logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Awas Jadi Bumerang, 9 Cara Bijak Menasihati Saat Tidak Suka Remaja Pacaran

open-summary

Akan tiba fase anak mengenal bagaimana rasanya jatuh cinta. Terkadang, remaja pacaran bisa menimbulkan dilema sendiri bagi orangtua. Sebelum menasihati ketika tidak suka dengan keputusan mereka, ada baiknya melihat refleksi diri.


close-summary

3

(2)

15 Jan 2021

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Cara Bijak Menasihati Saat Tidak Suka Remaja Pacaran

Ada fase di mana anak remaja Anda mulai mengenal pacaran

Table of Content

  • Cara menghadapi anak yang mulai pacaran
  • Catatan dari SehatQ

Cepat atau lambat, akan tiba fase anak mengenal bagaimana rasanya jatuh cinta. Terkadang, remaja pacaran bisa menimbulkan dilema sendiri bagi orangtua. Sebelum menasihati ketika tidak suka dengan keputusan mereka, ada baiknya melihat refleksi diri.

Advertisement

Bahkan ketika akan memberikan nasihat kepada mereka, pilih kalimat yang sangat hati-hati. Cara menyampaikan harus dengan lembut. Minta mereka memulai bercerita terlebih dahulu.

Cara menghadapi anak yang mulai pacaran

Pilih waktu yang paling tepat untuk berkomunikasi tentang hal ini. Topik yang begitu sensitif jika tidak disampaikan dengan hati-hati justru bisa membuat remaja menutup diri.

Beberapa cara menghadapi anak yang mulai pacaran adalah:

1. Mulai dengan refleksi diri

Ketika merasa tidak setuju anak mulai berpacaran, lihat ke dalam diri sendiri. Mengapa muncul rasa tidak setuju? Apakah itu hanya penilaian subjektif atau objektif berdasarkan fakta seperti latar belakang pacar barunya seperti status ekonomi atau ras?

Jika ini yang menjadi masalah, sebaiknya renungkan lebih dalam apakah perlu menyatakan ketidaksetujuan sejak awal. Namun apabila alasannya lebih dari itu, maka sebaiknya sampaikan nasihat kepada anak. Tentunya, dengan tetap menyusun strategi terlebih dahulu.

2. Tidak menggurui

Meski berbeda usia hingga dua atau tiga dekade, tetap bukan alasan orangtua bisa menggurui anak tentang pilihan pasangan mereka. Meski restu orangtua tidak turun karena begitu sayangnya kepada anak, tetap saja hal ini akan membuat mereka justru mengabaikan.

Ingat, orangtua yang terlalu mengkritik atau menggurui hanya akan membuat pacar mereka tampak lebih atraktif. Ini justru bisa menjadi bumerang ketika mereka semakin serius dalam hubungan yang belum Anda beri lampu hijau.

3. Mulai dengan pertanyaan

Ketimbang mencecar anak dengan nasihat tanpa diminta, mulailah dengan pertanyaan. Kunci dari sesi tanya jawab ini adalah untuk menemukan apa yang mereka pikirkan serta apa yang membuatnya tertarik pada pasangannya.

Jenis pertanyaan yang bisa diajukan seperti:

  • Bagaimana kalian bertemu?
  • Apa yang membuat kamu suka kepadanya?
  • Apa yang kamu suka lakukan bersama dengannya?
  • Apa hobi pacarmu?
  • Apa yang paling kamu suka dari hubungan kalian?

Selama melakukan sesi tanya jawab ini, pastikan selalu berpikiran terbuka dan benar-benar mendengarkan jawaban mereka. Jangan memotong atau meremehkan respons anak.

Ketika memberikan tanggapan pun, sebisa mungkin tetap berada di posisi netral. Jangan mengambil posisi menyudutkan anak atau menuding hubungan mereka tidak akan bertahan.

4. Beri kepercayaan

Menariknya, remaja justru akan menjadi begitu bertanggung jawab apabila sudah diberi kepercayaan oleh orangtua. Seimbangkan antara menanamkan berbagai nilai hingga memberikan kepercayaan kepada mereka.

Selama anak Anda tidak dalam posisi berbahaya, sebaiknya beri mereka ruang untuk menjalani dan mengambil pelajaran dari semua yang dialaminya. Dengan cara ini, remaja belajar mengambil keputusan serta menerima konsekuensinya sendiri.

5. Undang bertemu

Sebelum menolak mentah-mentah, coba beri ruang untuk mengenal lebih jauh pacar baru anak Anda. Ajak makan bersama di rumah atau bertemu di suatu tempat. Kemudian, lihat bagaimana interaksi anak Anda bersamanya. Siapa tahu dengan tatap muka langsung, Anda bisa melihat nilai lain yang selama ini tidak terlihat dari cerita-cerita anak.

Ketika berada di tahapan ini, posisikan diri sebagai anak Anda yaitu remaja yang sedang mengenal cinta. Jangan terlalu fokus melihat hal-hal yang mungkin menjadi pemicu kontra.

Tak hanya itu, ingat untuk bersikap ramah dan terbuka ketika pacar anak Anda hadir memenuhi undangan untuk bertemu. Kuncinya adalah menunjukkan bahwa orangtua ingin mengenalnya lebh jauh.

6. Lihat jangka panjang

Jangan terburu-buru melarang atau mengultimatum anak untuk memutuskan hubungan mereka. Cinta monyet kerap kali tidak akan bertahan hingga jenjang pernikahan, meski ada juga yang berhasil. Namun intinya adalah lihat jangka panjang agar bisa tenang dalam bersikap.

7. Hargai privasi

Terbuka dan saling berkomunikasi tentang hubungan baru anak Anda memang penting. Namun, tetap beri ruang sekaligus hargai privasinya. Biarkan mereka mengambil keputusan sendiri, merasakan kegagalan, serta belajar dari fase ini.

Mengganggu proses ini akan membuat kepercayaan diri anak menjadi luntur. Jika orangtua memberi ruang dan pengawasan dengan porsi yang tepat, anak akan belajar sosok seperti apa serta hubungan bagaimana yang diinginkannya di masa depan.

8. Pilih kata-kata dengan bijak

Apabila Anda merasa perlu mengkritik anak atas hubungan yang tengah dijalaninya, pastikan memilih kata-kata dengan bijak. Sampaikan dengan tenang dan tetap menjunjung tinggi respek.

Respons awal yang paling mungkin muncul adalah membela diri. Untuk itu, mulailah dengan bertanya bagaimana perasaan anak ketika berada di posisi yang kurang Anda sukai. Bukan opini Anda yang ingin didengarkan, tapi justru anak. Dengan cara ini, anak bisa tahu kesalahannya dengan sendirinya.

9. Bahas tentang seks

Remaja pacaran tentu akan rentan bersinggungan dengan eksplorasi dunia seks. Jangan anggap topik ini tabu. Sebaliknya, sampaikan apa saja yang mungkin mereka belum tahu seputar kehidupan seksual. Tekankan bahwa orangtua akan selalu siap menjawab pertanyaan mereka seputar seks.

Mungkin jika belum terbiasa, pembicaraan dengan topik ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Namun, tetap lebih penting memberikan pendidikan seksual kepada anak sesering mungkin agar mereka tahu mana yang benar dan salah.

Baca Juga

  • 6 Dampak Buruk Pilih Kasih pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
  • 10 Tips Parenting untuk Hadapi Seluruh Tahap Perkembangan Anak
  • 7 Trik Agar Cara Merapikan Kamar Tidak Dianggap Beban oleh Si Kecil

Catatan dari SehatQ

Orangtua berhak melakukan intervensi kepada hubungan asmara anak apabila ada penganiayaan atau kekerasan. Ini adalah hal yang tidak bisa ditoleransi. Untuk bisa mendeteksi hal semacam ini, tentu komunikasi dengan anak harus selalu terbuka.

Untuk itu, selalu pastikan anak menjadikan Anda sebagai tempatnya bercerita tentang hal apapun. Jika Anda ingin tahu lebih banyak bagaimana batasan kekerasan dalam hubungan asmara remaja, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

tips parentingibu dan anakgaya parenting

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved