Salah satu penyebab blasenta bayi tertinggal dalam rahim adalah kontraksi rahim yang kurang mencukupi
Plasenta tertinggal dalam rahim dapat menyebabkan berbagai komplikasi, dimulai dari perdarahan hingga kematian.

Plasenta bayi merupakan organ selama kehamilan yang menempel pada dinding rahim dan berhubungan dengan bayi melalui tali pusat. Plasenta bayi berperan untuk mengantarkan darah dari ibu ke janin sehingga bayi memperoleh pasokan oksigen dan nutrisi yang diperlukan.

Dalam proses melahirkan, plasenta akan dikeluarkan setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta ini memungkinkan rahim berkontraksi secara sempurna sehingga menutup pembuluh darah rahim yang masih terbuka. Apabila proses ini terganggu, ibu akan mengalami perdarahan.

Setelah bayi lahir, dokter akan melakukan tindakan untuk mengeluarkan plasenta. Dengan peregangan tali pusat terkendali, plasenta dapat dikeluarkan secara utuh. Dokter juga akan memberikan obat untuk merangsang kontraksi uterus. Umumnya, akan diberikan oksitosin secara intramuskular pada paha atas atau secara intravena.

Meskipun telah dilakukan penanganan sesuai prosedur, terkadang kondisi plasenta bayi tertinggal pada rahim atau retensi plasenta tidak dapat dihindari. Risiko retensi plasenta ini akan lebih besar apabila ibu menjalankan kehamilan pada usia di atas 30 tahun, kelahiran bayi secara prematur pada usia di bawah 34 minggu, serta proses persalinan memanjang pada kala 1 dan 2.

Penyebab plasenta bayi tertinggal

Plasenta bayi dapat tertinggal dalam rahim apabila kontraksi rahim menghilang atau kontraksi yang dihasilkan tidak mencukupi sehingga plasenta bayi tidak dapat lepas dari dinding rahim. Kondisi ini dinamakan dengan atoni uterus.

Pada kasus tertentu, sebagian atau seluruh plasenta menempel pada dinding rahim. Plasenta bayi bisa menempel pada dinding rahim hingga menembus dan menginvasi organ di sekitar rahim. Berdasarkan tingkat keparahannya, perlekatan plasenta bayi ini dibedakan menjadi tiga, yaitu plasenta akreta, plasenta inkreta, dan plasenta perkreta.

Pada plasenta akreta, plasenta bayi menempel erat pada dinding rahim, sedangkan pada plasenta inkreta, plasenta menempel lebih dalam hingga menginvasi otot dinding rahim. Kasus yang paling berat dan paling jarang terjadi adalah plasenta perkreta. Pada kondisi ini, plasenta menembus dinding rahim dan dapat menghinvasi organ di sekitar rahim, seperti kandung kemih dan rektum.

Retensi plasenta juga mungkin diakibatkan karena plasenta terjebak dalam rahim. Hal ini terjadi ketika serviks yang menutup sebagian atau seluruhnya sehingga plasenta yang telah terlepas dari dinding rahim tidak dapat dikeluarkan.

[[artikel-terkait]]

Bahaya plasenta bayi yang tertinggal

Pengeluaran plasenta bayi dilakukan setelah bayi lahir. Oleh karena itu, plasenta bayi yang tertinggal tidak menyebabkan komplikasi pada bayi. Komplikasi utama akibat plasenta yang tertinggal adalah perdarahan pada ibu. Hal ini terjadi apabila plasenta bayi tidak keluar dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir.

Perdarahan postpartum primer terjadi dalam waktu 24 jam setelah persalinan. Perdarahan ibu yang tidak kunjung berhenti bisa berakibat pada kondisi syok hemoragik. Kondisi ini membutuhkan pertolongan darurat segera dan ibu akan dipersiapkan untuk menjalani transfusi darah. Perdarahan akan terus dialami oleh ibu selama plasenta yang tertinggal belum dikeluarkan.

Retensi plasenta juga bisa menyebabkan perdarahan postpartum sekunder. Kondisi ini mungkin terjadi bila hanya sebagian kecil plasenta yang tertinggal. Perdarahan postpartum sekunder terjadi pada waktu lebih dari 24 jam hingga 12 minggu setelah persalinan.

Setelah persalinan, mungkin ibu hanya mengalami sedikit perdarahan dalam batas normal. Namun, pada hari ke 10-12 setelah melahirkan, ibu bisa saja mengalami perdarahan hebat. Ibu dapat mengalami nyeri perut hebat selama 2-3 minggu setelah melahirkan. Selain itu, ada kemungkinan terjadi demam, penurunan produksi ASI, dan keputihan dari kemaluan yang berbau.

Bila ibu mencurigai ada plasenta yang tertinggal, segera berkonsultasi dengan dokter agar dilakukan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

American Pregnancy Association. https://americanpregnancy.org/pregnancy-complications/retained-placenta/
Diakses pada Mei 2019

Whattoexpect. https://www.whattoexpect.com/pregnancy/labor-and-delivery/retained-placenta/
Diakses pada Mei 2019

BabyCentre. https://www.babycentre.co.uk/a562148/retained-placenta
Diakses pada Mei 2019

American Pregnancy Association. https://americanpregnancy.org/pregnancy-complications/retained-placenta/
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed