Bagaimana Anak Autis Melihat Dunia?

Penyandang autisme melihat dunia seperti sesuatu yang luar biasa dan menyebabkan mereka gelisah
Bagaimana anak autis melihat dunia?

Autisme atau autism spectrum disorder (ASD) merupakan nama digunakan untuk beberapa kondisi penyakit lain, seperti sindrom Asperger, yang memengaruhi interaksi sosial, komunikasi, ketertarikan, dan sikap.

Pada anak-anak penyandang autisme, gejalanya mungkin akan muncul sebelum usia tiga tahun, meskipun diagnosis biasanya baru dapat dibuat setelah berusia tiga tahun.

Jumlah penyandang autisme di Indonesia terus mengalami peningkatan. Prevalensi autisme di Indonesia terus mengalami peningkatan dari 1:1.000 kelahiran di awal tahun 2000 menjadi 1,68:1.000 kelahiran di tahun 2008.

Tidak ada ‘obat penyembuh’ autisme, tetapi terapi berbicara dan berbahasa, okupansi, edukasi, ditambah sejumlah intervensi lain tersedia untuk membantu anak-anak penyandang autisme dan orangtuanya.

Bagaimana Penyandang Autisme Melihat dunia?

Beberapa penyandang autisme mengatakan bahwa dunia tampak seperti sesuatu yang luar biasa dan menyebabkan mereka merasa gelisah.

Pada umumnya, memahami dan mengerti orang lain, ikut serta dalam kegiatan keluarga, sekolah, pekerjaan, dan bersosialisasi, tampak sebagai sesuatu hal yang sulit dilakukan.

Orang normal yang mungkin dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan mudah, tetap akan merasa kesulitan bersosialisasi dengan penyandang autisme.

Mereka sendiri juga mungkin mempertanyakan mengapa mereka ‘berbeda’ dan merasa perbedaan kehidupan sosial yang ada berarti orang-orang tidak mengerti mereka.

Anak penyandang autisme mungkin tampak seperti ‘anak pada umumnya’. Bahkan beberapa orangtua dari anak autis mengatakan bahwa banyak orang menganggap anak mereka adalah anak yang nakal.

Mutasi Gen dan Faktor Lingkungan sebagai Penyebab Autisme

Perubahan pada lebih dari seribu gen merupakan penyebab dari autisme, tetapi apa saja efeknya masih belum dikonfirmasi hingga sekarang. Selain peran genetik, ada juga pengaruh dari lingkungan seperti komplikasi saat melahirkan, usia kehamilan, dan lain sebagainya.

Ada juga penelitian yang menemukan bahwa autisme merupakan penyakit keturunan, meskipun demikian pola penurunannya masih belum dapat terdeteksi hingga sekarang.

Di masa lalu, banyak yang percaya bahwa autisme terjadi akibat vaksin MMR, akan tetapi dalam sejumlah penelitian besar di seluruh dunia pada jutaan anak-anak, para peneliti tidak menemukan bukti adanya hubungan antara vaksin MMR dengan ASD.

Apakah Ada Obatnya?

Hingga sekarang, tidak ada ‘obat penyembuh’ untuk autisme. Meskipun demikian, ada banyak strategi dan pendekatan – metode untuk belajar dan perkembangan anak – yang dapat membantu. Meskipun demikian, ada beberapa penelitian yang berhasil membuktikan bahwa nutrisi makanan dapat memberikan manfaat untuk penyandang autisme.

Dilaporkan bahwa pemberian suplemen vitamin B6 secara oral dapat meningkatkan interaksi sosial, komunikasi, dan fungsi intelektual secara signifikan. Ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa kandungan zinc memberikan efek pada kemampuan kognisi, sikap, dan perkembangan motorik anak autis. Selain itu, zinc juga diperlukan untuk perkembangan dan menjaga fungsi otak, kelenjar adrenal, saluran pencernaan, dan sistem imun.

Perlu diketahui bahwa anak autisme mungkin lebih sensitif terhadap rasa, warna, bau dan tekstur makanan. Maka dari itu, orangtua mungkin perlu meminta bantuan ahli gizi untuk mengetahui menu makanan apa yang dibutuhkan anak – karena setiap anak adalah unik.

Artikel Terkait

Banner Telemed