Asetilkolin, Neurotransmitter yang Pertama Ditemukan

Asetilkolin adalah neurotransmitter yang pertama ditemukan
Asetilkolin merupakan neurotransmitter yang pertama ditemukan

Tubuh memiliki beragam jenis neurotransmitter, senyawa kimia yang berperan dalam penyampaian sinyal antarsel. Beberapa yang terkenal yakni dopamin dan serotonin. Namun, di antara semua neurotransmitter, senyawa yang pertama ditemukan bernama asetilkolin. Sudah pernah mendengar tentang senyawa ini sebelumnya?

Apa itu asetilkolin?

Asetilkolin adalah sebuah neurotransmitter di tubuh yang berperan dalam penyampaian sinyal dari satu sel ke sel lainnya. Nama “asetilkolin” diambil dari struktur kimianya, yakni asam asetat (acetic acid) dan kolin.

Asetilkolin merupakan neurotransmitter yang paling umum dikenal karena fungsinya sangat penting untuk kita. Neurotransmitter ini bisa ditemukan di hampir semua motor sel saraf, sehingga semua pergerakan tubuh dipengaruhi oleh asetilkolin.

Tak hanya yang paling dikenal, asetilkolin juga merupakan neurotransmitter yang pertama kali ditemukan. Asetilkolin diperkenalkan pada tahun 1914.

Fungsi asetilkolin untuk tubuh

Secara umum, fungsi asetilkolin yakni berperan dalam fungsi otot serta kinerja otak.

1. Berperan dalam kinerja otot

Asetilkolin memainkan peran vital dalam sistem saraf somatik dan bekerja untuk mengaktifkan otot. Asetilkolin juga berperan dalam pelebaran pembuluh darah, meningkatkan sekresi tubuh, dan menurunkan detak jantung.

Seperti yang disampaikan di atas, asetilkolin ditemukan di semua sel saraf tubuh. Pergerakan otot tubuh pun melibatkan peran dari asetilkolin, mulai dari pergerakan lambung, pergerakan jantung, hingga kedipan mata.

2. Berperan dalam fungsi otak

Asetilkolin berperan berbagai area di kinerja sistem saraf pusat. Misalnya, motivasi diri, gairah dalam beraktivitas, perhatian, daya nalar, dan daya ingat. Asetilkolin pun terlibat dalam mendorong terjadinya tidur REM (tidur yang ditandai dengan gerakan cepat dan acak dari mata).

Kaitan asetilkolin dengan beberapa gangguan medis

Beberapa gangguan medis dan saraf dikaitkan dengan fungsi asetilkolin, yaitu:

1. Asetilkolin dengan penyakit Alzheimer

Alzheimer merupakan penyakit yang ditandai dengan penurunan daya ingat serta kemampuan bernalar. Para ahli belum dapat memastikan penyebab dari Alzheimer. Walau begitu, banyak penderita Alzheimer yang memiliki kadar asetilkolin yang rendah. Hal ini terjadi karena penyakit Alzheimer merusak sel yang menghasilkan asetilkolin.

2. Asetilkolin dengan Myasthenia Gravis

Myasthenia Gravis adalah penyakit autoimun yang menyebabkan kelemahan otot. Gejalanya dapat beragam, termasuk turunnya satu atau kedua kelopak mata, penglihatan kabur, serta rasa lemah pada berbagai bagian tubuh.

Myasthenia Gravis dapat memicu sistem imun menghambat atau menghancurkan reseptor asetilkolin. Karena reseptornya rusak, otot pun tidak menerima neurotransmitter ini sehingga fungsinya terganggu dan tidak dapat berkontraksi.

3. Asetilkolin dengan penyakit Parkinson

Penyakit Parkinson merupakan gangguan saraf yang menimbulkan Gerakan tidak disadari dan sulit di kontrol penderitanya. Penyakit ini juga menyebabkan tremor dan sulit dalam berpikir.

Seperti Alzheimer, penyebab penyakit Parkinson juga belum dapat diketahui dengan pasti. Namun pakar menemukan bahwa banyak penderita penyakit Parkinson yang memiliki kadar dopamin (neurotransmitter lain) yang rendah.

Rendahnya kadar dopamin memancing naiknya asetilkolin, sehingga memicu gejala seperti tremor.

Bisakah kita meningkatkan kadar asetilkolin?

Belum ada cara yang terbukti dapat meningkatkan kadar asetilkolin. Walau begitu, beberapa kajian menyebutkan bahwa konsumsi suplemen kolin, sebagai penyusun asetilkolin, dapat membantu.

Kolin adalah nutrisi vital yang diperlukan tubuh, dan berperan dalam fungsi otak dan saraf. Kolin pun merupakan komponen penyusun dari asetilkolin, sehingga Anda harus mencukupkan kebutuhan kolin dari makanan agar produksi asetilkolin tetap terjaga.

Ada banyak makanan yang menjadi sumber kolin, di antaranya yaitu:

  • Daging
  • Ikan
  • Telur
  • Sayuran cruciferous
  • Biji-bijian sereal utuh
  • Produk susu
  • Kacang-kacangan

Suplemen kolin dapat dikonsumsi untuk mencukupkan kebutuhan nutrisi ini. Selalu ikuti anjuran dokter terkait penggunaan suplemen kolin, karena dosis berlebih dapat menimbulkan efek samping seperti bau amis pada badan.

Catatan dari SehatQ

Asetilkolin adalah neurotransmitter yang paling banyak ada di tubuh sekaligus yang pertama kali ditemukan. Fungsinya sangat vital untuk kinerja otot, saraf, dan otak.

Karena asetilkolin tersusun dari nutrisi kolin, rutin mengonsumsi makanan sehat sumber kolin di atas bisa dilakukan untuk mencukupkan kebutuhan nutrisi ini.

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/what-is-choline
Diakses pada 3 Februari 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326638.php
Diakses pada 3 Februari 2020

Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-acetylcholine-2794810
Diakses pada 3 Februari 2020

Artikel Terkait