logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Bayi & Menyusui

Atresia Esofagus, Kelainan Kerongkongan pada Bayi

open-summary

Atresia esofagus adalah kelainan pada bayi yang terjadi ketika kerongkongannya tidak tersambung dengan benar ke bagian pencernaan. Apabila tidak segera diatasi, kondisi ini berpotensi membuat bayi mengalami komplikasi, bahkan dapat berujung kematian.


close-summary

4 Okt 2020

| Bayu Galih Permana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Atresia esofagus adalah kelainan genetik yang mengakibatkan kerongkongan bayi tidak tersambung ke bagian pencernaan dengan benar

Atresia esofagus merupakan penyakit langka yang tidak dapat dicegah

Table of Content

  • Jenis atresia esofagus
  • Apa saja gejala atresia esofagus?
  • Penyebab atresia esofagus pada bayi
  • Komplikasi yang bisa terjadi
  •  
  • Mendiagnosis atresia esofagus
  • Pengobatan atresia esofagus
  • Apakah bisa mencegah atresia esofagus?

Atresia esofagus (esophageal atresia) adalah kondisi cacat lahir pada bayi yang terjadi saat kerongkongannya tidak tersambung ke bagian pencernaan dengan benar.

Advertisement

Kondisi cacat lahir ini tergolong langka dan diperkirakan hanya terjadi 1 dari 3.500 kelahiran. Atresia esofagus dapat mengakibatkan gangguan pernapasan dan masalah pencernaan pada bayi.

Jenis atresia esofagus

Mengutip dari Centers for Disease Control and Prevention, ada beberapa jenis atresia esofagus pada bayi baru lahir, di antaranya adalah:

  • Tipe A, tidak ada bagian kerongkongan yang menempel pda trakea.
  • Tipe B, bagian atas kerongkongan menempel pada trakea, tetapi ujung bawah kerongkongan tertutup (jarang terjadi).
  • Tipe C, bagian atas kerongkongan ujungnya tertutup dan bagian bawah kerongkongan melekat pada trakea (paling umum).
  • Tipe D, bagian atas dan bawah kerongkongan tidak terhubung satu sama lain. Terhubung secara terpisah dengan trakea (paling langka dan parah).

Apa saja gejala atresia esofagus?

Tanda atau gejala atresia esofagus biasanya sudah dapat terlihat sejak bayi baru lahir. Berikut adalah beberapa gejala yang umum terjadi, seperti:

  • Bayi sering tersedak atau batuk ketika meminum ASI.
  • Munculnya lendir berbusa pada mulut bayi.
  • Mulut bayi sering mengeluarkan air liur.
  • Kulit bayi berubah kebiruan saat menyusu.
  • Bayi kesulitan bernapas.

Tak menutup kemungkinan akibat dari salah satu gejala ini membuat bayi jadi tidak mau menyusu. Perlu diperhatikan bahwa gejala pada masing-masing bayi mungkin saja berbeda.

Jika menemukan adanya gejala-gejala seperti di atas pada bayi Anda, segera konsultasikan hal tersebut dengan dokter.

Baca Juga

  • Beragam Manfaat ASI bagi Ibu dan Bayi
  • Polusi Udara Dalam Ruangan Ternyata Dapat Mengancam Kesehatan Anda
  • Bayi Merangkak Mulai Usia Berapa? Begini Cara Melatihnya yang Aman Agar Tepat Waktu

Penyebab atresia esofagus pada bayi

Belum diketahui pasti apa yang menjadi penyebab salah satu penyakit pada bayi baru lahir ini.

Namun, mutasi (perubahan) genetik diduga menjadi penyebab esofagus bayi berkembang secara tidak normal saat masih berada dalam kandungan.

Umumnya, kerongkongan dan trakea terbentuk pada waktu yang hampir bersamaan di dalam rahim.

Akan tetapi, pada bayi yang mengalami esophageal atresia, kerongkongan tidak terhubung antara mulut dan perut bayi.

Kerongkongan mungkin terhubung ke trakea atau berada pada dua bagian yang ujungnya tertutup.

Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan bayi mengalami ini adalah usia ayah di atas 40 tahun dan perawatan kesuburan seperti inseminasi buatan serta bayi tabung.

Komplikasi yang bisa terjadi

 

Bayi yang mengalami atresia esofagus kesulitan menelan makanan
Bayi yang mengalami atresia esofagus mengalami kesulitan dalam mengonsumsi makanan

Kondisi kerongkongan bayi dengan atresia esofagus yang tidak terhubung dengan benar ke perut dapat memicu terjadinya komplikasi.

Berikut adalah beberapa kemungkinan komplikasi atresia esofagus pada neonates, seperti:

  • Kesulitan mengonsumsi makanan.
  • Asam dari lambung naik kembali ke kerongkongan (GERD).
  • Penyempitan kerongkongan karena jaringan parut yang muncul pasca-operasi
  • Risiko kematian juga bisa terjadi jika air liur atau cairan lain masuk ke dalam paru-paru (pneumonia aspirasi).
  • Tracheomalacia.

Selain itu, bayi dengan atresia esofagus juga berpotensi untuk mengalami kelainan (cacat) pada bagian tubuh lainnya.

Mendiagnosis atresia esofagus

Dokter bisa saja mendiagnosis esophageal atresia sebelum bayi lahir. Yaitu, jika pada saat USG terlihat adanya peningkatan cairan ketuban.

Atresia esofagus juga dapat terdeteksi setelah bayi lahir. Dokter biasanya mencurigai kondisi ini saat bayi batuk, tersedak, dan kulitnya tiba-tiba berubah menjadi biru setelah menyusu.

Hal ini terjadi karena ASI bisa saja masuk ke saluran pernapasan yang menyebabkan sesak napas.

Sebagai pemeriksaan lanjutan, dokter akan memasukkan selang makanan kecil melalui mulut atau hidung bayi hingga ke dalam perut.

Apabila selang tersebut tidak bisa masuk ke dalam perut, maka bayi Anda kemungkinan besar mengalami esophageal atresia.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih jelas, dokter akan melakukan pemeriksaan rontgen atau pemeriksaan x-ray sehingga dapat melihat kondisi bagian dalam tubuh bayi Anda.

Bayi dapat dikatakan mengalami atresia esofagus jika rontgen menunjukkan hasil seperti:

  • Munculnya kantung berisi udara di dalam kerongkongan.
  • Banyak udara masuk ke dalam perut dan usus.
  • Selang makanan tampak melingkar pada kerongkongan.

Pengobatan atresia esofagus

Untuk mengatasi kondisi tersebut, dokter akan melakukan operasi pembedahan sesegera mungkin usai bayi lahir.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperbaiki kerongkongan bayi, sehingga paru-parunya tidak rusak dan si kecil bisa segera mendapatkan asupan makanan.

Sebelum operasi, bayi tidak boleh menyusu secara langsung dan akan mendapatkan asupan nutrisi melalui intravena (IV). Langkah ini juga dilakukan untuk mencegah masuknya terlalu banyak lendir ke dalam paru-paru bayi.

Apakah bisa mencegah atresia esofagus?

Tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk mencegah bayi mengalami atresia esofagus. Namun, Anda dapat menurunkan risiko dengan merawat serta menjaga nutrisi maksimal saat kehamilan.

Berikut tips menjaga supaya bayi tetap sehat selama berada dalam kandungan:

  • Mengonsumsi makanan sehat.
  • Berolahraga yang cukup.
  • Banyak istirahat.
  • Rutin melakukan pemeriksaan kandungan ke dokter.

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar atresia esofagus pada bayi baru lahir, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

tumbuh kembang bayibayiperkembangan bayicacat lahirpenyakit anakgangguan pernapasan

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved