Bakteriofag, Ketika Virus Jadi Pahlawan Penumpas Bakteri


Bukan hanya manusia, bakteri juga bisa terjangkit virus. Kondisi ini disebut dengan bakteriofag. Kata “bacteriophage” berarti “pemakan bakteri” karena bakteriofag cenderung menghancurkan sel inang mereka.

0,0
07 Sep 2021|Azelia Trifiana
Virus dapat memakan bakteriVirus dapat memakan bakteri
Bukan hanya manusia, bakteri juga bisa terjangkit virus. Kondisi ini disebut dengan bakteriofag. Kata “bacteriophage” berarti “pemakan bakteri” karena bakteriofag cenderung menghancurkan sel inang mereka.Menariknya, dunia teknologi pangan juga menemukan potensi bakteriofag untuk melawan infeksi bakteri. Artinya, bisa menjadi alternatif selain antibiotik. Namun, terapi jenis ini masih menuai kontroversi.

Asal mula konsep bakteriofag

Bacteriophage berasal dari dua kata, yaitu bacteria dan phagein. Kata “phagein” berarti “dimakan”. Artinya, bakteriofag adalah fenomena virus yang menyerang bakteri.Temuan ini pertama kali digagas oleh ahli bakteriologi asal Inggris bernama Frederick William Twort pada tahun 1915. Menurutnya, virus bertanggung jawab terhadap observasinya sebelum ini, bahwa keberadaannya dapat menjadi salah satu faktor pembunuh bakteri.Dua tahun kemudian, Felix d’Herelle juga menemukan potensi virus dalam membunuh bakteri. Ia adalah seorang mikrobiolog asal Prancis. Berdasarkan potensi itu, d’Herelle melakukan studi mendalam tentang virus. Termasuk proses replikasi dan adaptasinya.Penelitian ini juga termasuk titik awal biologi molekular. Sempat ada kontroversi saat konsep ini diperkenalkan. Sebab, banyak yang meragukan eksistensi bakteriofag dan juga konsep terapi virus memakan bakteri.

Terobosan cara melawan bakteri

Selama ini, obat untuk mengatasi infeksi bakteri adalah dengan mengonsumsi antibiotik. Dengan adanya penemuan tentang bakteriofag, ini mencetuskan konsep terapi fag atau bacteriophage therapy. Artinya, virus digunakan untuk menyembuhkan infeksi bakteri.Secara alami, bakteriofag adalah musuh utama bakteri. Bakteriofag mudah ditemukan di mana-mana, air, tanah, hingga di dalam tubuh manusia. Secara alami, adanya virus ini membantu pertumbuhan bakteri agar tetap terkendali.Dalam terapi ini, bakteriofag membunuh bakteri dengan mengikatnya lalu membuatnya hancur atau pecah. Virus menginfeksi bakteri dengan cara menyuntikkan gen DNA atau RNA.Kemudian, virus akan mereproduksi atau memperbanyak dirinya di dalam bakteri. Dalam satu bakteri, bisa terdapat lebih dari seribu virus baru. Dari situlah virus akan memecahkan bakteri dan menghasilkan bakteriofag baru.Mengingat sifatnya sebagai parasit, bakteriofag memerlukan tubuh bakteri untuk tumbuh dan berkembang biak. Setelah seluruh bakteri sudah mati, mereka akan berhenti memperbanyak diri.Sama seperti virus lain, bakteriofag bisa menjalani hibernasi hingga ada bakteri lain yang bisa menjadi inang berikutnya.Dibandingkan dengan antibiotik, ada beberapa kelebihan bakteriofag dalam melawan bakteri, seperti:
  • Bisa membunuh bakteri yang resisten atau kebal terhadap antibiotik
  • Bisa digunakan sendiri atau digabung dengan antibiotik
  • Bisa memperbanyak diri sendiri sehingga hanya perlu satu dosis
  • Tidak terlalu mengganggu bakteri baik di dalam tubuh
  • Mudah ditemukan dan alami
  • Tidak beracun terhadap tubuh manusia
  • Tidak berpotensi meracuni binatang, tanaman, dan lingkungan

Kekurangan bakteriofag

Di sisi lain, tentu ada pertimbangan pula mengapa hingga kini bakteriofag belum terlalu umum digunakan. Sebab, terapi ini perlu lebih banyak lagi penelitian untuk membuktikan seberapa efektif cara kerjanya.Jika dirunut, berikut ini beberapa potensi kekurangan bakteriofag:
  • Sulit disiapkan agar bisa dikonsumsi manusia atau hewan
  • Tidak diketahui berapa rekomendasi dosisnya
  • Tidak diketahui perlu berapa lama hingga terapi ini bekerja
  • Sulit menemukan bakteriofag yang sama untuk mengobati sebuah infeksi
  • Bisa memicu sistem imun bereaksi berlebih
  • Beberapa jenis fag tidak efektif mengobati infeksi bakteri
  • Ada potensi membuat bakteri menjadi kebal
  • Mungkin tidak ada cukup bakteriogaf untuk melawan semua infeksi bakteri
Beberapa kekurangan ini yang membuat bakteriofag lebih bersifat alternatif. Artinya, akan diberikan apabila pengobatan infeksi bakteri dengan cara pemberian antibiotik tidak membuahkan hasil.

Digunakan atau tidak?

Dulu sebelum antibiotik ditemukan, ada cukup banyak penelitian seputar potensi bakteriofag untuk mengobati infeksi bakteri pada manusia. Mereka dianggap ideal karena hanya menyerang bakteri inangnya saja, bukan sel-sel dalam tubuh manusia.Inilah yang membuat bacteriophage menjadi kandidat ideal untuk mengobati infeksi bakteri. Bahkan, ada penelitian juga yang menyebut bakteriofag adalah cara efektif mencegah penyakit akibat keracunan makanan.Namun setelah antibiotik ditemukan, banyak negara yang tidak lagi memperdalam studi tentang potensi bakteriofag. Hanya saja, ada negara-negara yang masih menggunakannya secara medis. Contohnya di Rusia, Georgia, dan Polandia.Tentu masih ada minat untuk mengangkat lagi potensi tentang bakteriofag ini dalam menyembuhkan infeksi bakteri.Terlebih, pernah ada kisah sukses dari seorang pria asal California yang akhirnya sembuh setelah terapi fag. Sebelumnya, pria berusia 68 tahun ini menderita infeksi bakteri Acinetobacter baumannii yang kebal akan antibiotik. Padahal sebelumnya, pemberian antibiotik telah diupayakan selama tiga bulan.Jadi, apakah terapi bakteriofag ini akan digunakan atau ditinggalkan? Waktu yang bisa menjawab.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar bagaimana infeksi bakteri menyerang manusia, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
makanan sehatmakanan diethidup sehat
American Society of Microbiology. https://journals.asm.org/doi/pdf/10.1128/AAC.00954-17
Diakses pada 23 Agustus 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/phage-therapy
Diakses pada 23 Agustus 2021
Viruses and Man: A History of Interactions. https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-3-319-07758-1_4
Diakses pada 23 Agustus 2021
Morgridge Institute for Research. https://morgridge.org/community/teaching-learning/virology-immunology/factsheets/bacteriophage-fact-sheet/
Diakses pada 23 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait