Bahaya aborsi terhadap rahim
Aborsi akan membahayakan bila dilakukan tanpa bantuan petugas medis profesional

Keputusan untuk mengakhiri kehamilan bukanlah hal yang mudah. Terdapat berbagai alasan yang membuat seorang wanita menggugurkan kandungannya.

Apapun alasannya, sebelum memutuskan untuk menjalani tindakan aborsi, penting bagi kaum hawa untuk mengetahui risiko kesehatan di baliknya. Pasalnya, bahaya aborsi tanpa bantuan petugas medis profesional dapat berdampak buruk pada kondisi rahim hingga mengancam nyawa.

Bahaya aborsi yang mungkin terjadi

Setiap prosedur medis memiliki risikonya tersendiri, termasuk aborsi yang aman dan legal sekalipun. Risiko ini bisa gangguan medis ringan hingga berat.  

Menurut ahli, aborsi yang dilakukan pada trimester pertama memiliki risiko yang jauh lebih rendah. Sementara aborsi yang dilakukan pada akhir kehamilan akan meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi.

Secara umum, berikut sederet bahaya aborsi yang mungkin bisa terjadi:

  • Infeksi rahim

Kondisi ini terjadi pada 10 persen dari keseluruhan kasus aborsi yang dilakukan. Sebagian besar infeksi terjadi akibat infeksi bakteri, sehingga harus ditangani dengan konsumsi antibiotik.

  • Adanya sisa jaringan janin dalam rahim

Kondisi ini di alami sekitar satu orang di antara 20 kasus aborsi. Dokter harus melakukan penanganan lebih lanjut untuk mengeluarkan sisa-sisa jaringan tersebut.

  • Perdarahan hebat

Meski lebih jarang terjadi, risiko perdarahan tetap ada pada prosedur aborsi. Persentase kejadiannya sekitar 1 per 1.000 kasus aborsi yang dilakukan. Pada kondisi yang parah, pasien bahkan memerlukan transfusi darah.

  • Kerusakan leher rahim

Leher rahim (serviks) yang rusak akibat aborsi mungkin saja terjadi. Kemungkinannya sekitar satu dari setiap 100 tindakan aborsi yang dilakukan melalui prosedur kuret.

  • Kerusakan rahim

Tak hanya serviks, kerusakan pada rahim pun bisa terjadi. Persentase kemungkinannya sama seperti risiko kerusakan serviks, yakni satu di antara 100 kasus aborsi melalui prosedur kuret.

Sementara pada kasus aborsi yang menggunakan obat, kemungkinannya lebih kecil, yakni satu dari setiap 1.000 kasus aborsi di usia kehamilan 12-24 minggu.

  • Masalah psikologis

Tidak hanya masalah fisik, trauma psikologis juga bisa dirasakan oleh wanita yang melakukan aborsi. Perasaan bersalah, stres, malu, cemas, dan depresi merupakan beberapa masalah psikologis yang kerap dialami oleh wanita setelah melakukan aborsi.

  • Kegagalan aborsi dan kehamilan berlanjut

Kegagalan aborsi bisa saja terjadi. Pada kondisi ini, penanganan medis lebih lanjut perlu dilakukan. Pasalnya, kondisi janin dan kehamilan dapat mengalami komplikasi tertentu.

Mengingat bahaya aborsi tersebut, Anda perlu memerhatikan tanda-tanda komplikasi tertentu dan kembali memeriksakan diri ke dokter apabila:

  • Perdarahan yang berlebihan. Misalnya ada gumpalan darah berukuran lebih besar dari biasa, atau harus mengganti pembalut tiap satu hingga dua jam sekali.
  • Nyeri yang tak kunjung hilang meski sudah mengonsumsi obat pereda nyeri.
  • Demam tinggi.
  • Keputihan berbau tak sedap.
  • Gejala kehamilan yang berlanjut, seperti mual dan payudara yang terasa sakit.

Hukum aborsi di Indonesia

Regulasi tentang aborsi di Indonesia dimuat dalam undang-undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Reproduksi. Dalam UU ini, tertulis bahwa setiap orang dilarang melakukan aborsi.

Meski demikian, terdapat dua kondisi yang menjadi pengecualian, yakni kasus gawat darurat dan pemerkosaan. Berikut detailnya:

Aborsi sebagaimana yang dimaksud dalam UU hanya dapat dilakukan:

  • Sebelum kehamilan berusia enam minggu, dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT), kecuali dalam kasus gawat darurat.
  • Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian medis serta sertifikat yang ditetapkan oleh Menteri.
  • Dengan persetujuan wanita yang bersangkutan.
  • Dengan izin suami, kecuali korban pemerkosaan.
  • Oleh penyedia layanan kesehatan yang kompeten dan berwenang.

Aborsi yang dilakukan di luar kondisi-kondisi tersebut termasuk ilegal, dan pelaku maupun pasien dapat dijatuhi hukuman.

Masalah aborsi yang tidak aman

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), aborsi dikatakan tidak aman jika dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai keterampilan medis yang memadai, serta tidak memiliki fasilitas medis yang sesuai standar. Akibatnya, risiko komplikasi dan bahaya aborsi pun dapat meningkat.

WHO juga mencatat bahwa di negara-negara berkembang, terdapat sekitar tujuh juta wanita yang dilarikan ke rumah sakit tiap tahunnya akibat aborsi yang tidak aman. Kebanyakan pelaku aborsi yang tidak aman ini mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

Oleh sebab itu, butuh kerja sama dari semua pihak (termasuk keluarga, masyarakat, sekolah, maupun pemerintah) untuk mencegah adanya kehamilan yang tidak diinginkan. Pencegahan ini bisa dimulai dengan langkah sederhana seperti memberikan pendidikan seks pada anak di rumah maupun di sekolah.

Pengetahuan bahaya aborsi dan hukumnya perlu dipelajari tuntas agar Anda bisa kembali mempertimbangkannya sebelum memutuskan untuk mengakhiri kehamilan. Senantiasa bicarakan masalah ini dengan pasangan dan berkonsultasi pada dokter.

National Health Service. https://www.nhs.uk/conditions/abortion/
Diakses pada 16 Desember 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/medical-abortion/about/pac-20394687
Diakses pada 16 Desember 2019

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/preventing-unsafe-abortion
Diakses pada 16 Desember 2019

Hukum Online. https://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/lt4af3c27570c04/node/1060
Diakses pada 16 Desember 2019

Artikel Terkait