logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Hidup Sehat

Bagaimana Cara Kerja Obat dan Pengaruhnya Terhadap Metabolisme Tubuh

open-summary

Ketika seseorang diharuskan minum obat, ada jenis, dosis, cara, bentuk, dan banyak lagi variabel yang harus diperhitungkan. Ini penting diketahui karena cara kerja obat berpengaruh terhadap seberapa efektif kinerjanya. Jika dikonsumsi sembarangan, obat dapat berpengaruh terhadap metabolisme tubuh.


close-summary

5 Agt 2020

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Bagaimana cara kerja obat dalam tubuh

Tiap obat memiliki cara kerja yang berbeda

Table of Content

  • Cara kerja obat
  • Cara kerja obat dan metabolisme tubuh

Ketika seseorang diharuskan minum obat, ada jenis, dosis, cara, bentuk, dan banyak lagi variabel yang harus diperhitungkan. Ini penting diketahui karena cara kerja obat berpengaruh terhadap seberapa efektif kinerjanya. Jika dikonsumsi sembarangan, obat dapat berpengaruh terhadap metabolisme tubuh.

Advertisement

Ada banyak kasus orang mengalami komplikasi atau masalah kesehatan akibat salah mengonsumsi obat. Dosis yang kurang maupun berlebihan memiliki bahaya yang sama. Jadi, penting untuk memastikan konsumsi obat dengan tepat dan bijak.

Cara kerja obat

Ada banyak cara mengonsumsi obat ke dalam tubuh. Prosedur yang paling umum biasanya obat oral/minum dan suntik. Namun, ada beberapa jenis lain cara mengonsumsinya bergantung pada cara kerja obat saat masuk ke dalam tubuh:

  • Buccal: dihisap di bagian dalam pipi
  • Enteral: langsung disalurkan ke dalam perut atau usus lewat selang kecil
  • Inhalable: dihirup langsung atau dengan masker khusus
  • Infused: disuntikkan lewat pembuluh darah menggunakan selang infus
  • Intramuscular: disuntikkan ke otot menggunakan jarum
  • Intrathecal: disuntikkan ke tulang belakang
  • Intravenous: disuntikkan ke pembuluh darah vena atau melalui infus
  • Nasal: lewat hidung dengan pompa atau obat semprot
  • Ophthalmic: diaplikasikan ke mata lewat obat tetes, gel, atau balsam
  • Oral: ditelan dalam bentuk tablet, kapsul, atau sirup
  • Rectal: dimasukkan lewat rektum
  • Subcutaneous: disuntikkan ke lapisan kulit
  • Sublingual: dihisap di bawah lidah
  • Topical: dioleskan ke kulit secara langsung
  • Transfermal: dimasukan lewat patch yang ditempel ke kulit

Ada 3 faktor utama yang turut menentukan bagaimana pemberian obat sebaiknya dilakukan, yaitu:

  • Bagian tubuh yang akan diobati
  • Cara kerja obat dalam tubuh
  • Formula obat

Contohnya, ada beberapa jenis obat yang hancur saat berinteraksi dengan asam lambung. Artinya, konsumsinya tak akan efektif jika ditelan. Alternatif pemberiannya adalah lewat prosedur suntikan.

Tenaga medis yang akan memberikan obat harus mengingat variabel penting, seperti kondisi pasien, jenis obat, waktu, dosis, dan cara kerja obat dalam tubuh. Itulah mengapa tidak semua jenis obat dapat dikonsumsi sendiri oleh pasien di rumah tanpa bantuan ahlinya.

Tenaga medis pun menjalani pendidikan sebelum memiliki wewenang untuk meresepkan atau memberikan obat kepada pasien. Pelatihan ini meliputi bagaimana cara tepat meresepkan obat sesuai dengan kondisi pasien, memasukkan informasi dosis dalam sistem, cara menyiapkan obat, hingga saat sudah dikonsumsi oleh pasien.

Baca Juga

  • Daftar Obat Flu Alami yang Ampuh dan Aman
  • 6 Cara Menjadi Ramah, Bisa Dimulai dari Hal Sepele
  • 5 Kunci Menjaga Kebugaran Paru dan Jantung

Cara kerja obat dan metabolisme tubuh

Cara kerja obat bisa sangat berpengaruh terhadap metabolisme tubuh seseorang. Contohnya, pasien yang menjalani pengobatan tiroid atau pengencer darah pasti merasakan dampaknya setelah mengonsumsi obat. Tak hanya itu, dokter pun perlu melakukan rangkaian pemeriksaan untuk membandingkan apakah dosis obat yang diberikan sudah tepat atau belum.

Selain itu, ada juga cara kerja obat yang lebih efektif apabila diberikan di waktu-waktu spesifik. Contohnya memberi obat setiap pagi untuk memastikan efektivitas obat itu dibandingkan dengan mengonsumsinya di lain waktu.

Metabolisme tubuh juga bisa terpengaruh akibat frekuensi minum obat. Jika jarak konsumsi satu obat dan lainnya terlalu dekat, bisa menyebabkan kandungannya terlalu banyak dalam tubuh. Sebaliknya, ketika pasien melewatkan waktu minum obat, cara kerjanya bisa tidak lagi optimal.

Lebih jauh lagi, metabolisme tubuh juga bisa terpengaruh akibat jenis obat yang dikonsumsi. Efek samping yang paling umum terjadi adalah reaksi alergi. Ketika ini berlangsung, segera informasikan kepada dokter. Bisa jadi, ada interaksi dengan obat lain atau perlu dicari alternatif jenis obat yang lain.

Melihat efek samping ini penting dilakukan terutama jika pasien mengonsumsi obatnya sendiri. Perhatikan betul apakah ada efek samping seperti pembengkakan, ruam, atau rasa tidak nyaman lainnya.

Seluruh pertanyaan – sesepele apapun – terkait cara konsumsi obat adalah hak tiap pasien untuk mendapatkan jawabannya. Tak perlu ragu atau merasa pertanyaan terlalu mendasar, lontarkan saja pertanyaan kepada ahlinya demi menghindari dampak negatif minum obat terhadap tubuh.

Advertisement

hidup sehatminum obatpola hidup sehat

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved