Bagaimana Mekanisme Kerja Antibiotik Agar Ampuh Lawan Bakteri?


Mekanisme kerja antibiotik dalam membunuh bakteri adalah dengan menghancurkan dinding tubuh bakteri, mengganggu proses reproduksi bakteri, dan menghentikan produksi protein dari bakteri.

(0)
27 Nov 2019|Azelia Trifiana
Cara kerja antibiotik dalam membunuh bakteriMekanisme kerja antibiotik adalah dengan membunuh dinding bakteri
Ketika seseorang sakit dan pemicunya adalah bakteri, maka dokter bisa meresepkan antibiotik. Namun tidak untuk sakit yang hanya disebabkan oleh virus atau penyebab lainnya. Mekanisme kerja antibiotik adalah menghentikan bakteri berkembang biak sekaligus menghancurkannya.Pada dasarnya, tubuh manusia bisa secara alami membunuh bakteri berbahaya lewat sel darah putih. Di sinilah pentingnya sistem kekebalan tubuh seseorang. Namun terkadang apabila jumlah bakteri terlalu banyak atau toksinnya yang dikeluarkan kuat, antibiotik diperlukan untuk membantu.

Apa itu antibiotik?

Antibiotik adalah obat untuk mencegah dan mengobati infeksi bakteri. Antibiotik digunakan hanya untuk melawan infeksi bakteri, bukan virus.Cara kerja antibiotik bukan untuk melawan infeksi virus, seperti pada flu dan sakit tenggorokan. Maka dari itu, menggunakan antibiotik untuk infeksi virus tidak akan:
  • Menyembuhkan infeksi
  • Mencegah penularan infeksi
  • Membantu merasa lebih sehat
  • Mempercepat kembali bekerja atau sekolah
Antibiotik dapat dibagi menjadi antibiotik spektrum luas (broad-spectrum antibiotics) dan antibiotik spektrum sempit (narrow-spectrum antibiotics) berdasarkan aktivitas kerjanya.Antibiotik spektrum sempit diketahui berisiko rendah menyebabkan resistensi bakteri dan tidak membunuh mikroflora atau bakteri sehat dalam tubuh.Kebalikannya, bakteri spektrum luas bukan hanya menyebabkan resistensi bakteri dan membunuh bakteri sehat, namun juga memiliki efek samping seperti diare atau ruam kulit.Meskipun demikian, antibiotik spektrum luas memiliki lebih banyak indikasi klinis, dan maka dari itu lebih banyak digunakan.

Mekanisme kerja antibiotik

Bentuk antibiotik bisa bermacam-macam, mulai dari tablet, kapsul, sirup, krim, hingga obat oles. Dokter akan meresepkan jenis antibiotik sesuai dengan infeksi yang dialami seseorang.   Mekanisme kerja antibiotik dalam membunuh bakteri terjadi lewat beberapa cara yaitu:
  • Menghancurkan dinding tubuh bakteri
  • Mengganggu proses reproduksi bakteri
  • Menghentikan produksi protein dari bakteri
Mekanisme kerja antibiotik akan langsung dimulai sesaat setelah Anda mengonsumsinya. Namun kapan gejala atau rasa sakit bisa membaik sangat bergantung pada kondisi tubuh setiap orang dan karakteristik dari bakteri yang menyerangnya.Biasanya, antibiotik diresepkan untuk diminum habis selama 7-14 hari. Dalam beberapa kasus, antibiotik juga bisa habis dalam waktu beberapa hari saja.Ketika Anda merasa sudah lebih sehat, direkomendasikan untuk tetap menghabiskan seluruh antibiotik yang diresepkan agar bakteri benar-benar mati secara keseluruhan. Selain itu, menuntaskan konsumsi antibiotik bisa mencegah resistensi bakteri dari antibiotik ke depannya.Jika ragu apakah harus melanjutkan atau menghentikan konsumsi antibiotik, konsultasikan kepada dokter yang tahu betul kondisi tubuh Anda.

Golongan antibiotik dan cara kerjanya

Golongan antibiotik pada umumnya dikelompokkan berdasarkan sifat kimia dan farmakologinya. Jika struktur kimianya mirip, maka obat dalam golongan yang sama memiliki kemampuan untuk membunuh bakteri yang sama atau berhubungan.

1. Penicillin

Nama lain dari penicillin adalah antibiotik beta-lactam. Penicillin terdiri dari lima kelompok antibiotik, yaitu aminopenicillin, antipseudomonal penicillin, penghambat beta-laktamase, penicillin alami, dan penicillin penghambat penicillinase.Antibiotik umum dalam golongan penicillin meliputi: amoxicillin, ampicillin, dicloxacillin, oxacillin, dan penicillin V kalium.

2. Tetrasiklin

Tetrasiklin adalah antibiotik spektrum luas yang dapat membunuh banyak bakteri seperti bakteri penyebab jerawat, infeksi saluran kemih (ISK), infeksi usus, infeksi mata, penyakit infeksi menular seksual (IMS), periodontitis, dan infeksi bakteri lainnya.Golongan tetrasiklin meliputi obat: demeclocycline, doxycycline, eravacycline, minocycline, omadacycline, dan tetracycline.

3. Sefalosporin

Sefalosporin (Cephalosporin) merupakan obat pembunuh baktri (bactericidal) dan bekerja mirip seperti penicillin. Sefalosporin biasa digunakan untuk mengatasi berbagai jenis infeksi, seperti sakit tenggorokan akibat bakteri Streptococcus, infeksi telinga, infeksi saluran kemih, infeksi kulit, infeksi paru, dan meningitis.Obat yang umum ditemukan dalam golongan ini meliputi: cefaclor, cefdinir, cefotaxime, ceftazidime, ceftriaxone, cefuroxime.

4. Quinolon

Quionolone atau dikenal sebagai fluoroquinolone, merupakan golongan obat yang biasa digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih yang sulit diobati saat pilihan obat lain sudah tidak efektif.Obat dalam golongan quinolon, mencakup: ciprofloxacin, levofloxacin, moxifloxacin.

5. Lincomycin

Obat turunan lincomycin biasa digunakan untuk mengobati infeksi serius seperti penyakit inflamasi pelvis, infeksi dalam lambung, infeksi saluran napas bawah, infeksi tulang dan sendi. Beberapa juga digunakan untuk mengobati masalah jerawat di kulit.Obat golongan ini yang umum ditemukan, meliputi clindamycin dan lincomycin.

6. Makrolida

Makrolida dapat digunaakn untuk menyembuhkan pneumonia, pertusis, atau untuk infeksi kulit ringan. Ketolida merupakan generasi baru obat dalam golongan ini yang diciptakan untuk mengatasi resistensi bakteri.Obat yang paling umum diresepkan meliputi: azithromycin, clarithromycin, dan erythromycin.

7. Sulfonamida

Sulfonamida efek untuk mengatasi infeksi saluran kemih (ISK), terapi atau pencegahan pneumonia pneumocystis, atau infeksi telinga (otitis media).Obat yang umum ditemui, meliputi: sulfamethoxazole dan trimethoprim, sulfasalazine, dan sulfisoxazole.

8. Antibiotik glukopeptida

Obat dalam golongan ini digunakan untuk melawan infeksi methicillin-resistant staphylococcus aureus (MRSA), diare akibat C. difficile, dan infeksi enterokokus.Obat yang umum ditemukan meliputi: dalbavancin, oritavancin, telavancin, vancomycin.

9. Aminoglikosida

Aminoglikosida bekerja dengan menghambat sintesis bakteri dan bekerja dengan cepat saat membunuh bakteri. Obat dalam golongan ini biasanya diberikan melalui infus intra vena.Contoh yang paling sering ditemukan adalah: gentamicin, tobramycin, amikacin.

10. Carbapenem

Antibiotik beta-laktam suntik ini memiliki fungsi spektrum luas dan digunakan untuk infeksi sedang hingga mengancam nyawa seperti infeksi lambung, pneumonia, infeksi ginjal, infeksi bakteri resisten di rumah sakit dan infeksi bakteri serius lainnya.Obat dalam golongan ini biasanya digunakan sebagai obat pilihan terakhir untuk membantu mencegah resistensi.Obat dalam golongan carbapenem meliputi: imipenem dan cilastatin, serta meropenem.

Fungsi antibiotik

Dari penjelasan tentang mekanisme kerja antibiotik, jelas terlihat bahwa fungsinya adalah menyerang bakteri dalam tubuh. Namun lebih jauh lagi, ada beberapa infeksi bakteri yang kerap membutuhkan antibiotik seperti:Meski demikian, mekanisme kerja antibiotik tidak akan efektif melawan infeksi akibat virus dan jamur. Pengobatannya harus berbeda serta tidak semua penyakit bisa dan perlu diatasi dengan antibiotik.Sementara itu, perlu diperhatikan pula efek samping dari konsumsi antibiotik. Beberapa yang paling umum terjadi adalah:Untuk menghindari efek samping, konsumsi antibiotik sesuai dengan dosis serta tanyakan kepada dokter cara terbaik untuk mengonsumsinya. Ada beberapa antibiotik yang perlu diminum dalam kondisi perut kosong dan ada pula yang perlu dikonsumsi dengan makanan untuk mengurangi risiko terjadinya efek samping.

Bisakah antibiotik gagal membunuh bakteri?

Antibiotik bisa saja gagal membunuh bakteri apabila tubuh seseorang mengalami resistensi. Pemicu resistensi antibiotik di antaranya:
  1. Penggunaan antibiotik di bawah dosis standar
  2. Penggunaan antibiotik terlalu lama
  3. Terlalu sering menggunakan antibiotik
Contohnya saat seseorang terlalu bergantung pada antibiotik meskipun sakit yang dideritanya disebabkan virus seperti batuk atau pilek. Konsumsi antibiotik yang tidak tepat sasaran dan sesuai dengan jangka waktu yang seharusnya justru menyebabkan mikroba dan bakteri dalam tubuh menjadi kebal.Sayangnya, Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat mencatat bahwa penggunaan antibiotik berlebih ini cukup tinggi di Asia Tenggara. Mereka mencatat ada peningkatan konsumsi antibiotik secara signifikan pada tahun 2007 hingga 2010, terutama antibiotik golongan carbapenems.Jadi, ada baiknya lebih detil mencari tahu apa obat yang diresepkan oleh dokter dan tanyakan apakah Anda benar-benar membutuhkannya. Apabila penyakit Anda disebabkan oleh virus, idealnya bisa sembuh dengan sendirinya tanpa perlu campur tangan antibiotik.Mengonsumsi antibiotik yang dibeli sendiri tanpa resep dokter juga tidak boleh dilakukan karena belum tentu sesuai untuk mengobati infeksi yang dialami.Jadi mulai sekarang, pastikan Anda bijak mengonsumsi antibiotik. Apabila infeksi yang Anda alami terjadi karena virus atau jamur, maka antibiotik bukanlah jawabannya.Apabila mendapatkan resep obat dalam bentuk racikan, tanyakan pula apa saja kandungan serta berapa dosis di dalamnya. Bijak memilih kapan harus minum antibiotik dan tidak, demi mencegah resistensi bakteri terhadap antibiotik.
infeksi bakteriantibiotikminum obat
Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/hai/data/portal/patient-safety-atlas.html?CDC_AA_refVal=https%3A%2F%2Fwww.cdc.gov%2Fhai%2Fsurveillance%2Far-patient-safety-atlas.html
Diakses 22 November 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/how-do-antibiotics-work#effectiveuse
Diakses 22 November 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/10278.php#how-to-use
Diakses 22 November 2019
WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/what-are-antibiotics#2
Diakses 22 November 2019
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5839511/
Diakses 28 Oktober 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4709861/
Diakses 28 Oktober 2020
WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antibiotic-resistance
Diakses 28 Oktober 2020
FDA. https://www.fda.gov/drugs/buying-using-medicine-safely/antibiotics-and-antibiotic-resistance
Diakses 28 Oktober 2020
Drugs. https://www.drugs.com/article/antibiotics.html
Diakses 28 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait