Awas, Ini Bahaya Self-Diagnosis terhadap Gangguan Mental yang Belum Tentu Diderita

Bahaya self-diagnosis dapat berupa misdiagnosis, maupun salah penanganan gangguan mental yang belum tentu dialami
Informasi kesehatan dari internet seharusnya menjadi acuan bagi Anda untuk menemui ahli

Pascakehebohan film Joker baru-baru ini, serta diperingatinya Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober lalu, isu mengenai kesehatan mental dan jiwa kembali banyak diperbincangkan.

Di satu sisi, hal ini merupakan sebuah kemajuan, bahwa masyarakat mulai menunjukkan perhatian mereka dengan kesehatan dan gangguan mental, serta peduli dengan para penyintas. Namun sayangnya, muncul pula tren merasa memiliki gangguan mental, tanpa berkonsultasi dengan ahli kejiwaan.

Tindakan meyakini bahwa diri sendiri menderita suatu gangguan atau penyakit ini, dikenal dengan self-diagnosis. Walau Anda merasa menunjukkan gejala psikologis tertentu, mendiagnosisnya sendiri merupakan tindakan yang berbahaya. Risiko dan bahaya self-diagnosis bisa muncul, karena belum tentu Anda benar-benar menderita gangguan mental yang Anda yakini.

Bahaya self-diagnosis terhadap gangguan mental yang belum tentu dialami

Setidaknya, terdapat dua kerugian dan bahaya self-diagnosis terhadap gangguan mental, yang belum tentu Anda alami. Kedua bahaya self-diagnosis ini, membuat Anda berisiko mengalami salah diagnosis (misdiagnosis), serta salah penanganan.

1. Risiko misdiagnosis

Bahaya self-diagnosis pertama adalah risiko misdiagnosis, yang akan berdampak negatif pada diri sendiri.
Misalnya, ada seseorang yang melakukan self-diagnosis bahwa ia menderita gangguan kecemasan. Padahal, jika ia mau mencari pertolongan dokter, ada kemungkinan lain berupa gejala fisik yang ia alami. Bisa saja, yang dialaminya bukanlah gangguan mental, melainkan penyakit fisik yang harus diobati, seperti kondisi aritmia.

Informasi dari internet jangan dorong Anda untuk self-diagnosis
Self-diagnosis berisiko membuat Anda mengalami kesalahan diagnosis

Karena tidak segera mencari bantuan profesional, dan melakukan self-diagnosis bahwa ia mengidap gangguan kecemasan, individu tersebut berisiko untuk melewatkan penanganan untuk kondisi aritmia atau gangguan irama jantung.

Ada banyak kriteria yang harus terpenuhi oleh seseorang, agar bisa didiagnosis oleh ahli jiwa, bahwa ia mengidap gangguan mental tertentu. Gejala gangguan mental yang satu, dengan gangguan jiwa lain, juga kerap memiliki kesamaan. Bagaimanapun, self-diagnosis, adalah cara yang salah untuk dilakukan.

2. Risiko kesalahan dalam penanganan

Bahaya self-diagnosis kedua, adalah risiko terjadinya kesalahan cara Anda menangani gangguan, yang belum tentu benar-benar dialami. Misalnya, Anda berisiko mengonsumsi obat ilegal. Obat-obatan tersebut, selain ilegal, juga barangkali menimbulkan efek samping, interaksi obat, kesalahan dalam cara konsumsi, hingga kesalahan dosis.

Anda juga tidak boleh mengonsumsi obat orang lain, yang tidak bisa dikonsumsi oleh semua orang. Satu jenis obat mungkin aman dikonsumi rekan Anda, namun belum tentu hal tersebut berlaku juga bagi diri Anda. Jangan konsumsi obat, tanpa adanya instruksi dari dokter.

Tak hanya itu, bahaya self-diagnosis lainnya adalah membuat Anda menunda berkonsultasi dengan ahli kejiwaan, dan mendapatkan penanganan yang paling tepat.

Melakukan self-diagnosis, dan meyakini diri sendiri menderita gangguan mental tertentu, tidak membantu Anda untuk pulih. Malah sebaliknya, tindakan tersebut berisiko memperburuk kondisi kejiwaan Anda.

Cari bantuan dokter, jika mengalami gejala gangguan mental tertentu

Informasi yang berlimpah di Internet, seperti gejala-gejala gangguan mental tertentu, kuis mengenai kesehatan mental, atau informasi obat penyakit mental, hanya bisa Anda jadikan sebagai acuan untuk menemui psikolog atau psikiater.

Hindari self-diagnosis dengan temui psikiater
Temui ahli kejiwaan, jika Anda merasa memiliki masalah pada kondisi psikologis

Walau memahami gejala atau menunjukkan hasil kuis tersebut dapat berguna, diagnosis hanya boleh dilakukan oleh para ahli. Sebab, psikolog dan psikiater memang berkompeten, memiliki pengetahuan, dan telah menjalani serangkaian pelatihan, untuk memahami kondisi kejiwaan seseorang. Selain itu, mereka lebih objektif dalam menyelami permasalahan yang tengah mendera Anda.

Catatan dari SehatQ

Informasi dari Internet dan media tidak dapat digunakan, sebagai cara untuk melakukan self-diagnosis terhadap gangguan mental (maupun penyakit fisik), yang belum tentu benar-benar Anda idap. Meningkatkan awareness terhadap kesehatan mental itu penting, sangat diperlukan. Hanya saja, membekali diri dengan pengetahuan, tidak sama dengan melakukan self-diagnosis.

Informasi dan pengetahuan dari Internet dan media, seharusnya hanya Anda jadikan sebagai dorongan untuk mencari bantuan profesional. Berkonsultasi dengan ahli kejiwaan dan menemui dokter, adalah satu-satunya langkah untuk mengetahui diagnosis yang akurat, serta mendapatkan penanganan yang tepat.

Mental Help. https://www.mentalhelp.net/self-help/diagnosis-vs-self-diagnosis/
Diakses pada 17 Oktober 2019

Mental Help. https://www.mentalhelp.net/self-help/risks-of-self-diagnosis/
Diakses pada 17 Oktober 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20615179
Diakses pada 17 Oktober 2019

New Medicals Net. https://www.news-medical.net/health/Health-Anxiety-and-Dangers-of-Self-Diagnosis.aspx
Diakses pada 17 Oktober 2019

Psych Central. https://psychcentral.com/blog/dont-self-diagnose-but-do-self-refer/
Diakses pada 17 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed