Preeklampsia adalah Komplikasi Serius yang Terjadi pada Kehamilan

(0)
07 May 2019|Dina Rahmawati
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Preeklampsia adalah keracunan kehamilanUsia ketika menjalani kehamilan menjadi salah satu faktor risiko preeklampsia.
Preeklampsia merupakan masalah serius yang terjadi pada kehamilan. Hal tersebut tentu dapat berakibat fatal bagi Anda dan janin apabila dibiarkan.Hingga saat ini, penyebab pasti preeklampsia masih belum diketahui. Namun, pembuluh darah pada plasenta, diduga sebagai pemicunya.

Apa itu preeklamsia?

Preeklampsia disebut pula sebagai keracunan kehamilan. Ini merupakan komplikasi yang umum terjadi pada kehamilan. Sekitar 5% wanita hamil mengalami preeklampsia.Preeklampsia biasanya terjadi saat tekanan darah Anda tinggi, adanya protein dalam urine, dan ketika usia kehamilan 20 minggu atau lebih.Akan tetapi dalam beberapa kasus, preeklampsia dapat terjadi lebih awal ataupun setelah melahirkan. Keracunan kehamilan ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah secara tiba-tiba, serta pembengkakan di wajah, tangan, dan kaki.

Penyebab dan faktor risiko preeklampsia

Penyebab pasti terjadinya preeklampsia belum teridentifikasi. Hanya saja, kemungkinannya melibatkan pembuluh darah di plasenta yang tidak berkembang dengan baik. Selain itu, ada beberapa penyebab potensial seperti masalah pembuluh darah, gangguan autoimun, dan faktor genetik.Ada pula sejumlah faktor risiko yang bisa meningkatkan peluang Anda terkena keracunan kehamilan ini, sebagai berikut
  • Berusia di atas 35 tahun
  • Hamil pertama kalinya
  • Memiliki riwayat gangguan ginjal
  • Memiliki riwayat tekanan darah tinggi
  • Memiliki riwayat diabetes
  • Obesitas
  • Mengandung anak kembar
Jika memiliki faktor risiko di atas, sebaiknya Anda harus berhati-hati. Rutinlah memeriksakan diri dan kandungan ke dokter.

Gejala preeklampsia

Anda bisa saja tidak menyadari gejala preeklampsia apapun. Akan tetapi, berikut ini beberapa gejala preeklampsia umum penting untuk Anda ketahui.
  • Pembengkakan abnormal di tangan dan wajah
  • Sering sakit kepala parah
  • Sesak napas
  • Sakit di bawah tulang rusuk sisi kanan
  • Nyeri perut kanan atas
  • Muntah
  • Urine yang keluar sedikit
  • Berat badan naik secara cepat, akibat cairan yang tertahan (retensi cairan)
  • Penglihatan berubah menjadi buram.
  • Trombosit menurun
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Protein dalam urine
  • Gangguan fungsi hati
Selain itu, terdapat pula tanda-tanda preeklampsia yang berat. Adapun tandanya meliputi perubahan denyut jantung janin yang menunjukkan adanya tekanan, cairan di paru-paru, kejang, sakit perut, dan gangguan fungsi ginjal atau hati.

Komplikasi preeklampsia

Preeklampsia merupakan kondisi kehamilan yang serius. Keracunan kehamilan ini dapat mengancam keselamatan ibu, dan janin. Selain gejala di atas, ada pula komplikasi lain yang dapat terjadi seperti berikut ini:
  • Solusio plasenta (plasenta lepas dari dinding rahim) sehingga aliran darah tidak lancar ke bayi
  • Kerusakan hati
  • Edema paru
  • Gagal ginjal
  • Masalah perdarahan
  • Komplikasi bayi yang lahir terlalu dini karena untuk mengatasi preeklampsia

Pengobatan untuk preeklampsia

Persalinan menjadi salah satu cara terbaik dalam mengatasi preeklampsia karena dapat mencegah penyakit berkembang. Persalinan dilakukan jika preeklampsia terjadi saat usia kehamilan sudah mencapai 37 minggu atau lebih. Sementara itu, jika preeklampsia terjadi pada usia kehamilan yang lebih muda, maka persalinan bukanlah pilihan terbaik untuk janin.Akan tetapi, terdapat obat-obatan yang mungkin direkomendasikan untuk mengatasi preeklampsia, sebagai berikut:

1. Antihipertensi

Obat antihipertensi digunakan untuk menurunkan tekanan darah pada ibu hamil yang mengalami preeklampsia.

2. Antikonvulsan

Obat antikonvulsan digunakan untuk mencegah kejang pada ibu hamil yang terkena preeklampsia. Jika ibu mengalami kejang, maka kondisinya sudah masuk sebagai eklampsia. 

3. Kortikosteroid

Obat kortikosteroid dapat meningkatkan fungsi trombosit, dan hati.Dalam beberapa kasus, tekanan darah dapat meningkat kembali setelah melahirkan. Oleh sebab itu, lakukanlah pemeriksaan tekanan darah secara rutin setelah melahirkan. Akan lebih baik bila dilakukan perawatan lanjutan.Preeklampsia yang tidak diobati dengan segera, dapat menyebabkan terjadinya eklampsia. Eklampsia merupakan lanjutan dari preeklampsia yang dapat membuat ibu hamil kejang, koma, bahkan mengalami kematian.

Cara mencegah preeklampsia

Saat ini belum ditemukan cara yang pasti untuk mencegah preeklampsia. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi dapat dikontrol dan beberapa tidak. Sebaiknya Anda meminta rekomendasi dari dokter untuk melakukan diet dan olahraga yang tepat.Berikut adalah beberapa pola hidup sehat yang dapat Anda lakukan untuk mencegah preeklampsia menurut ahli:
  • Batasi garam tambahan dalam makanan Anda
  • Minumlah 6-8 gelas air sehari
  • Hindari gorengan dan junk food
  • Istirahat yang cukup
  • Berolahraga secara teratur
  • Tinggikan kaki Anda beberapa kali di siang hari
  • Hindari alkohol
  • Hindari minuman yang mengandung kafein
  • Dokter Anda mungkin menyarankan Anda untuk minum obat yang diresepkan dan suplemen tambahan
Jika melihat tanda yang tidak normal selama kehamilan, Anda harus segera memeriksakan kehamilan dan diri Anda ke dokter. Jagalah selalu diri Anda dan kandungan, untuk tetap sehat.
kehamilanpersalinanpreeklampsiaeklampsia
Healthline. https://www.healthline.com/health/preeclampsia#symptoms
Diakses pada 27 April 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/252025.php
Diakses pada 27 April 2019
American Pregnancy. https://americanpregnancy.org/pregnancy-complications/preeclampsia/
Diakses 9 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait