Bagaimana Pandemi Covid-19 Mengubah Kebiasaan Manusia?

Pandemi Covid-19 mengubah kebiasaan manusia secara keseluruhan
Pandemi Covid-19 mengubah banyak kebiasaan manusia

Sudah hampir setengah tahun lamanya wabah virus corona berlangsung. Sekarang, penyakit ini seolah sudah jadi bagian dari keseharian kita, tanpa ada lagi rasa asing. Perlahan-lahan pandemi covid-19 mengubah kebiasaan kita, dan mungkin perubahan ini akan terus bertahan, meski wabah ini nantinya telah selesai.

Bagaimana pandemi Covid-19 mengubah kebiasaan manusia?

Enam bulan yang lalu, saya tak pernah membayangkan akan berada di tengah-tengah pandemi alias wabah yang menyerang seluruh penduduk dunia. Dulu, saat pandemi flu babi pada tahun 2009 berlangsung, Indonesia tidak terdampak separah sekarang, sehingga kebiasaan masyarakat pun tidak banyak yang berubah.

Kini, lebih dari satu dekade kemudian, Indonesia menjadi salah satu negara yang babak belur dihajar Covid-19. Hampir semua aspek kehidupan terdampak dan menjadikan banyak sektor mau tidak mau harus berubah dan menyesuaikan diri.

Sekolah diadakan secara daring, sebagian pekerja terpaksa bekerja dari rumah, bisnis-bisnis yang mengedepankan kerumunan seperti konser, pameran, atau pesta pernikahan, terpaksa dibatalkan. Belum lagi kebiasaan bepergian menggunakan kendaraan umum yang harus disesuaikan dengan protokol kesehatan.

Saya sendiri saat ini sudah empat bulan lebih bekerja dari rumah. Begitupun dengan ayah dan adik saya yang sempat berbulan-bulan bekerja dengan mengandalkan rapat online dan diskusi lewat telepon.

Ibu saya yang seorang guru, juga mau tidak mau harus menyesuaikan diri. Saat awal pembelajaran daring dimulai, beliau minta tolong saya untuk mengajarkannya menggunakan google classroom dan aplikasi Zoom agar bisa tetap lancar mengajar para murid.

Saya yakin, di usia ibu saya yang sudah tidak muda, mempelajari teknologi baru bukanlah hal yang mudah. Kacamatanya yang sedikit merosot tak menyembunyikan tatap an bingungnya saat saya menjelaskan langkah demi langkah untuk mengunduh dan mengunggah materi pembelajaran dari dan ke Internet.

Pandemi Covid-19 mengubah kebiasaan manusia dari segala sisi. Belum lama ini saya melihat foto-foto yang tersebar di media sosial soal kondisi berbagai kota di dunia selama pandemi.

Times Square di New York yang kosong tanpa manusia saat lockdown, robot-robot tanpa kepala yang patroli di taman-taman di Singapura, dan ratusan drone yang terbang di langit malam Korea Selatan untuk membentuk pesan penyuluhan seputar corona adalah sedikit dari sekian banyak pemandangan baru yang terjadi karena pandemi.

Kalau Anda pernah menonton serial televisi bernuansa distopia, Black Mirror, saya rasa Anda pasti setuju kalau saat ini, kita seolah sedang berada di dalam salah satu episodenya.

Informasi lengkap soal Covid-19

• Penggunaan masker: Kenapa saat makan, masker tidak boleh ditaruh di dagu?

• Pencegahan Covid-19: Metode tradisional cegah Covid-19

• Penularan Covid-19: Ilmuwan sebut Covid-19 juga menular lewat udara, apa maksudnya?

Dunia memang sedang berubah. Perubahan ini, meski diawali oleh sesuatu yang menyesakkan, bisa jadi akan berujung pada perbaikan.

Dari pandemi ini kita belajar, bahwa hal-hal yang sebelumnya dianggap sepele, ternyata bisa menjadi batas tipis antara hidup dan mati. Contohnya adalah soal lupa cuci tangan, tidak menutup mulut dan hidung saat bersin, hingga tidak sengaja menyentuh wajah saat tangan belum bisa dipastikan bersih.

Wabah ini juga membuat kesadaran orang-orang terhadap kesehatan semakin meningkat. Memang, masih diperlukan sangat banyak edukasi tambahan agar kesadaran ini tak lantas memakan korban akibat berdesakan karena sekedar ingin jogging atau bersepeda.

Namun niat baik ini bisa menjadi awal yang positif yang akan mengubah masyarakat ke arah yang lebih baik, bahkan setelah pandemi ini berakhir. Ya, saya percaya bahwa pandemi ini akan berakhir, cepat atau lambat.

Negara-negara sahabat kita seperti New Zealand, Thailand, dan Vietnam sudah membuktikan itu. Mereka berhasil menekan angka penularan dalam negeri atau transmisi lokal hingga mencapai angka 0.

Di negara-negara yang berhasil ini pun, kebiasaan masyarakat belum sepenuhnya kembali seperti sedia kala dan mungkin memang tidak akan pernah kembali.

Saya sendiri tidak keberatan jika harus sering-sering pakai masker saat keluar rumah meski pandemi sudah selesai. Toh, tinggal di Jakarta memang perlu masker untuk menghalau polusi.

Apalagi gagasan bahwa mengantre harus diberi jarak setidaknya satu meter. Pandemi atau tidak, kebiasaan ini buat saya membuat kenyamanan saat berada di fasilitas publik semakin meningkat.

Menurut Anda, akankah pemandangan ini akan terus ada meski pandemi telah berakhir?

Olahraga pakai masker karena pandemi
Pandemi membuat orang olahraga harus menggunakan masker
Sekolah saat pandemi corona
Anak sekolah melepas sepatu dan diukur suhu tubuhnya sebelum masuk sekolah
Pembatas meja saat makan di restoran karena pandemi
Pembatas plastik di meja makan restoran untuk cegah penularan
Physical distancing saat menunggu MRT
Mengantre MRT sambil menjaga jarak aman
Anak belajar lewat metode daring dari rumah
Anak belajar dari rumah selama masa pandemi
WFH ditemani anak
Seorang ayah yang sedang bekerja dari rumah, ditemani oleh anak

Artikel Terkait