Batuk Rejan Mudah Menular, Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

(0)
08 Aug 2019|Armita Rahardini
Batuk rejan pada anakBatuk rejan ditandai oleh suara tarikan napas kencang (whoop) di awal atau sela-sela batuk tiada henti
Batuk rejan merupakan penyakit menular yang ditimbulkan oleh bakteri, yang menyerang saluran pernapasan. Dikenal juga dengan nama pertusis atau batuk seratus hari, batuk ini dicirikan dengan suara tarikan napas kencang (whoop) di awal atau sela-sela batuk tiada henti pada orang yang terkena penyakit ini.Pertusis sangat berbahaya, terutama jika terjadi pada bayi. Karena itu, ketahui seluk-beluknya di bawah ini agar bisa diatasi dengan tepat.

Penyebab batuk rejan

Batuk rejan disebabkan oleh bakter Bordetella pertussis
Bakteri yang menimbulkan batu rejan adalah Bordetella pertussis. Bakteri ini hanya bisa berkembang biak di dalam tubuh manusia.Penularan bakteri terjadi lewat kontak langsung dengan partikel-partikel dalam percikan air, yang dikeluarkan oleh penderita batuk rejan saat ia batuk.Bordetella pertussis kemudian berkembang di dalam saluran pernapasan manusia, kemudian mengeluarkan toksin yang merusak rambut-rambut halus (cilia) di saluran pernapasan.Rambut-rambut halus tersebut berfungsi menyaring kotoran dan debu yang ikut terhirup masuk saat manusia bernapas. Rusaknya cilia menyebabkan saluran napas mengalami peradangan.Infeksi dan peradangan saluran napas akibat pertusis ditandai dengan batuk kering. Batuk rejan sudah bisa menular pada hari ketujuh setelah infeksi bakteri terjadi hingga tiga minggu setelah gejala batuk muncul.Pada awalnya, pertusis dianggap hanya menyerang bayi dan anak-anak. Akan tetapi, beberapa riset menemukan bahwa orang dewasa juga bisa terkena batuk rejan. Bahkan 25% dari kasus batuk ini, penderitanya adalah orang dewasa.Pada orang dewasa dan remaja, gejala pertusis umumnya lebih ringan. Cenderung lebih mirip infeksi saluran napas atas, batuk, atau pilek biasa.Di situlah letak bahayanya penyakit pertusis, penderita dewasa sering tidak terdiagnosis dengan benar. Sebagai akibatnya, ia akan menularkan batuk rejan pada orang-orang di sekitarnya, terutama pada bayi dan anak-anak yang sangat rentan.Batuk rejan tergolong sangat menular. Saat seseorang terkena pertusis, bisa terjadi 75 sampai 100 persen penularan pada anggota keluarga yang tidak diimunisasi dan tinggal serumah dengan penderita. Bahkan pada anggota keluarga yang sudah diimunisasi pun, masih bisa terjadi penularan bila ada kontak langsung yang intens dengan penderita.

Gejala batuk rejan dan bahayanya

Batuk tiada henti merupakan gejala dari batuk rejan
Pada awalnya, batuk rejan akan menampakkan gejala yang sama dengan flu, yaitu bersin-bersin, batuk, pilek dan demam ringan.  Batuk-batuk parah akan mulai terjadi pada 7 sampai 10 hari kemudian.

1. Batuk tiada henti dan suara whoop

Penderita akan mengalami batuk kering yang tidak berhenti selama beberapa menit, dan lebih sering terjadi di malam hari. Batuk tiada henti ini akan membuat penderita kesulitan menarik napas.Ketika mencoba menarik napas di sela-sela serangan batuk, biasanya akan terdengar suara menarik napas kencang yang berbunyi whoop. Walalu begitu, tidak semua penderita pasti mengalami ini.

2. Wajah membiru sesaat pada bayi dan anak-anak

Batuk-batuk parah akan menyebabkan wajah penderita menjadi merah, bahkan bisa terjadi perdarahan ringan di bawah kulit serta di mata. Karena batuk rejan sifatnya kering, seseorang bisa batuk terus-menerus selama 1 menit. Pada bayi dan anak-anak, bisa terjadi kesulitan napas saat batuk-batuk, yang menyebabkan mereka membiru untuk sesaat karena kekurangan oksigen.

3. Henti napas pada bayi

Pada bayi (terutama yang berusia di bawah enam bulan), batuk rejan tergolong penyakit yang berbahaya. Bayi di bawah 18 bulan yang terkena pertusis harus diawasi sepanjang waktu karena penyakit ini bisa menyebabkan mereka berhenti bernapas.Segera bawa ke rumah sakit dan periksakan ke dokter bila Anda mencurigai bayi Anda terkena batuk rejan atau menunjukkan gejala dari batuk ini.Orang dewasa yang terkena pertusis bisa saja tidak menunjukkan gejala separah bayi dan anak-anak. Sebagian penderita dewasa hanya menderita batuk yang tak kunjung sembuh.Pada akhirnya, batuk rejan memang akan mereda pada orang dewasa. Tetapi penyembuhan ini bisa butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya batuk benar-benar menghilang.

Komplikasi batuk rejan

Beberapa komplikasi yang bisa terjadijika Anda mengalami batuk rejan. Beberapa diantaranya adalah:
  • Pneumonia
  • Kejang
  • Mimisan dan perdarahan otak
  • Pecahnya pembuluh darah di kulit atau mata
  • Hernia pada perut (hernia abdominalis)
  • Infeksi telinga, seperti otitis media
  • Meningkatnya risiko mengalami gangguan paru-paru dan saluran pernapasan dikemudian hari
  • Kerusakan otak karena kurangnya pasokan oksigen atau disebut ensefalopati hipoksia
  • Memar atau retaknya tulang rusuk

Bagaimana cara mengobati batuk rejan?

Pengobatan batuk rejan tergantung dari usia dan lamanya infeksi
Pengobatan untuk pertusis tergantung dari usia penderita dan berapa lama infeksi sudah terjadi. Bayi di bawah usia enam bulan yang terkena pertusis dan penderita dengan gejala batuk yang amat parah, biasanya akan dirawat di rumah sakit.Sementara itu, pengobatan bagi anak di atas enam bulan dan orang dewasa umumnya meliputi:

1. Infeksi di bawah tiga minggu

Penderita dewasa yang terdiagnosis dalam waktu di bawah tiga minggu setelah terinfeksi umumnya akan diberi antibiotik. Mereka juga tidak perlu dirawat di rumah sakit.Obat antibiotik akan membunuh bakteri pemicu pertusis sekaligus mencegah penularan lebih lanjut. Namun obat ini seringkali tidak bisa segera mengurangi gejala yang berupa batuk-batuk.

2. Infeksi di atas tiga minggu

Jika terdiagnosis di atas dari tiga minggu setelah terinfeksi, dokter umumnya tidak memberikan antibiotik. Pasalnya, obat antibiotik sudah tidak terlalu berpengaruh dan penyakit batuk rejan pun telah melewati masa penularannya. Penanganan dari dokter akan berfokus pada penyembuhan gejala batuk.Sementara itu, untuk mencegah batuk rejan, cara terbaik adalah dengan menerima vaksin pertusis. Vaksin ini termasuk dalam imunisasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus).Di Indonesia sendiri, vaksin DPT merupakan salah satu imunisasi dasar yang wajib diberikan pada bayi dan bisa didapatkan di fasilitas kesehatan terdekat. Jadi, lebih baik lindungi bayi Anda dari batuk rejan dengan imunisasi.

Cara mencegah batuk rejan

Cara efektif untuk mencegah batuk rejan adalah memastikan Anda telah melakukan vaksinasi atau imunisasi pertusis. Vaksin ini umumnya akan diberikan dokter atau bidan bersamaan dengan vaksin difteri, tetanus, dan polio (vaksinasi DTP).Jadwal imunisasi dasar untuk DTP adalah saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan. Namun, jika bayi berhalangan untuk melakukan imunisasi pada jadwal tersebut, orangtua di sarankan untuk membawa anak Anda untuk melakukan imunisasi kejar (cacth up) sesuai jadwal yang diberikan oleh dokter anak.Anak sebaiknya melakukan imunisasi lanjutan (booster) agar manfaatnya optimal hingga dewasa. Imunisasi ini dilakukan sebanyak 4 kali, yaitu pada usia 18 bulan, 5 tahun, 10–12 tahun, dan 18 tahun. Imunisasi booster ini dianjurkan untuk diulangi setiap 10 tahun sekali.Ibu hamil juga direkomendasikan untuk melakukan vaksinasi booster saat memasuki usia kehamilan 27–36 minggu. Vaksinasi pertusis saat hamil diketahui dapat melindungi bayi terserang batuk rejan pada minggu-minggu awal setelah dilahirkan. Selain melakukan vaksinasi, Anda juga sebaiknya melakukan pola hidup bersih dan sehat untuk meningkatkan sistem imun dalam tubuh.
imunisasi anakbatuk rejanbatuk kering
e-medicinehealth. https://www.emedicinehealth.com/whooping_cough_pertusis/article_em.htm#what_causes_whooping_cough
Diakses pada 6 Agustus 2019
WebMD. https://www.webmd.com/children/whooping-cough-symptoms-treatment#1
Diakses pada 6 Agustus 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/whooping-cough/
Diakses pada 6 Agustus 2019
Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/viewFile/1120/pdf_1
Diakses pada 27 November 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6404696/
Diakses pada 27 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait