Asthenozoospermia Adalah Saat Sperma Tak Lincah Berenang, Bagaimana Menyiasatinya?

Asthenozoospermia adalah kondisi saat sperma tidak bisa bergerak dengan lincah
Sperma yang sehat dapat berenang lurus sejauh 25 mikrometer per detik

Sperma seorang pria dikatakan sehat apabila memenuhi beberapa kriteria, mulai dari volume, bentuk, kemampuan bergerak mencapai sel telur, juga motilitas atau pergerakannya. Asthenozoospermia adalah kondisi saat sperma tidak bisa bergerak dengan lincah.

Padahal untuk bisa membuahi sel telur, sperma harus “menempuh” perjalanan cukup panjang sejak dikeluarkan dari penis. Mulai dari liang vagina, serviks, tuba falopi, dan banyak lagi.

Artinya, sangat mungkin asthenozoospermia menyebabkan pria kesulitan menghasilkan keturunan.

Motilitas sperma yang ideal

Idealnya, sperma yang sehat dapat berenang lurus sejauh 25 mikrometer per detik. Asthenozoospermia adalah kondisi ketika sperma tidak bisa mencapai angka tersebut.

Lebih jauh lagi, masalah-masalah asthenozoospermia yang kerap terjadi adalah:

  • Sperma tidak dapat berenang dengan cepat
  • Sperma tidak berenang lurus
  • Sperma non-progresif atau gerakan kurang dari 5 mikrometer per detik
  • Sperma tidak bergerak sama sekali (no mobility)

Ada pula mitos yang menyebut bahwa sperma dengan kromosom Y dapat berenang lebih cepat ketimbang sperma dengan kromosom X. Namun hal ini tidak terbukti secara ilmiah karena tidak ada perbedaan di antara keduanya. Justru, asthenozoospermia adalah definisi perbedaan cepat tidaknya sperma bisa bergerak.

Penyebab asthenozoospermia

Pemicu asthenozoospermia adalah hal yang beragam. Mulai dari faktor genetik, kelelahan, atau kondisi medis yang bahkan masih menjadi tanda tanya. Beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya asthenozoospermia adalah:

  • Gaya hidup tidak sehat (merokok)
  • Pekerjaan yang rentan trauma di area panggul (sopir, pelukis, atlet)
  • Varikokel (pembuluh darah di skrotum membengkak)
  • Gangguan pengeluaran pada kelenjar seksual
  • Infeksi
  • Kanker testis
  • Operasi di bagian testis
  • Cedera
  • Level hormon rendah

Biasanya, asthenozoospermia bisa diketahui setelah dilakukan analisis secara berkala terhadap sperma seorang pria. Untuk menganalisis, diperlukan sampel sperma yang disimpan dalam suhu ruangan.

Orang yang menjalani tes biasanya diminta untuk tidak ejakulasi sejak seminggu sebelumnya. Tujuannya agar volume air mani bisa meningkat.

Jika dilakukan sendiri di rumah, interval antara proses analisis di laboratorium dan ejakulasi tak boleh lebih dari 60 menit. Selama proses ini, dokter merekomendasikan untuk memegang sampel dekat dengan tubuh agar suhunya tidak berubah drastis.

Hasilnya, apabila kurang dari 32% sperma tidak bisa berenang sesuai target, artinya orang tersebut mengalami asthenozoospermia. Meski demikian, asthenozoospermia bukan berarti seorang pria mandul karena kondisi ini masih bisa diatasi.

Cara mengatasi asthenozoospermia

Cara mengatasi asthenozoospermia bisa dilakukan dengan menjalani gaya hidup yang lebih sehat. Beberapa contohnya adalah:

  • Tinggalkan gaya hidup tak sehat

Kurangi atau tinggalkan sama sekali konsumsi nikotin berlebih dari rokok. Selain itu, obat-obatan dan alkohol juga bisa mengurangi kualitas sperma. Bagi yang ingin memperbaiki kualitas sperma, sebaiknya meninggalkan gaya hidup tak sehat tersebut.

  • Berat badan ideal

Indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25 dapat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas sperma. Untuk itu, upayakan mencapai atau menjaga berat badan ideal.

  • Aktif bergerak

Bergerak dengan aktif di sela rutinitas atau memilih olahraga apa yang bisa dijalani teratur juga bisa jadi pilihan untuk meningkatkan mobilitas sperma

  • Kelola stres

Stres menjadi pangkal dari banyak keluhan medis, termasuk berkurangnya motilitas sperma. Untuk itu, cari tahu cara relaksasi dan mengelola stres sesuai dengan diri sendiri. Hal ini juga penting untuk memastikan kualitas tidur tidak menurun.

  • Tidak pakai celana dalam saat tidur

Ternyata, tidak pakai celana dalam saat tidur juga dapat meningkatkan produksi sekaligus kualitas sperma. Kondisi ini membantu suhu sekitar testis tetap berada di angka 34,4 derajat Celsius, lebih rendah ketimbang suhu tubuh.

  • Suplemen

Beberapa jenis suplemen tertentu disebut dapat membantu meningkatkan motilitas sperma. Namun sebelum mengonsumsinya, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk menghindari efek samping.

  • Operasi

Apabila pemicu asthenozoospermia adalah masalah hormonal, dokter bisa merekomendasikan obat penambah hormon seperti follicle-stimulating hormone atau human chorionic gonadotropin. Selain itu, pada beberapa kasus dokter juga bisa menyarankan operasi.

Perlu diingat bahwa asthenozoospermia adalah hal yang bisa berpengaruh terhadap kemampuan seorang pria memiliki keturunan. Jika Anda dan pasangan sedang program memiliki anak, maka jangan tunda mencari tahu lebih detil pemicunya dan apa yang perlu dilakukan untuk mengatasinya.

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/boost-male-fertility-sperm-count
Diakses 21 November 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/fertility/sperm-motility#treatment
Diakses 21 November 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320160.php#outlook
Diakses 21 November 2019

Artikel Terkait