logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Mengenal Apraksia pada Anak dan Cara Mengatasinya

open-summary

Apraksia adalah penyakit saraf yang membuat penderitanya kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan membuat gestur tubuh. Kondisi ini dapat disebabkan sejumlah hal, misalnya stroke, tumor, hingga demensia. Penanganan kondisi ini dilakukan berdasarkan penyebabnya.


close-summary

6 Jul 2022

| Fadli Adzani

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Apraksia adalah gangguan bicara dan gerak tubuh yang dapat dirasakan anak dan lansia.

Mengenal apraksia, gangguan bicara dan gerak tubuh yang dapat dirasakan oleh anak.

Table of Content

  • Apa itu apraksia pada anak?
  • Penyebab apraksia
  • Gejala apraksia yang harus diwaspadai
  • Jenis-jenis apraksia yang patut dipahami
  • Bagaimana cara mendiagnosis apraksia?
  • Pengobatan apraksia
  • Apakah apraksia pada anak dapat dicegah?
  • Catatan dari SehatQ

Apakah Anda pernah melihat anak kesulitan berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sesuai dengan perintah? Waspadalah, bisa jadi kondisi ini disebabkan apraksia.

Advertisement

Untuk mengantisipasinya, mari kenali lebih jauh seputar apraksia, mulai dari penyebab, gejala, hingga penanganannya.

Apa itu apraksia pada anak?

apraksia pada anak
Ilustrasi anak yang menderita apraksia.

Apraksia adalah penyakit saraf yang membuat penderitanya kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari dan membuat gestur tubuh.

Misalnya, penderita apraksia dapat kesulitan untuk mengikat tali sepatu atau mengancingkan baju.

Di samping itu, penderita penyakit saraf ini bisa kesulitan dalam berbicara dan mengekspresikan dirinya menggunakan kata-kata.

Walaupun tahu apa yang ingin dikatakan, mereka dapat merasa kesulitan atau tidak bisa menggerakan mulut dan lidahnya untuk berbicara. 

Pada anak-anak, kondisi ini umumnya dibawa sejak lahir dan mempengaruhi kemampuannya membentuk suara ataupun kata-kata. Akibatnya, anak belum bisa bicara meski usianya kian bertambah.

Walaupun demikian, sebagian besar anak yang menderita apraksia dapat mengalami peningkatkan kemampuan yang cukup signifikan jika diberikan penanganan yang tepat.

Penyebab apraksia

Apraksia dapat terjadi saat beberapa wilayah pada hemisfer serebral (dua bagian simetris yang membagi dua otak besar) tidak berfungsi dengan baik.

Kondisi ini biasanya diakibatkan lesi di jalur saraf yang menyimpan ingatan tentang gerakan sehingga membuat penderitanya tidak bisa mengakses ingatan tersebut.  

Apraksia juga bisa dipicu cedera kepala atau penyakit lain yang menyerang otak, misalnya:

  • Stroke
  • Pukulan keras ke kepala
  • Demensia
  • Tumor
  • Degenerasi ganglionik kortikobasal.

Tidak hanya itu, apraksia adalah kondisi medis yang lebih sering menyerang orang lanjut usia (lansia) karena mereka lebih rentan terhadap penyakit saraf.

Anak-anak juga bisa mengalami apraksia. Jika mereka terlahir dengan kondisi ini, kemungkinan besar apraksia disebabkan adanya masalah pada sistem saraf pusat.

Gejala apraksia yang harus diwaspadai

Gejala utama apraksia adalah ketidakmampuan untuk melakukan gerakan-gerakan sederhana, meskipun penderitanya sudah mengerti kegunaan anggota tubuhnya dan bisa mengikuti arahan dengan baik.

Anak yang menderita apraksia juga kesulitan untuk mengontrol dan mengoordinasikan gerakan tubuhnya.

Mereka umumnya memiliki kerusakan otak yang menyebabkan afasia, yaitu gangguan bahasa yang membuat seseorang sulit memahami dan menggunakan kata-kata dengan benar.

Selain sulit berbicara dan menggunakan anggota tubuhnya, berikut adalah gejala apraksia lainnya yang perlu diperhatikan.

  • Kesulitan merangkai suku kata dalam urutan yang tepat untuk membuat kata-kata
  • Jarang mengoceh selama masih bayi
  • Sulit mengucapkan kata yang panjang dan rumit
  • Tidak konsisten saat berucap, misalnya mampu mengucapkan satu kata pada waktu tertentu, tapi tidak mampu melakukannya di waktu lain
  • Menggunakan bentuk komunikasi nonverbal yang berlebihan
  • Menghilangkan konsonan di awal dan akhir kata
  • Tampak meraba-raba dan kesulitan untuk mengucapkan kata-kata.

Gangguan berbicara apraksia pada anak sering kali disertai dengan kurangnya kemampuan bahasa atau kognitif lain yang menyebabkan kosakata terbatas, masalah tata bahasa, masalah pada koordinasi dan keterampilan motorik halus, hingga sulit mengunyah atau menelan.

Jenis-jenis apraksia yang patut dipahami

Terdapat beberapa jenis apraksia yang memiliki dampak berbeda pada tubuh, di antaranya:

  • Limb-kinetic apraxia

Limb-kinetic apraxia akan membuat penderitanya kesulitan untuk menggunakan jari, lengan, atau kaki untuk membuat gerakan yang presisi dan terkoordinasi.

  • Apraksia ideomotor

Anak yang menderita apraksia ideomotor akan kesulitan untuk mengikuti arahan verbal untuk melakukan gerakan tertentu.

  • Apraksia konseptual

Hampir mirip seperti apraksia ideomotor, penderita apraksia konseptual akan sulit untuk melakukan aktivitas atau gerakan yang melibatkan lebih dari satu langkah.

  • Apraksia ideasional

Anak yang mengalami apraksia ideasional akan kesulitan untuk merencanakan gerakan tertentu, misalnya memakai baju atau mandi.

  • Buccofacial apraxia

Penderita buccofacial apraxia akan kesulitan untuk melakukan gerakan dengan wajah dan bibir sesuai perintah.

  • Apraksia konstruksional

Anak dengan apraksia konstruksional tidak bisa menyalin, menggambar, dan membuat diagram atau gambar dasar.

  • Apraksia okulomotor

Apraksia okulomotor berdampak pada mata. Anak-anak yang mengidap jenis apraksia ini akan kesulitan menggerakkan matanya sesuai dengan arahan.

  • Apraksia verbal

Anak yang mengidap apraksia verbal akan kesulitan untuk membuat gerakan yang dibutuhkan untuk berbicara.

Mereka juga tidak mampu untuk mengeluarkan suara atau mengerti ritme dari pembicaraan. Gangguan bicara pada anak biasanya disebabkan jenis apraksia ini.

Bagaimana cara mendiagnosis apraksia?

pengobatan apraksia
Pengobatan apraksia

Baik pada anak-anak maupun orang dewasa, diagnosis apraksia membutuhkan bantuan dari ahli patologi wicara-bahasa atau speech-language pathologist (SLP).

Proses diagnosis apraksia dianggap cukup menantang. Pasalnya, gejala dari apraksia dapat berbeda-beda pada setiap orang.

Selain melihat riwayat medis, ahli patologi wicara-bahasa akan mengamati sekelompok gejala pada anak.

Ini juga dilakukan untuk memastikan bahwa gejala-gejala yang muncul bukan disebabkan kondisi medis lain, seperti afasia kesulitan menulis dan berbicara, kelemahan otot, hingga gangguan pendengaran.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan ahli patologi wicara-bahasa untuk mendiagnosis apraksia pada anak:

  • Meminta anak untuk mengulangi kata atau suku kata yang sama beberapa kali.
  • Meminta anak untuk membaca daftar kata yang isinya semakin panjang seiring anak membacanya.
  • Menilai bagaimana anak mengeluarkan suara vokal atau konsonan tertentu.
  • Mendengarkan alur bicara anak untuk melihat bagaimana mereka mengucapkan suku kata atau kata yang berbeda dari lainnya.
  • Melihat seberapa baik ucapan anak dapat dipahami orang lain.
  • Memberikan tes pendengaran untuk memastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pendengaran yang berkontribusi pada masalah bicara anak.
  • Memeriksa bibir, lidah, dan rahang anak untuk melihat apakah ada masalah struktural atau kelemahan otot.

Pengobatan apraksia

Pengobatan apraksia akan didasari kondisi medis yang menyebabkannya. Selain itu, terdapat beberapa terapi fisik dan okupasi yang bisa dijalani sebagai cara melatih anak bicara.

Terapi yang dimaksud dapat berupa:

  • Belajar untuk memproduksi suara dengan repetisi (pengulangan)
  • Belajar untuk menggerakkan anggota tubuhnya
  • Memperbaiki ritme berbicaranya menggunakan metronom atau jentikan jari
  • Belajar untuk menulis atau menggunakan komputer untuk mengekspresikan dirinya.

Tidak hanya itu, mengunjungi ahli terapi wicara juga bisa membantu mengatasi gangguan bicara pada anak akibat apraksia.

Terdapat beberapa teknik yang dapat dicoba untuk menangani apraksia, misalnya:

  • Mempelajari cara untuk menggerakkan otot mulut untuk memproduksi suara tertentu
  • Mempelajari bahasa isyarat bagi anak penderita apraksia yang sudah parah
  • Menggunakan semua indra untuk membantu anak berbicara, misalnya mendengarkan suara yang direkam atau menggunakan cermin untuk melihat bagaimana mulut mengeluarkan suara.

Menurut The National Institute of Neurological Disorders and Stroke, gejala apraksia dapat diredakan seiring berjalannya waktu. Namun, tidak semua penderita apraksia bisa mengalami penurunan gejala yang memuaskan.

Meski begitu, sebagian penderita apraksia dapat mengalami penurunan gejala dalam waktu bertahun-tahun atau dekade lamanya.

Baca Juga

  • Mengenal Ciri-Ciri Kecerdasan Musikal pada Anak dan Cara Mengembangkannya, Orang Tua Wajib Tahu
  • Penyebab Gangguan Tidur Ternyata Berhubungan dengan Sistem Saraf
  • Mengulik 7 Teori Perkembangan Anak

Apakah apraksia pada anak dapat dicegah?

Secara umum apraxia tidak dapat dicegah. Namun, mendiagnosis dan menangani apraksia sejak dini dapat mengurangi risiko jangka panjangnya.

Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya komplikasi atau masalah lanjutan dari apraksia, sebaiknya Anda segera memeriksakan si kecil ke rumah sakit jika mereka menunjukkan gejala-gejala dari gangguan bicara.

Ini dilakukan agar ahli patologi wicara-bahasa dapat memeriksa anak sedini mungkin sehingga masalah lanjutan dari apraksia dapat diminimalisir.

Catatan dari SehatQ

Anak-anak yang mengidap apraksia harus mengontrol gejalanya selama hidupnya. Dengan adanya terapi dan program pendidikan khusus, mereka dapat menjalani hidup lebih mudah.

Akan tetapi, anak-anak yang kondisi apraksianya sudah parah tidak bisa hidup secara independen dan harus membutuhkan bantuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Jika Anda khawatir dengan kesehatan anak, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang juga.

Advertisement

tips parentingmasalah sarafparenting stressspesialis anak

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved