Batuk Akibat Bakteri Bordetella pertussis, Mengapa Disebut Batuk 100 Hari?

(0)
01 Jul 2020|Azelia Trifiana
Batuk 100 hari disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussisBatuk 100 hari juga disebut dengan nama batuk rejan
Batuk rejan atau batuk 100 hari adalah jenis infeksi pernapasan serius akibat bakteri Bordetella pertussis. Orang yang terinfeksi penyakit yang disebut juga pertussis ini bisa merasakan batuk yang sulit dikendalikan bahkan menyulitkan pernapasan. Semua orang bisa terkena batuk rejan, lebih berbahaya dan mematikan jika menginfeksi bayi dan anak-anak.Kabar baiknya sejak ada vaksinasi DTP untuk mencegah terinfeksi bakteri Bordetella pertussis, jumlah kasus pertussis pada anak-anak semakin menurun. Sebelum ada vaksinasinya, batuk rejan termasuk salah satu penyakit paling mematikan di Amerika Serikat.

Gejala batuk 100 hari

Periode inkubasi sejak pertama kali terinfeksi bakteri dan mulai munculnya gejala batuk 100 hari berkisar antara 5-10 hari. Meski demikian, terkadang gejalanya tidak muncul hingga 3 minggu kemudian.Beberapa gejala batuk 100 hari adalah:
  • Hidung berair
  • Demam
  • Napas sesak
  • Mata berair dan kemerahan
  • Batuk kering terus menerus
  • Kesulitan bernapas
  • Perlu mengambil napas sekuat tenaga setelah batuk
  • Muntah
  • Ruam biru atau keunguan di sekitar mulut
  • Dehidrasi
Batuk 100 hari bisa sangat menular ketika bakteri dari penderitanya mengenai orang lain. Utamanya ketika batuk, bersin, tertawa, atau berbicara dalam jarak dekat. Segera cari pertolongan medis terutama jika anggota keluarga terdekat belum melakukan vaksinasi DTP.

Penanganan batuk 100 hari

Sebelum memberikan penanganan, dokter perlu melakukan diagnosis pasti terhadap batuk 100 hari yang diderita. Langkahnya lewat pemeriksaan fisik sekaligus mengambil sampel lendir di hidung dan tenggorokan. Kemudian, sampel ini akan dites untuk mengetahui apakah ada bakteri Bordetella pertussis atau tidak.Selain itu, terkadang dokter juga meminta pemeriksaan darah agar diagnosis semakin akurat.Penanganan batuk 100 hari untuk bayi dan anak-anak biasanya dilakukan di rumah sakit untuk memastikan asupan cairan tercukupi dan tidak mengalami dehidrasi. Mengingat pemicu batuk 100 hari adalah bakteri, dokter akan memberikan antibiotik yang harus diminum hingga habis.Meski demikian, perlu diperhitungkan pula risiko terjadinya efek samping memberikan antibiotik kepada bayi dan anak-anak.Dokter juga biasanya akan merekomendasikan menggunakan humidifier untuk memastikan udara di kamar tidur anak tetap lembap dan meringankan gejala batuk 100 hari.Tak kalah penting, perlu observasi ketat ketika bayi atau anak-anak menderita batuk 100 hari demi menghindari risiko komplikasi, utamanya karena kekurangan oksigen. Beberapa risiko komplikasi lainnya meliputi:
  • Kerusakan otak
  • Pneumonia
  • Kejang
  • Pendarahan otak
  • Sleep apnea
  • Konvulsi (otot mengalami kontraksi dengan cepat)
  • Kematian
Selain itu, orang dewasa juga punya kemungkinan mengalami komplikasi apabila batuk 100 hari tidak segera ditangani, seperti:
  • Kesulitan tidur
  • Inkontinensia urine
  • Pneumonia
  • Tulang rusuk patah
Tidak berlebihan jika penyakit ini diberi julukan batuk 100 hari karena memang gejalanya bisa berlangsung hingga berbulan-bulan lamanya, meski sudah menjalani perawatan sekalipun.Apabila intervensi medis diberikan sedini mungkin, maka kemungkinan sembuh lebih cepat pun semakin besar. Risiko kematian terbesar ada pada bayi, itu sebabnya penanganan medis harus segera dilakukan.Untuk itu, langkah paling bijak adalah dengan memberikan vaksinasi DTP pada usia 2, 4, dan 6 bulan. Kemudian, perlu ada tambahan atau booster ketika anak memasuki usia 15-18 bulan, dan 4-6 tahun.Tak hanya anak-anak, remaja yang menginjak usia 11 tahun juga perlu melakukan vaksinasi DTP lagi untuk mencegah terinfeksi batuk 100 hari, difteri, dan juga tetanus. Orang dewasa yang rentan terpapar bakteri ini karena profesi atau kondisi medis juga bisa melakukan vaksinasi.Ibu hamil juga bisa mendapatkan vaksinasi ketika usia kehamilannya menginjak 27-36 minggu. Tak hanya untuk dirinya, vaksinasi ini juga akan memberikan proteksi kepada bayi pada beberapa bulan awal kelahirannya.
penyakitbatuk rejanbatuk kering
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/whooping-cough/symptoms-causes/syc-20378973#:~:text=Whooping%20cough%20(pertussis)%20is%20a,was%20considered%20a%20childhood%20disease.
Diakses pada 14 Juni 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/pertussis
Diakses pada 14 Juni 2020
CDC. https://www.cdc.gov/pertussis/index.html
Diakses pada 14 Juni 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait