logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Mental

Awas, Ini Bahaya Self-Diagnosis terhadap Gangguan Mental Anda

open-summary

Self-diagnosis adalah pengakuan diri sendiri terhadap gangguan mental tanpa berkonsultasi dengan profesional. Kondisi ini bisa menyebabkan salah penanganan.


close-summary

3.94

(16)

17 Okt 2019

| Arif Putra

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Bahaya self-diagnosis dari internet

Informasi kesehatan dari internet seharusnya menjadi acuan bagi Anda untuk menemui ahli

Table of Content

  • Apa itu self diagnosis?
  • Bahaya self-diagnosis terhadap gangguan mental yang belum tentu dialami
  • Cari bantuan dokter, jika mengalami gejala gangguan mental tertentu
  • Catatan dari SehatQ

Pascakehebohan film Joker baru-baru ini, serta diperingatinya Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober lalu, isu mengenai kesehatan mental dan jiwa kembali banyak diperbincangkan.

Advertisement

Di satu sisi, hal ini merupakan sebuah kemajuan, bahwa masyarakat mulai menunjukkan perhatian mereka dengan kesehatan dan gangguan mental, serta peduli dengan orang-orang yang menjadi penyintas. Namun sayangnya, muncul pula tren merasa memiliki gangguan mental, tanpa berkonsultasi dengan ahli kejiwaan.

Tindakan meyakini bahwa diri sendiri menderita suatu gangguan atau penyakit ini, dikenal dengan self-diagnosis. Walau merasa menunjukkan gejala psikologis tertentu, mendiagnosisnya sendiri merupakan tindakan yang berbahaya karena belum tentu Anda benar-benar menderita gangguan mental yang diyakini.

Apa itu self diagnosis?

Self-diagnosis adalah upaya mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang didapatkan secara mandiri dari sumber-sumber yang tidak profesional, misalnya teman atau keluarga, bahkan pengalaman di masa lalu.

Padahal, diagnosis diri hanya boleh ditetapkan oleh tenaga medis profesional. Proses menuju diagnosis yang tepat sangatlah sulit, bahkan ketika Anda berkonsultasi dengan dua dokter yang berbeda, hasilnya belum tentu sama.

Diagnosis harus ditentukan berdasarkan gejala, keluhan, riwayat kesehatan, serta faktor lain yang Anda alami. Saat mendiagnosis diri,seringnya Anda menyimpulkan suatu masalah kesehatan fisik maupun psikologis dengan berbekal informasi yang Anda miliki.

Bahaya self-diagnosis terhadap gangguan mental yang belum tentu dialami

Setidaknya, terdapat dua kerugian dan bahaya self-diagnosis terhadap gangguan mental, yang belum tentu Anda alami. Kedua bahaya tersebut, membuat Anda berisiko mengalami salah diagnosis (misdiagnosis), serta salah penanganan.

1. Risiko misdiagnosis

Bahaya pertama adalah risiko misdiagnosis, yang akan berdampak negatif pada diri sendiri. Misalnya, ada seseorang yang melakukan self-diagnosis bahwa ia menderita gangguan kecemasan. Padahal, jika ia mau mencari pertolongan dokter, ada kemungkinan lain berupa gejala fisik yang ia alami. Bisa saja, yang dialaminya bukanlah gangguan mental, melainkan penyakit fisik yang harus diobati, seperti kondisi aritmia.

Informasi dari internet jangan dorong Anda untuk self-diagnosis
Self-diagnosis berisiko membuat Anda mengalami kesalahan diagnosis

Karena tidak segera mencari bantuan profesional, dan melakukan self-diagnosis bahwa ia mengidap gangguan kecemasan, individu tersebut berisiko untuk melewatkan penanganan untuk kondisi aritmia atau gangguan irama jantung.

Ada banyak kriteria yang harus terpenuhi oleh seseorang, agar bisa didiagnosis oleh ahli jiwa, bahwa ia mengidap gangguan mental tertentu. Gejala gangguan mental yang satu, dengan gangguan jiwa lain, juga kerap memiliki kesamaan. Bagaimanapun, tindakan ini adalah cara yang salah untuk dilakukan.

2. Risiko kesalahan dalam penanganan

Bahaya kedua adalah risiko terjadinya kesalahan cara Anda menangani gangguan, yang belum tentu benar-benar dialami. Misalnya, Anda berisiko mengonsumsi obat ilegal. Obat-obatan tersebut, selain ilegal, juga barangkali menimbulkan efek samping, interaksi obat, kesalahan dalam cara konsumsi, hingga kesalahan dosis.

Anda juga tidak boleh mengonsumsi obat orang lain, yang tidak bisa dikonsumsi oleh semua orang. Satu jenis obat mungkin aman dikonsumi rekan Anda, namun belum tentu hal tersebut berlaku juga bagi diri Anda. Jangan konsumsi obat, tanpa adanya instruksi dari dokter.

Tak hanya itu, bahaya self-diagnosis lainnya adalah membuat Anda menunda berkonsultasi dengan ahli kejiwaan, dan mendapatkan penanganan yang paling tepat.

Menurut ahli, melakukan self-diagnosis dan meyakini diri sendiri menderita gangguan mental tertentu, tidak membantu Anda untuk pulih. Malah sebaliknya, tindakan tersebut berisiko memperburuk kondisi kejiwaan Anda.

Cari bantuan dokter, jika mengalami gejala gangguan mental tertentu

Informasi yang berlimpah di Internet, seperti gejala-gejala gangguan mental tertentu, kuis mengenai kesehatan mental, atau informasi obat penyakit mental, hanya bisa Anda jadikan sebagai acuan untuk menemui psikolog atau psikiater.

Hindari self-diagnosis dengan temui psikiater
Temui ahli kejiwaan, jika Anda merasa memiliki masalah pada kondisi psikologis

Walau memahami gejala atau menunjukkan hasil kuis tersebut dapat berguna, diagnosis hanya boleh dilakukan oleh para ahli. Sebab, psikolog dan psikiater memang berkompeten, memiliki pengetahuan, dan telah menjalani serangkaian pelatihan, untuk memahami kondisi kejiwaan seseorang. Selain itu, mereka lebih objektif dalam menyelami permasalahan yang tengah mendera Anda.

Baca Juga

  • 10 Manfaat Senyum, Baik untuk Kesehatan dan Kebahagiaan
  • Fakta Terkait Stigma Gangguan Jiwa yang Berkembang di Masyarakat
  • Mengenal Jenis Hormon Kebahagiaan dan Cara Efektif Meningkatkannya

Catatan dari SehatQ

Informasi dari Internet dan media tidak dapat digunakan, sebagai cara untuk melakukan self-diagnosis terhadap gangguan mental (maupun penyakit fisik), yang belum tentu benar-benar Anda idap. Meningkatkan awareness terhadap mental illness itu penting, sangat diperlukan. Hanya saja, membekali diri dengan pengetahuan, tidak sama dengan melakukannya.

Informasi dan pengetahuan dari Internet dan media, seharusnya hanya Anda jadikan sebagai dorongan untuk mencari bantuan profesional. Berkonsultasi dengan ahli kejiwaan dan menemui dokter, adalah satu-satunya langkah untuk mengetahui diagnosis yang akurat, serta mendapatkan penanganan yang tepat.

Advertisement

gangguan mentalkesehatan mentalgangguan kecemasanaritmia

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved