Autisme ringan pada Anak, Bagaimana Cara Mengenalinya?

Autisme ringan bisa mengakibatkan kesulitan anak dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Autisme ringan bisa menimbulkan gejala berupa kesulitan berinteraksi dengan orang lain.

Sebenarnya, tidak ada diagnosis "resmi" yang menyebut autisme ringan. Namun untuk kondisi tertentu, dokter termasuk psikiater, psikolog, maupun terapis, menyatakan adanya kondisi autisme ringan pada anak.

Anak yang memiliki gangguan spektrum autisme atau autism spectrum disorder (ASD), biasanya menunjukkan sejumlah gejala tertentu, sampai akhirnya bisa didiagnosis autistik. Bahkan, anak dengan kondisi autistik ringan sekalipun, tetap memperlihatkan tanda-tanda yang khas.

Autisme ringan munculkan tanda-tanda ini

Anak yang memiliki kondisi autisme ringan, menghadapi tantangan dalam hal perkembangan dan aktivitas sehari-hari. Biasanya, gejala autisme ringan ini muncul sebelum seorang anak berusia 3 tahun, yang meliputi:

  • Masalah dalam berkomunikasi dua arah, termasuk dalam mengembangkan percakapan, bahasa tubuh, kontak mata, serta ekspresi wajah
  • Kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain, termasuk kesulitan dalam bermain, berteman, maupun berbagi
  • Kecenderungan melakukan kegiatan tertentu secara berulang-ulang, misalnya meletakkan mobil-mobilan dalam satu barisan terus-menerus tanpa alasan tertentu
  • Ketertarikan atas suatu hal yang teramat sangat, misalnya minat terhadap video game tertentu, dan begitu menguasainya
  • Sangat peka atau malah tidak peka sama sekali terhadap rangsang sensori, misalnya suara, cahaya, aroma tertentu, rasa sakit, maupun sentuhan

Apabila gejala-gejala di atas baru muncul ketika sudah melewati usia 3 tahun, maka umumnya anak didiagnosis memiliki gangguan komunikasi sosial (social communication disorder) yang tidak berat.

Apakah ada perawatan yang dibutuhkan anak dengan autisme ringan?

Berdasarkan kriteria diagnostik dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition atau DSM-5, anak-anak dengan kondisi autisme ringan, masuk dalam level 1 autisme.

Artinya, mereka membutuhkan sedikit dukungan tambahan untuk bisa menjalani kehidupan dengan normal. Namun tak jarang, kondisi autisme ringan ini menimbulkan kesulitan dalam memahami emosi dan bahasa tubuh lawan bicara, sehingga akhirnya memunculkan konflik.

Terapi bermain atau play therapy bisa dilakukan untuk
anak dengan kondisi autisme ringan.

Oleh karena itu, seperti halnya jenis autisme lainnya, autisme ringan membutuhkan perawatan berupa:

  • Terapi perilaku:

    Terapi ini menggunakan reward atau hadiah untuk mengajarkan perilaku tertentu pada anak.
  • Terapi bermain:

    Terapi ini memanfaatkan metode permainan untuk membangun kemampuan emosi dan berkomunikasi
  • Terapi wicara:

    Terapi ini berkaitan dengan kemampuan melakukan percakapan dan mengekspresikan bahasa tubuh
  • Terapi okupasi:

    Terapi okupasi ini sangat membantu anak yang mengalami masalah sensori
  • Terapi fisik:

    Terapi ini membantu anak autistik ringan yang memiliki kontraksi (tonus) otot rendah

Terkadang, dokter atau psikiater akan memberikan obat-obatan tertentu untuk mengatasi beberapa gejala autisme ringan, seperti gangguan kecemasan dan gangguan mood.

Sejumlah terapi tersebut juga bisa membantu anak-anak autistik yang memiliki riwayat kejang, masalah pencernaan, gangguan tidur, serta perilaku obsesif-kompulsif.

Selain autisme ringan, aja saja tingkat autisme lainnya?

Di samping autisme ringan atau autisme level 1, ada kelompok autisme level 2 dan level 3. Seperti apa tanda-tandanya?

Autisme level 2 dan gejalanya

Anak-anak autistik level 2 membutuhkan lebih banyak bantuan atau dukungan, dibandingkan mereka yang memiliki kondisi autisme ringan. Seorang anak autistik level 2 akan mengalami kesulitan berarti dalam beradaptasi dengan berbagai perubahan di lingkungannya. Berikut ini gejala-gejalanya:

  • Kesulitan menghadapi perubahan rutinitas di lingkungan sekitar
  • Kesulitan dalam berkomunikasi secara verbal maupun non-verbal
  • Mengalami masalah perilaku berat yang terlihat nyata
  • Memberikan respons yang tidak biasa ketika berinteraksi dengan orang lain
  • Hanya menggunakan kalimat sederhana ketika berkomunikasi
  • Memiliki keterbatasan minat

Terapi untuk autisme level 2

Sejumlah terapi bisa membantu perkembangan anak autistik level 2, termasuk terapi sensori integrasi dan terapi okupasi.

1. Terapi sensori integrasi:

Terapi ini bisa membantu anak autistik level 2 untuk menghadapi:

  • Aroma tertentu
  • Suara yang nyaring atau mengganggu
  • Perubahan visual yang mengganggu
  • Cahaya yang terlalu terang

2. Terapi okupasi:

Terapi ini membantu anak dalam mengembangkan keterampilan untuk beraktivitas sehari-hari, misalnya dalam mengambil keputusan.

Autisme level 3 dan gejalanya

Merujuk pada DSM-5, autisme level 3 merupakan kategori autisme yang paling berat. Anak dengan kondisi ini membutuhkan bantuan yang besar untuk menjalani kegiatan sehari-hari. Sebab selain kesulitan berat dalam berkomunikasi, anak dengan autisme level 3 juga memperlihatkan perilaku berulang dan menarik diri dari lingkungan sekitarnya.

Selain itu, anak dengan autisme level 3, memiliki gejala berupa kondisi berikut ini:

  • Keterampilan berkomunikasi verbal dan non-verbal yang sangat rendah
  • Sangat enggan untuk melakukan interaksi sosial
  • Kesulitan dalam mengubah perilaku
  • Kesulitan beradaptasi dengan perubahan pada rutinitas maupun lingkungan sekitarnya
  • Kesulitan untuk mengubah fokus atau perhatian

Terapi untuk autisme level 3

Anak dengan autisme level 3 membutuhkan terapi intensif yang fokus pada sejumlah kesulitan, termasuk dalam hal perilaku dan berkomunikasi.

Kondisi autistik dalam tingkat ini juga membutuhkan pengobatan. Meski tidak ada obat yang spesifik bisa mengatasi autisme, ada obat-obatan tertentu untuk meredakan gejala seperti kesulitan konsentrasi dan depresi.

Anak autistik level 3 juga membutuhkan pendamping, termasuk guru bantu (shadow teacher) untuk membantu mempelajari keterampilan dasar, agar nantinya bisa melakukan berbagai kegiatan dengan baik di rumah, sekolah, kampus, bahkan tempat kerja.

Catatan dari SehatQ

Jika Anda mencurigai adanya gangguan spektru autisme pada Si Kecil, berkonsultasilah pada dokter tumbuh kembang, psikolog anak, maupun psikiater anak. Sebaiknya jangan percaya pada berbagai mitos yang berkembang mengenai autisme. Percayalah pada berbagai informasi yang disampaikan oleh dokter, psikolog, jurnal, maupun publikasi lainnya, yang memiliki bukti ilmiah.

Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/what-is-mild-autism-260244
Diakses pada 18 Februari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/levels-of-autism#level-1
Diakses pada 18 Februari 2020

Artikel Terkait