Mengenal Atresia Bilier, Gangguan Empedu pada Bayi

(0)
27 Nov 2019|Azelia Trifiana
Atresia bilier pada bayiGejala penyakit atresia bilier pada bayi baru lahir adalah kulit yang berwarna kekuningan dan pertumbuhan yang lambat
Bayi baru lahir yang tampak kekuningan atau ikterus biasanya menandakan bahwa tubuh mungilnya belum mampu mengeluarkan kelebihan bilirubin lewat urine. Kondisi yang lebih parah dan langka terjadi adalah penyakit atresia bilier, ketika bayi mengalami sumbatan pada saluran empedunya sehingga menghambat aliran empedu dari hati ke kandung kemih.Atresia bilier adalah penyakit yang biasanya terdeteksi saat bayi berusia 2 minggu. Awalnya, kulitnya terlihat berwarna kekuningan.Pada bayi yang mengalami ikterus, menjemur atau menjalani perawatan fototerapi bisa membantu menurunkan kadar bilirubin. Namun pada penyakit atresia bilier, gejalanya bisa jauh lebih kompleks dan tidak bisa hanya dengan dijemur saja.

Gejala penyakit atresia bilier

Selain kulit dan mata berwarna kekuningan, ada beberapa gejala penyakit atresia bilier pada bayi. Apabila terdeteksi salah satu dari beberapa gejala ini, jangan sepelekan dan segera periksakan bayi ke dokter.Beberapa gejala penyakit atresia bilier adalah:
  • Urine berwarna lebih gelap
  • Tinja berwarna pucat seperti dempul
  • Tinja beraroma sangat bau
  • Limpa membesar
  • Pertumbuhan lambat
  • Berat badan gagal naik atau bahkan mengalami penurunan
Empedu berfungsi untuk pencernaan dan membawa zat sisa. Namun pada bayi yang menderita atresia bilier, saluran empedu di hati tersumbat. Akibatnya, akan ada penumpukan zat sisa di hati yang bisa menyebabkan hati mengalami kerusakan.Untuk menanganinya, dokter akan merekomendasikan operasi. Tingkat keberhasilan operasi akan semakin tinggi apabila dilakukan sebelum bayi berusia 2 bulan. Apabila hati telah mengalami kerusakan, maka perlu transplantasi hati.

Penyebab atresia bilier

Penyakit atresia bilier bukanlah penyakit genetik atau yang diturunkan dari orangtua ke anak mereka. Beberapa penyebab terjadinya atresia bilier adalah:Selain beberapa pemicu atresia bilier di atas, bayi yang terlahir prematur juga memiliki risiko lebih besar mengalaminya.

Cara mendiagnosis atresia bilier

Gejala-gejala atresia bilier sekilas menyerupai masalah kesehatan lain pada bayi, seperti kondisi hepatitis dan kolestasis. Oleh karena itu, bayi yang menunjukkan gejala atresia bilier sebaiknya segera diperiksakan ke dokter anak untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Untuk memastikan diagnosis atresia bilier pada bayi, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang seperti:
  • Foto Rontgen dan USG pada perut bayi yang berguna untuk memantau kondisi hati dan empedu
  • Pemeriksaan Rontgen dengan menggunakan zat kontras pada saluran empedu (Cholangiography)
  • Tes darah untuk memeriksa kadar bilirubin yang ada di dalam tubuh bayi
  • Biopsi hati untuk memeriksa kondisi hati dari sampel jaringan
  • ERCP (endoscopic retrograde cholangiopancreatography) untuk mengevaluasi kondisi empedu, pankreas, dan hati pada bayi.
Selain itu, dokter juga biasanya akan melakukan tes hepatobiliary iminodiacetic acid (HIDA) atau cholescintigraphy untuk memeriksa fungsi saluran dan kantung empedu bayi Anda.

Cara mengatasi atresia bilier

Atresia bilier adalah penyakit yang harus ditangani dengan prosedur operasi. Setelah pemeriksaan lebih jauh dan detil, dokter akan mendiskusikan pilihan operasi apa yang sebaiknya dilakukan.Beberapa cara mengatasi atresia bilier adalah:
  • Prosedur Kasai

Ini adalah prosedur operasi yang menghubungkan bagian usus ke hati. Tujuannya agar cairan empedu bisa mengalir langsung di antara kedua organ tersebut. Operasi Kasai perlu dilakukan sesegera mungkin setelah bayi terdiagnosis mengalami atresia bilier.Meski demikian, ada kemungkinan saluran empedu akan kembali mengalami gangguan. Dalam jangka panjang, kerap kali penderita atresia bilier perlu mendapatkan transplantasi hati.
  • Transplantasi hati

Transplantasi hati adalah prosedur mengganti hati yang telah rusak dengan hati dari donor. Bagian yang ditransplantasi bisa seluruh bagiannya atau sebagian saja. Transplantasi hati bisa diperoleh dari donor atau kerabat dengan kecocokan jaringan dengan pasien.Setelah mendapatkan transplantasi hati, pasien perlu mengonsumsi obat tertentu agar sistem kekebalan tubuhnya tidak menolak atau menyerang donor hati. Pascatransplantasi, kondisi bayi harus terus dipantau oleh pihak medis.

Perjuangan Annistyn menghadapi atresia bilier

Salah satu kisah perjuangan menghadapi atresia bilier datang dari Annistyn Kate, anak perempuan yang lahir pada 1 Oktober 2012 dan didiagnosis menderita penyakit langka atresia bilier. Pada usia 2 bulan, Annistyn disarankan untuk menjalani operasi Kasai.Prosedur Kasai berlangsung sekitar 9 jam dan perlu waktu seminggu untuk pemulihan. Setelah dua hari dibawa ke rumah, Annistyn harus kembali ke rumah sakit karena didiagnosis mengalami infeksi liver. Sejak itu, Annistyn perlu mengonsumsi antibiotik untuk mengobatinya.Pada malam Natal, lagi-lagi Annistyn harus berada di rumah sakit hingga 5 hari kemudian. Seakan belum cukup, tim medis mendiagnosis Annistyn memerlukan transplantasi hati karena prosedur Kasai yang dilakukan tidak cukup untuk menangani atresia bilier yang dialaminya.Prosedur Kasai hanya langkah sementara dan Annistyn tetap dinyatakan perlu mendapatkan transplantasi hati. Dari kisah yang dimuat di website American Liver Foundation, Annistyn tumbuh sehat bahkan menjadi gadis mungil yang mandiri dan bisa mengonsumsi obatnya sendiri.Contoh kisah dari Annistyn Kate dan penderita penyakit langka atresia bilier lainnya berharap suatu saat nanti ada terobosan medis baru yang dapat meningkatkan harapan kesembuhan penderita atresia bilier.
penyakit kuningbilirubinjaundice
American Liver Foundation. https://liverfoundation.org/annistyn-k/
Diakses 22 November 2019
American Liver Foundation. https://liverfoundation.org/for-patients/about-the-liver/diseases-of-the-liver/biliary-atresia/
Diakses 22 November 2019
National Organization for Rare Disorders. https://rarediseases.org/rare-diseases/extrahepatic-biliary-atresia/
Diakses 22 November 2019
Stanford Children’s Health. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=biliary-atresia-90-P01982
Diakses 22 November 2019
NIH. https://www.niddk.nih.gov/health-information/liver-disease/biliary-atresia
Diakses pada 5 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait