumoh pada bayi perlu dikonsultasikan ke dokter? 

Gumoh memang termasuk kondisi yang normal terjadi pada bayi. Meski demikian, waspadai kondisi bayi sering gumoh apabila disertai dengan gejala-gejala di bawah ini:
  • Berat badan bayi tidak kunjung bertambah.
  • Jumlah susu atau makanan yang dikeluarkan oleh bayi lebih dari 1-2 sendok makan.
  • Ketika gumoh, bayi tampak tersiksa. Gejala ini bukan lagi gumoh, tapi muntah. 
  • Muntah bayi berwarna kuning, hijau, atau kecokelatan.
  • Frekuensi buang air kecil bayi yang berkurang, misalnya jarang ganti popok dan berwarna pekat.
  • Tampak lemas.
  • Terus-menerus tidak mau menyusu atau makan.
  • Gumoh terjadi di usia enam bulan hingga lebih dari satu tahun.
  • Lebih rewel dari biasanya dan terus menangis lebih dari tiga jam.
  • Muncul darah dalam feses bayi.
  • Mengalami kesulitan bernapas.
  • Mengalami muntah proyektil, yaitu kondisi muntah dalam jumlah banyak yang menyembur keluar dari mulut. 
Jika bayi gumoh disertai dengan tanda atau gejala di atas, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak. Jangan lupa untuk mencatat dan memberitahukan dokter mengenai frekuensi gumoh yang dialami oleh Si Kecil.Dokter kemudian akan melakukan proses diagnosis untuk mendeteksi penyebab bayi terlalu sering gumoh, dan memberikan pengobatan yang tepat untuk buah hati.
bayiasi eksklusifmengatasi bayi rewelmakanan bayisusu formula
WebMD. https://www.webmd.com/parenting/baby/spitting-up
Diakses pada 4 November 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/healthy-baby/art-20044329
Diakses pada 4 November 2019
Baby Center. https://www.babycenter.com/0_why-babies-spit-up_1765.bc
Diakses pada 4 November 2019
Family Doctor. https://familydoctor.org/spitting-up-in-babies/
Diakses pada 4 November 2019
Healthy Children. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/feeding-nutrition/Pages/Why-Babies-Spit-Up.aspx
Diakses pada 4 November 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait