Bahaya Styrofoam untuk Kesehatan Bisa Dihindari, Ini Caranya

(0)
30 Aug 2020|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Bahaya styrofoam sangat serius untuk kesehatan, termasuk memicu kanker.Bahaya styrofoam tidak boleh dipandang sebelah mata.
Menggunakan styrofoam sebagai wadah makanan dianggap sebagai hal yang praktis dan murah. Padahal, kampanye bahaya styrofoam terhadap kesehatan manusia sudah lama digaungkan. Bahkan alternatif wadah makanan yang lebih aman pun sudah banyak dijual di pasaran.Styrofoam sendiri adalah nama populer dari extruded polysyrene foam (APS) atau busa polistiren yang diekstrusi. Styrofoam terbuat dari polistiren, yakni zat kimia yang sifatnya ringan serta bisa berbentuk cair maupun diproses menjadi busa padat.Secara komersial, styrofoam banyak dimanfaatkan untuk melapisi koper hingga maupun papan seluncur. Dalam kehidupan sehari-hari pun, Anda mungkin sering menjumpai piring, mangkuk, maupun gelas berbahan styrofoam yang terasa ringan dan tidak tembus air.

Kandungan dan bahaya styrofoam untuk kesehatan manusia

Bahaya styrofoam berisiko mengganggu sistem reproduksi.
Berdasarkan penelitian dari Universitas Padjadjaran, Bahaya styrofoam datang dari zat kimia bernama stirena yang digunakan untuk membentuk wadah. Stirena (styrene) adalah komponen utama penyusun styrofoam dan zat inilah yang merupakan cikal-bakal pembentuk polistirena.Zat stirena sendiri bila masuk ke dalam tubuh manusia akan menjadi racun dan akan menyebabkan gangguan pada sistem endokrin dan juga sistem reproduksi. Bahaya styrofoam bila dilihat dari penggunaan stirena ini dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahannya, sebagai berikut:
  • Paparan sedang:
    Kondisi ini terjadi ketika jumlah stirena yang meracuni tubuh hanya sedikit. Efek yang ditimbulkan antara lain berupa gangguan pada sistem pernapasan, iritasi kulit, dan iritasi mata.
  • Paparan tinggi:
    Jika sudah sangat meracuni tubuh (misalnya akibat pemakaian styrofoam jangka panjang), maka stirena akan bersifat genotoksik (merusak DNA) dan karsiogenik (mengakibatkan kanker).
Selain kedua bahaya styrofoam di atas, stirena juga terbukti memiliki sifat ototoksik (meracuni telinga), nefrotoksik (merusak ginjal), hepatotoksik (merusak hati), bahkan menyebabkan depresi susunan saraf pusat.Ada kemungkinan juga paparan stirena dapat meningkatkan kemungkinan Anda terkena leukemia dan limfoma. Namun dugaan ini masih diteliti lebih lanjut.

Zat kimia lain yang terdapat dalam styrofoam

Selain stirena, styrofoam juga mengandung dua zat kimia lainnya, yakni butil hidroksi toluena dan klorofluorokarbon (CFC).Efek kedua bahan ini untuk kesehatan manusia mungkin tidak terlalu berbahaya dan merusak seperti halnya stirena. Namun keduanya merupakan zat kimia penyumbang kerusakan lingkungan yang cukup parah.Butil hidroksi toluena adalah salah satu jenis plasticizer alias zat yang memberi sifat kokoh pada plastik, sehingga styrofoam tidak mudah rusak atau robek. Penambahan butik hidroksi toluena mengakibatkan styrofoam tidak bisa terurai secara alami, setidaknya hingga 500 tahun ke depan.Sementara itu, CFC merupakan zat polutif yang dapat menipiskan lapisan ozon. Beberapa perusahaan pembuat styrofoam memang sudah tidak memasukkan CFC dalam bahan baku.Namun biasanya masih ada hidrofluorokarbon yang juga dapat mengakibatkan lubang di lapisan ozon, dan memicu pemanasan global.

Pro dan kontra bahaya styrofoam bagi kesehatan

Meski diklaim memiliki bahaya bagi kesehatan, styrofoam tetap dapat digunakan sebagai wadah makanan. Syaratnya, kemasan styrofoam itu memenuhi berbagai persyaratan, terutama dari segi keamanan penggunaan bahan-bahannya.Badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA) menyatakan ambang batas paparan stirena yang berbahaya bagi tubuh ialah lebih dari 90.000 mikrogram per orang per hari.Sementara itu, data menyebut stirena yang menempel pada makanan di styrofoam hanya sejumlah 6,6 mikrogram per orang setiap hari. Artinya, jumlah tersebut masih jauh di bawah ambang aman yang yang ditetapkan FDA.Inilah yang menyebabkan FDA tetap memperbolehkan pemakaian styrofoam sebagai wadah makanan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI serta pun menyatakan hal serupa. Begitu pula badan pengawas makanan lain di berbagai belahan dunia.
Sebisa mungkin, pilihlah wadah makanan selain styrofoam.
Hanya saja, BPOM tetap menyarankan masyarakat untuk melakukan langkah preventif dalam mengurangi bahaya styrofoam akibat paparan zat beracun yang ada di dalamnya, yaitu dengan:
  • Memilih styrofoam berkualitas food grade alias memiliki logo aman sebagai wadah makanan 
  • Tidak menggunakan styrofoam untuk makanan panas, asam, maupun berlemak atau berminyak
Bila memungkinkan, gunakan wadah makanan alternatif pengganti styrofoam, misalnya yang berbahan kaca atau wadah plastik BPA free.
gejala kankerkankerkeracunan
Safer Chemical. https://saferchemicals.org/2014/05/26/styrene-and-styrofoam-101-2/
Diakses pada 15 Agustus 2020
BPOM. http://ik.pom.go.id/v2016/qa/bahaya-styrofoam-sebagai-wadah-makanan-dan-minuman
Diakses pada 15 Agustus 2020
Universitas Padjadjaran. http://journal.unpad.ac.id/farmasetika/article/view/22589/10841
Diakses pada 15 Agustus 2020
Chemical Safety Facts. https://www.chemicalsafetyfacts.org/polystyrene/
Diakses pada 15 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait