4T, Bahaya-bahaya Perdarahan Setelah Melahirkan Normal

Proses melahirkan dapat berisiko menimbulkan komplikasi berupa perdarahan post partum
Proses melahirkan bisa menyebabkan perdarahan post partum

Kelahiran bayi merupakan proses yang berisiko bagi ibu maupun bayi. Salah satu risiko komplikasi yang ditakutkan adalah perdarahan post partum. Perdarahan ini menjadi salah satu penyebab terbesar kematian ibu setelah melahirkan.

Seseorang dikatakan mengalami perdarahan post partum apabila kehilangan darah lebih dari 500 ml setelah melahirkan normal, atau lebih dari 1000 ml bila melakukan persalinan lewat operasi sectio caesaria (caesar).

Kondisi ini mungkin terjadi kurang dari 24 jam pasca kelahiran atau perdarahan post partum primer. Namun, bisa juga terjadi dalam periode lebih dari 24 jam hingga 12 minggu setelah persalinan. Hal ini disebut dengan perdarahan post partum sekunder.

Penyebab Perdarahan Post Partum

Terdapat empat hal yang menjadi penyebab utama terjadinya perdarahan post partum primer. Penyebab yang paling umum adalah tonus uterus yang kurang atau atonia uterus, yaitu kondisi rahim yang tidak dapat berkontraksi dengan baik untuk menghentikan perdarahan. Penyebab-penyebab lainnya, yaitu adanya trauma jalan lahir, sisa plasenta atau bekuan darah, dan gangguan pembekuan darah.

1. Tonus uterus

Sebesar 70% penyebab dari perdarahan post partum disebabkan oleh tonus atau kontraksi uterus yang terganggu. Dalam keadaan normal, dengan kontraksi uterus yang cukup kuat, pembuluh darah akan tertutup dan perdarahan akan berhenti. Apabila pembuluh darah tetap terbuka, maka perdarahan akan terus berlangsung.

Beberapa kondisi yang menyebabkan gangguan kontraksi uterus, antara lain:

  • Peregangan uterus yang berlebihan. Hal ini dapat terjadi apabila sebelumnya mengalami kehamilan kembar atau bayi yang sangat besar. Selain itu, kondisi air ketuban yang berlebihan juga menyebabkan peregangan uterus.
  • Proses persalinan normal yang memanjang atau terlalu cepat bisa menyebabkan otot uterus menjadi lemah untuk berkontraksi. Persalinan lebih dari 20 jam pada seseorang yang melahirkan anak pertama dan lebih dari 14 jam pada proses melahirkan anak kedua dan seterusnya.
  • Apabila dalam proses melahirkan ibu menggunakan zat anestesi, otot uterus akan mengalami relaksasi dan sulit untuk melakukan kontraksi secara memadai setelah bayi lahir.
  • Adanya infeksi pada selaput ketuban

2. Trauma jalan lahir

Kondisi ini terjadi pada proses persalinan normal. Trauma jalan lahir pada umumnya berupa robekan pada vagina. Kondisi ini terjadi saat proses melahirkan normal. Dalam proses melahirkan ini, terkadang akan dilakukan pemotongan secara sengaja atau episiotomi untuk memperbesar jalan lahir. Robekan juga bisa terjadi pada daerah serviks.

Apabila trauma pada jalan lahir tidak segera ditemukan dan dilakukan penjahitan, ibu dapat terus mengalami perdarahan.

[[artikel-terkait]]

3. Tisu - Retensi plasenta dan sisa plasenta

Retensi plasenta adalah keadaan di mana plasenta tidak dapat dikeluarkan lebih dari 30 menit sejak bayi lahir. Keadaan ini menyebabkan uterus tidak dapat berkontraksi secara sempurna. Retensi plasenta bisa mengakibatkan terjadinya perdarahan post partum. Selain itu, plasenta yang menetap dalam rahim dapat menimbulkan infeksi pada ibu.

Setelah plasenta berhasil keluar, dokter atau penolong persalinan lainnya akan memeriksa kelengkapan dari plasenta. Tindakan ini dilakukan karena adanya sisa plasenta yang juga mampu menyebabkan perdarahan post partum. Mekanisme yang mendasari sama dengan mekanisme pada retensi plasenta.

Perdarahan post partum yang disebabkan karena masalah plasenta ini akan berhenti bila plasenta atau sisa plasenta berhasil dikeluarkan. Dokter akan mencoba melakukan stimulasi untuk merangsang kontraksi uterus atau mencoba untuk mengeluarkan plasenta secara manual. Cara yang kedua ini memiliki risiko infeksi yang lebih tinggi.

4. Trombin - Gangguan pembekuan darah

Perdarahan post partum yang disebabkan oleh gangguan pembekuan darah merupakan penyebab yang paling jarang terjadi. Seringkali seorang ibu tidak menyadari kondisi ini hingga terjadi perdarahan yang tidak kunjung berhenti.

Diagnosis gangguan pembekuan darah bisa dilakukan lewat pemeriksaan faktor pembekuan darah dan platelet. Apabila terjadi perdarahan akibat hal ini, perlu disiapkan fresh frozen plasma, yaitu transfusi darah yang mengandung faktor pembekuan darah.

MSD Manuals. https://www.msdmanuals.com/home/women-s-health-issues/complications-of-labor-and-delivery/excessive-uterine-bleeding-at-delivery
Diakses pada Mei 2019

Evensen A, Anderson JM, Fontaine P. Postpartum Hemorrhage: Prevention and Treatment. AFP. 2017 Apr 1;95(7):442–9.
Diakses pada Mei 2019

American Pregnancy Association. https://americanpregnancy.org/pregnancy-complications/retained-placenta/
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed