Bayi Jalan Jinjit, Apakah Ini Normal?


Bayi jalan jinjit normal hingga ia berusia 2 tahun. Namun jika si Kecil masih terus berjinjit, bisa jadi ia mengalami gangguan pada otot kakinya. Bagaimana mengatasinya?

(0)
Bayi jalan jinjit dianggap normal hingga ia berusia 2 tahunBayi jalan jinjit adalah hal yang normal hingga ia berusia 2 tahun
Melihat bayi jalan jinjit kadang membuat orang tua cukup keheranan. Bahkan, timbul pertanyaan, “apakah bayi jalan jinjit normal?”Tentu, orang tua perlu mengetahui jawabannya segera. Jika memang disebabkan oleh gangguan tertentu, si Kecil bisa mendapatkan penanganan yang tepat dari dokter.

Bayi jalan jinjit, apakah normal?

Jalan jinjit dianggap normal sampai berusia 2 tahun
Jalan jinjit dianggap normal sampai berusia 2 tahun
Berjalan jinjit umum dilakukan oleh anak-anak yang baru belajar berjalan hingga usianya 2 tahun sebagai bagian dari perkembangan motorik bayi.Bayi biasanya sudah bisa berjalan saat ia berusia 12 hingga 14 bulan. Beberapa bayi ada yang memulai berjalan dengan bertumpu pada ujung jari kaki.Setelah 3-6 bulan terbiasa belajar jalan, anak biasanya mulai mengurangi kebiasaannya berjinjit. Jalan berjinjit akan sepenuhnya berakhir saat buah hati Anda menginjak akhir tahun ketiga.Akan tetapi, anak bisa terus jalan berjinjit karena sudah menjadi kebiasaan. Beberapa anak juga mungkin memiliki otot betis yang lebih kencang seiring dengan pertumbuhannya sehingga ia jadi berjinjit.Pada kasus yang langka, cara berjalan berjinjit yang tidak menghilang sama sekali pada usia 2 tahun ke atas dapat menandakab Si Kecil mengalami gangguan medis.

Penyebab jalan jinjit pada bayi karena adanya gangguan

Autisme erat kaitannya dengan jalan jinjit
Autisme erat kaitannya dengan jalan jinjit
Jalan jinjit bisa jadi hanya karena anak sudah terbiasa begitu saat belajar berjalan.Hanya saja, hal ini bisa jadi karena ada kondisi medis, seperti:

1. Tendon Achilles yang pendek

Jaringan penghubung antara otot kaki bawah dan tulang tumit yang terlalu pendek membuat tumit kesulitan menyentuh permukaan.Oleh karena itu, bayi pun bertumpu pada ujung jarinya sehingga ia jadi jalan berjinjit.

2. Cerebral palsy

Cerebral palsy adalah kelainan otak yang membuat bayi tidak mampu mengontrol ototnya.Menurut riset terbitan The Journal of South Dakota State Medical Association, jenis cerebral palsy yang biasanya menyebabkan bayi jalan jinjit adalah cerebral palsy spastic diplegia.Jenis cerebral palsy ini ditandai dengan adanya peningkatan ketegangan otot di bagian tungkai. Jadi, otot kaki kaku dan gerakannya pun terbatas.

3. Distrofi otot

Distrofi otot adalah kondisi otot yang melemah. Biasanya, jenis distrofi otot yang menyebabkan bayi jalan berjinjit adalah Duchenne Muscular Dystrophy (DMD).Menurut riset terbitan PLoS One, distrofi otot yang satu ini terjadi karena tubuh kekurangan distrofin.Distrofin adalah sekumpulan protein yang berguna untuk memperkuat serat otot dan melindunginya dari cedera selama otot dalam keadaan istirahat atau kontraksi.Kondisi ini lebih umum terjadi pada anak laki-laki. Per 3.500 kelahiran bayi laki-laki, satu di antaranya mengalami kondisi ini.Selain berjalan jinjit, gejala distrofi otot lainnya adalah:
  • Sering terjatuh
  • Sulit berdiri setelah tiduran atau duduk
  • Kesulitan berlari dan lompat
  • Goyah saat berjalan
  • Otot betis membesar
  • Nyeri otot
  • Kesulitan belajar
  • Pertumbuhan tertunda.

4. Autisme

Jalan jinjit pada bayi erat kaitannya dengan autisme.Sampel dari penelitian terbitan Journal of Children's Orthopaedics menunjukkan bahwa dari 5.739 anak yang didiagnosis autisme, 8,4% di antaranya berjalan jinjit.Sejauh ini, hubungan pasti antara jalan dengan berjinjit dan autisme belum ditemukan secara pasti. Namun, menurut buku Comprehensive Guide to Autism menyatakan bahwa ada kemungkinan keduanya berkaitan dengan reflek bayi baru lahir yang tak kunjung berkurang atau ada kesulitan dalam merespon apa yang dirasakan dari pancaindra.Namun perlu diingat, apabila buah hati Anda berjalan jinjit ia tidak serta-merta memiliki gejala autisme. Hanya dokter yang dapat mendiagnosis autisme.

5. Bayi lahir prematur

Bayi lahir prematur meningkatkan risiko jalan jinjit
Bayi lahir prematur meningkatkan risiko jalan jinjit
Kelahiran prematur tidak langsung berkaitan dengan penyebab kondisi ini. Namun, saat baru lahir, tumit bayi prematur kerap kali disuntik untuk pengecekan darah.Rupanya, hal ini membuat jaringan pada tumitnya rusak sehingga menjadi terlalu sensitif. Ia pun tidak terlalu nyaman jika tumitnya menyentuh permukaan. Namun, hal ini tidak selalu terjadi.

6. Gangguan keseimbangan

Bila Si Kecil berjalan jinjit, ada kemungkinan mereka terlalu peka terhadap rangsangan sensorik dari permukaan atau malah justru kurang peka. Jadi, hal ini pun menyulitkan koordinasi tubuhnya.Biasanya, ada kemungkinan bayi memiliki masalah sistem vestibular, yaitu sistem yang meliputi telinga bagian dalam dan otak yang memproses kontrol keseimbangan dan gerakan mata.Anak yang memiliki masalah pada sistem vestibular memiliki cara jalan yang tidak lazim. Mereka bisa jadi tidak menyukai menapak lantai sehingga mereka berjalan berjinjit.

Cara melatih berjalan bayi agar tidak jinjit

Memang, jalan jinjit bisa jadi akibat beberapa gangguan kesehatan. Meski demikian, Anda bisa melatih Si Kecil agar terbiasa berjalan normal. Inilah cara melatih berjalan agar tidak jinjit:

1. Peregangan betis

Inilah tahapan cara peregangan betis pada bayi:
  • Biarkan bayi terlentang di kasur yang nyaman
  • Luruskan lutut dan betis, pegang betis dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menaikkan kakinya. Pastikan pergelangan kaki dan tumitnya tetap menyentuh kasur.
  • Tahan posisi tersebut selama 15-30 detik, sebisa kemampuan kaki Si Kecil. Pastikan ia tidak merasa sakit.
  • Posisikan kaki ke posisi semula, ulangi sebanyak 10 kali di setiap kaki setiap hari.

2. Peregangan tendon achilles

Inilah cara yang bisa Anda lakukan:
  • Pastikan Si Kecil terlentang di kasur yang nyaman
  • Tekuk lututnya, genggam betisnya dengan lembut, angkat kakinya, tekuk pergelangan kakinya
  • Tahan posisi ini semaksimal mungkin selama 15 detik. Pastikan ia tidak kesakitan.
  • Kembalikan ke posisi semula. Ulangi latihan ini sebanyak 10 kali selama hari untuk setiap kaki.

3. Latihan duduk-berdiri

Inilah tahapan latihan yang bisa Anda ikuti:
  • Sediakan kursi ukuran anak-anak dan biarkan ia duduk.
  • Genggam betis Si Kecil tepat di bawah lutut, pastikan Anda menggenggamnya dengan tekanan sedang. Pastikan tumit tetap selalu di lantai.
  • Instruksikan si kecil untuk berdiri dan selalu memastikan agar tumit tetap menginjak permukaan. Lakukan ini secara berulang.

Kapan ke dokter

Anda sebaiknya bawa ke dokter jika Si Kecil tidak menghentikan kebiasaan jalan jinjit saat berusia 2 tahun ke atas. Pastikan Anda mengamati terus perilaku dan cara si Kecil, juga riwayat kehamilan Anda sendiri, untuk menjawab beberapa pertanyaan dokter saat konsultasi nanti.Biasanya, dokter akan menanyakan:
  • Apakah persalinan terjadi secara prematur atau tidak
  • Apakah mengalami komplikasi kehamilan saat mengandung buah hati
  • Apakah anak sudah bisa duduk atau berjalan sendiri
  • Apakah berjalan jinjit dengan salah satu atau kedua kaki
  • Apakah ada riwayat keluarga yang berjalan jinjit
  • Apakah anak bisa berjalan dengan menapak permukaan jika diminta
  • Apakah anak terlihat kesakitan atau lemah di kaki.
Jawaban-jawaban Anda dapat memudahkan dokter untuk menentukan penyebab bayi jalan jinjit dengan lebih akurat.

Perawatan jalan jinjit

Operasi merupakan tindakan terakhir bila perawatan jalan jinjit lainnya tidak efektif
Operasi merupakan tindakan terakhir bila perawatan jalan jinjit lainnya tidak efektif
Bila bayi telanjur terbiasa jalan jinjit, ada beberapa perawatan yang berguna untuk menguranginya, seperti:

1. Penjepit betis dan pergelangan kaki

Penjepit ini disebut juga ankle-foot orthosis. Alat ini bekerja dengan cara menjaga betis dan pergelangan kaki agar tetap tegak lurus saat berjalan.

2. Pemberian gips

Gips dapat diberikan selama 1-2 minggu agar otot lebih meregang dan posisi kaki yang benar dapat terjaga. Perawatan ini juga bisa ditambah dengan suntik Botox agar otot lebih lemas.

3. Pemanjangan tendon Achilles atau otot gastrocnemius

Sesuai pembahasan di atas, tendon Achilles yang pendek menyebabkan bayi jalan jinjit. Perlu diketahui, otot gastrocnemius adalah otot betis besar. Otot ini yang membuat betis terlihat menonjol.Pembedahan ini berguna untuk memperbaiki pergelangan kaki yang kaku. Prosedur ini dilakukan bila gips tidak menunjukkan kemajuan signifikan. Bila otot diperpanjang, maka gerakan pergelangan serta kaki menjadi lebih leluasa.

Catatan dari SehatQ

Jalan jinjit sebenarnya normal bila hingga Si Kecil berusia 2 tahun. Bila kondisi ini masih terjadi, bahkan tidak berkurang sama sekali, bisa jadi ia memiliki kondisi medis tertentu.Maka bila bayi jalan jinjit di usia 2 tahun ke atas dan diikuti dengan otot tungkai yang tegang, tendon Achilles yang kaku, atau kurangnya kemampuan koordinasi otot, bawa ke dokter anak, dokter ortopedi, dan dokter spesialis bedah anak untuk mendapatkan penanganan segera.Untuk mengetahui lebih lanjut terkait kesehatan bayi secara umum, Anda juga bisa konsultasi gratis dengan dokter melalui chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
tumbuh kembang bayibayimerawat bayiperkembangan bayi
American Academy of Orthopaedic Surgeons. https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases--conditions/toe-walking/ Diakses pada 27 April 2021KidsHealth. https://www.aboutkidshealth.ca/Article?contentid=946&language=English Diakses pada 27 April 2021Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/toe-walking/symptoms-causes/syc-20378410 Diakses pada 27 April 2021The Journal of South Dakota State Medical Association. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18432151/ Diakses pada 27 April 2021Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/ncbddd/cp/facts.html Diakses pada 27 April 2021PLoS One. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5021331/ Diakses pada 27 April 2021Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/muscular-dystrophy/symptoms-causes/syc-20375388 Diakses pada 27 April 2021MedlinePlus. https://medlineplus.gov/genetics/gene/dmd/ Diakses pada 27 April 2021Journal of Children's Orthopaedics. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6701446/ Diakses pada 27 April 2021Comprehensive Guide to Autism. https://link.springer.com/referenceworkentry/10.1007%2F978-1-4614-4788-7_24 Diakses pada 27 April 2021National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554606/ Diakses pada 27 April 2021Children's Therapy. https://childrenstherapy.org/what-is-sensory-modulation-disorder/ Diakses pada 27 April 2021Today's Parent. https://www.todaysparent.com/toddler/toddler-development/what-it-means-when-your-toddler-is-toe-walking/ Diakses pada 27 April 2021Pathways.org. https://pathways.org/what-to-know-about-toe-walking/ Diakses pada 27 April 2021Vestibular Disorders Association. https://vestibular.org/article/what-is-vestibular/about-vestibular-disorders/ Diakses pada 27 April 2021Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/toe-walking Diakses pada 27 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait