Awas! Tidur Terlalu Lama Berdampak Buruk bagi Kesehatan

Tidur terlalu lama bisa meningkatkan risiko kematian.
Terlalu lama tidur bahkan meningkatkan risiko terhadap kematian.

Tidur memang baik bagi kesehatan. Namun tahukah Anda, tidur terlalu lama (oversleeping), berbahaya bagi kesehatan? Sebab, ada risiko masalah medis, termasuk diabetes, penyakit jantung, bahkan kematian.

Para peneliti pun menemukan adanya kaitan antara depresi dan status sosioekonomi yang rendah, pada kasus oversleeping. Dua faktor tersebut bisa memberi dampak negatif. Misalnya, individu dengan status sosioekonomi rendah, umumnya kesulitan mengakses fasilitas kesehatan. Akibatnya, banyak penyakit (misalnya penyakit jantung) tidak terdiagnosis, yang bisa menyebabkan tidur terlalu lama.

Penyebab Tidur Terlalu Lama (Oversleeping)

Para ahli menyarankan agar orang dewasa harus memenuhi kuota tidur selama 7-9 jam setiap malam. Namun, pada dasarnya jumlah waktu tidur yang dibutuhkan bersifat individual, berdasarkan faktor-faktor berikut ini.

  • Usia
  • Aktivitas sehari-hari
  • Kondisi kesehatan
  • Gaya hidup

Bagi pengidap hipersomnia, tidur terlalu lama bisa menandakan kelainan medis, yang menyebabkan rasa kantuk sepanjang hari. Kondisi ini pun tidak akan hilang mesti telah tidur.

Namun, bukan berarti tidur terlalu lama, mencerminkan adanya masalah tidur. Faktor-faktor lain penyebab oversleeping adalah pemakaian zat tertentu, seperti alkohol dan obat-obatan dari dokter. Masalah seperti depresi, juga bisa memicu seseorang tidur terlalu lama.

Bahaya Terlalu Lama Tidur

Beberapa dampak tidur terlalu lama yang berbahaya bagi kesehatan antara lain diabetes, obesitas, sakit kepala, sakit punggung, depresi, hingga kematian.

1. Diabetes:

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidur terlalu lama, bisa meningkatkan risiko diabetes. Penyakit ini pun menjadi salah satu penyumbang kematian terbesar di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, untuk mencegah diabetes. Anda bahkan bisa melakukannya secara sederhana, misalnya dengan membersihkan rumah.

2. Obesitas:

Sebuah studi menunjukkan bahwa mereka yang tidur selama 9-10 jam setiap malam, memiliki 21 persen potensi lebih besar untuk mengidap obesitas, dibandingkan yang hanya tidur 7-8 jam.

3. Sakit kepala:

Para ahli meyakini bahwa tidur terlalu lama ada dampaknya pada kinerja zat kimia di otak, termasuk serotonin. Tidur siang terlalu lama, juga akan mengacaukan pola tidur di malam hari, sehingga mengakibatkan sakit kepala.

4. Sakit punggung:

Mungkin sebelumnya Anda menganggap tidur sebagai langkah mujarab untuk mengatasi sakit punggung. Namun nyatanya, dokter tidak menyarankan tidur terlalu lama. Oversleeping malah bisa memicu sakit pinggung.

5. Depresi:

Walau insomnia lebih sering dihubungkan dengan depresi ketimbang oversleeping, sebanyak 15 persen penderita depresi, sering tidur terlalu lama. Padahal, oversleeping malah akan memperparah depresi. Untuk bisa pulih, penderita depresi harus menjalani pola tidur yang baik.

6. Penyakit jantung:

Studi yang melibatkan 72.000 wanita menunjukkan, para responden yang tidur 9-11 jam per malam, memiliki potensi 38 persen lebih tinggi untuk mengidap penyakit jantung, dibandingkan dengan yang tidur hanya 8 jam per malam.

7. Kematian:

Beberapa studi juga menunjukkan, orang yang tidur lebih dari 9 jam per malam, mengalami peningkatan signifikan terhadap risiko kematian, dibanding yang tidur 7-8 jam per malam. Belum ditemukan kaitan atau alasan spesifik atas studi ini. Namun, ada spekulasi yang berkaitan dengan rendahnya status sosioekonomi seseorang, yang menyebabkan tingginya angka mortalitas.

Untuk menghindari dampak tidur terlalu lama, Anda harus mempraktikkan pola tidur yang baik. Para ahli merekomendasikan tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, menghindari kafein dan alkohol menjelang tidur, berolahraga, dan menciptakan ruangan tidur yang kondusif untuk menjaga pola tidur yang baik.

WebMD. https://www.webmd.com/sleep-disorders/guide/physical-side-effects-oversleeping
Diakses pada Oktober 2018

Kementerian Kesehatan RI.
http://www.depkes.go.id/article/view/16040700002/menkes-mari-kita-cegah-diabetes-dengan-cerdik.html
Diakses pada 11 Maret 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed