Bahaya Perdarahan Antepartum Selama Kehamilan untuk Ibu dan Bayi

Perdarahan antepartum bisa disebabkan oleh kelainan plasenta dan benturan keras
Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi saat usia kehamilan masuk usia 24 minggu

Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi pada jalur lahir atau vagina saat kehamilan memasuki usia 24 minggu hingga sesaat sebelum bayi lahir ke dunia. Apabila perdarahan terjadi setelah persalinan selesai, maka kondisi tersebut dinamakan perdarahan postpartum.

Perdarahan yang terjadi pada trimester kedua dan ketiga kehamilan ini bisa menyebabkan berbagai komplikasi yang berbahaya, baik bagi ibu maupun bayi. Namun apabila penanganan segera dilakukan, maka risiko terjadinya komplikasi bisa menurun.

Penyebab perdarahan antepartum

Perdarahan yang terjadi setelah usia kehamilan memasuki 24 minggu, tidak selalu berbahaya. Namun, jika volume darah yang keluar cukup banyak dan disertai dengan rasa sakit atau gangguan kesehatan lainnya, maka ada kemungkinan kehamilan Anda sedang terganggu.

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan perdarahan antepartum bisa terjadi, yaitu abrupsi plasenta, plasenta previa, dan vasa previa.

1. Abrupsi plasenta

Abrupsi plasenta atau solusio plasenta adalah kondisi lepasnya plasenta dari rahim. Ada beberapa hal yang diyakini bisa memicu kondisi ini, yaitu kurangnya suplai darah ke plasenta dan benturan keras akibat kecelakaan.

Perdarahan yang terjadi akibat kondisi ini biasanya volumenya cukup banyak, tapi tidak terlalu terlihat. Sebab, banyak genangan darah yang terjebak di belakang plasenta.

Ada beberapa faktor yang membuat seseorang berisiko lebih tinggi terkena abrupsi plasenta, di antaranya:

  • Riwayat hipertensi
  • Usia di atas 35 tahun
  • Kebiasaan merokok saat hamil
  • Penyalahgunaan kokain saat hamil
  • Pernah mengalami abrupsi plasenta di kehamilan sebelumnya

2. Plasenta previa

Seorang ibu hamil disebut mengalami plasenta previa apabila posisi plasentanya menutupi serviks atau leher rahim yang merupakan jalur lahir. Kondisi ini bisa menyebabkan perdarahan pada vagina, meski seringkali terjadi tanpa disertai rasa sakit.

Pada beberapa kasus, posisi plasenta bisa bergeser dengan sendirinya saat usia kandungan memasuki 32-35 minggu. Sebab pada usia kehamilan tersebut, rahim bagian bawah sudah mulai membesar dan menipis sehingga plasenta tidak lagi menutupi serviks.

Saat plasenta previa bisa teratasi, maka persalinan dapat dilakukan dengan cara normal. Sebaliknya, jika plasenta masih menutupi serviks yang merupakan jalur lahir, maka persalinan perlu dilakukan sebelum hari perkiraan lahir (HPL) dengan operasi Caesar.

Faktor risiko plasenta previa tidak jauh berbeda dengan abrupsi plasenta. Satu hal yang membedakan adalah pada plasenta previa, riwayat kuretase bisa meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.

3. Vasa previa

Pada tali pusar terdapat pembuluh darah yang berfungsi memberikan asupan makanan untuk oleh janin. Pada orang yang mengalami vasa previa, pembuluh darah tersebut tumbuh secara berlebihan sehingga menutupi serviks dan jalur lahir.

Saat persalinan tiba, pembuluh darah yang menutupi jalur lahir itu bisa pecah, dan membuat janin kekurangan pasokan darah. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini bisa menyebabkan kematian bayi.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya vasa previa antara lain:

  • Kehamilan melalui metode IVF atau bayi tabung
  • Terjadinya plasenta previa pada trimester kedua kehamilan
  • Posisi plasenta rendah
  • Kehamilan anak kembar

Dampak perdarahan antepartum pada ibu dan bayi

Perdarahan antepartum bisa menyebabkan berbagai komplikasi baik pada ibu maupun bayi. Pada ibu, beberapa dampak perdarahan antepartum yang dapat terjadi antara lain:

  • Harus menjalani persalinan prematur
  • Terbentuknya gumpalan di pembuluh darah
  • Kerusakan ginjal akut
  • Perdarahan postpartum
  • Plasenta akreta atau plasenta yang tumbuh terlalu dalam ke dalam rahim
  • Anemia
  • Infeksi
  • Gangguan psikologis

Semantara itu untuk bayi, komplikasi yang terjadi antara lain:

  • Fetal hypoxia atau kekurangan suplai oksigen
  • Pertumbuhan janin terhambat
  • Lahir prematur
  • Meninggal dunia

Penanganan perdarahan antepartum

Ibu hamil yang mengalami perdarahan harus segera memeriksakan diri ke dokter. Saat melakukan pemeriksaan, dokter akan menanyakan tentang riwayat kesehatan dan gejala lain yang dialami selain perdarahan.

Dokter juga akan menanyakan riwayat kehamilan serta keguguran yang pernah dialami. Perdarahan yang terjadi disertai dengan pecahnya air ketuban menandakan persalinan harus segera dilakukan.

Selain itu, pemeriksaan darah seperti tes darah lengkap juga mungkin dilakukan agar dokter bisa lebih mudah menegakkan diagnosis penyebab perdarahan antepartum yang terjadi.

Apabila perdarahan disebabkan oleh abrupsi plasenta atau plasenta previa, maka diperlukan rawat inap di rumah sakit. Dokter akan terus memonitor perkembangan kesehatan ibu dan janin. Apabila perdarahan sudah berhenti, maka ibu hamil boleh pulang dan dianjurkan untuk memperbanyak aktivitas jalan kaki.

Namun, jika perdarahan tidak kunjung berhenti dan usia kehamilan sudah mendekati HPL, maka dokter akan menyarankan persalinan secepatnya. Persalinan bisa dilakukan secara normal maupun melaluli operasi Caesar, tergantung dari kondisi ibu dan bayi.

American Family Physician. https://www.aafp.org/afp/2007/0415/p1199.html
Diakses pada 17 April 2020

The American College of Obstetricians and Gynecologists. https://www.acog.org/patient-resources/faqs/pregnancy/bleeding-during-pregnancy
Diakses pada 17 April 2020

Patient Info. https://patient.info/doctor/antepartum-haemorrhage
Diakses pada 17 April 2020

MSD Manual. https://www.msdmanuals.com/home/women-s-health-issues/symptoms-during-pregnancy/vaginal-bleeding-during-late-pregnancy#v4745071
Diakses pada 17 April 2020

Artikel Terkait