logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
Forum
Penyakit

Apakah Rabies Bisa Menular Sesama Manusia? Ini Penjelasannya

open-summary

Rabies bisa menular dari manusia ke manusia. Hanya saja, kasus penularan antar manusia ini terbilang sangat jarang terjadi. Penularan rabies dari manusia ke manusia terjadi secara tidak langsung, ketika seseorang menyentuh luka gigitan hewan rabies di tubuh orang lain dengan tangan yang terluka.


close-summary

Ditinjau secara medis oleh dr. Reni Utari

30 Agt 2023

Rabies bisa menular dari manusia ke manusia tapi sangat jarang terjadi

Rabies bisa menular dari manusia ke manusia tapi sangat jarang terjadi

Table of Content

  • Apakah rabies bisa menular dari manusia ke manusia?
  • Cara agar tidak terkena rabies

Rabies adalah penyakit yang ditularkan dari lewat air liur yang masuk ke tubuh melalui gigitan hewan yang terinfeksi virus rabies ataupun kontak langsung pada kulit atau membran mukosa yang rusak. 

Advertisement

Selain ditularkan dari hewan ke hewan, rabies termasuk penyakit zoonosis yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia.

Lalu, apakah rabies bisa menular dari manusia ke manusia? Daripada penasaran dengan jawabannya, yuk, simak penjelasannya di bawah ini.

Apakah rabies bisa menular dari manusia ke manusia?

Rabies bisa menular dari manusia ke manusia. Hanya saja, kasus penularan antar manusia ini terbilang sangat jarang terjadi bahkan hampir tidak pernah. 

Kebanyakan rabies menular melalui gigitan hewan liar sedangkan penularan dengan cara lain, seperti paparan melalui luka goresan atau pada mukosa, lebih jarang terjadi.

Meskipun demikian, sebuah kasus penularan rabies dari manusia ke manusia pernah terjadi di China pada tahun 2014. Hal ini tertulis pada sebuah laporan kasus yang dipublikasikan lewat National Library of Medicine.

Kronologi kejadiannya dimulai pada tanggal 22 Juni 2014 saat seorang laki-laki paruh baya, sebut saja A, sempat mengalami luka robek akibat pisau. Luka itu terletak di ibu jari kanannya sepanjang 1,5 cm dengan disertai sedikit pendarahan.

Pria tersebut sempat menerima suntikan antitoksin tetanus dan lukanya juga sudah dirawat serta dijahit lalu kemudian ditutup dengan kain kasa untuk mendukung penyembuhan. Kemudian, pada tanggal 6 Juli, jahitan dibuka dan area luka kembali ditutup dengan kain kasa. 

Besoknya, pada tanggal 7 juli, kerabatnya terkena gigitan anjing liar di bagian betisnya. Pria itu menolong kerabatnya, tetapi kain kasa yang menutup luka di ibu jarinya sempat terkontaminasi darah dari korban gigitan tersebut. 

Meskipun kain kasa yang digunakan segera dibuang, tetapi berlainan dengan kerabatanya, A tidak mencari perawatan medis lebih lanjut dan tidak menerima vaksin rabies. 

Pada tanggal 1 September, A mulai mengalami gejala-gejala mengganggu, seperti agitasi atau gelisah di malam hari dan susah tidur. Tanggal 9 September pria itu mulai merasakan kesemutan pada anggota gerak tubuh bagian kanan atas. 

Kondisinya semakin memburuk hingga keesokan harinya ia mengalami berbagai gejala rabies termasuk fotofobia, hidrofobia, anemofobia, kejang otot faring, keringat berlebih, peningkatan air liur, dada sesak, mudah marah, dan juga linglung parah (delirium). 

Hasil tes kemudian mengonfirmasi adanya RNA virus rabies pada pria paruh baya tersebut. Keadaannya pun terus memburuk secara drastis hingga mengalami penurunan kesadaran dan kejang-kejang. Ia kemudian meninggal akibat henti jantung dan pernapasan pada tanggal 11 September.

Di sisi lain, kerabatnya yang digigit anjing rabies tidak mengalami komplikasi karena menerima suntikan vaksin rabies tepat waktu.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa rabies dapat menular dari manusia ke manusia sekalipun tanpa melalui gigitan. Selalu bersikap waspada dan hati-hati saat terlibat dengan kasus rabies, serta carilah pertolongan medis lebih lanjut jika kamu sempat mengalami kontak dengan hewan maupun orang yang terinfeksi rabies.

Baca Juga: Fase-fase Rabies dan Gejalanya pada Manusia

Cara agar tidak terkena rabies

Kebanyakan kasus penularan rabies terjadi melalui hewan. Oleh karena itu, untuk menurunkan risiko terkena rabies, sebaiknya lakukan hal-hal berikut ini:

  • Vaksinasi rabies hewan peliharaan kamu yang berisiko tinggi terkena rabies seperti kucing atau anjing.
  • Jangan biarkan hewan peliharaan berkeliaran bebas di luar rumah. Kalau kamu tetap ingin membebaskan hewan peliharaan main di luar rumah, selalu awasi agar tidak melakukan kontak dengan hewan liar yang terjangkit rabies.
  • Lindungi hewan peliharaan kecil seperti kelinci atau marmut dari predator. Pelihara di dalam ruangan atau kandang yang terlindung dari hewan liar. 
  • Laporkan pada pihak berwenang jika mendapati ada hewan liar yang berpotensi terinfeksi rabies.
  • Jangan mendekati hewan liar, termasuk yang terlihat jinak atau tidak takut dengan manusia. 
  • Pertimbangkan untuk mendapatkan vaksin rabies jika kamu bepergian atau sering berada di sekitar hewan yang bisa terjangkit rabies. 

Baca Juga: Apakah Rabies Bisa Disembuhkan? Ini Penjelasannya

Konsultasikan dengan dokter hewan untuk memperoleh informasi lebih lanjut terkait vaksin rabies untuk hewan peliharaan kamu.

Kalau kamu mengalami gigitan atau goresan dari hewan liar yang berpotensi terjangkit rabies, langsung cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit. Segera informasikan kepada dokter bahwa kamu telah mengalami kontak langsung dengan hewan maupun orang yang terinfeksi rabies.

Advertisement

hewan peliharaanrabies

Ditulis oleh Nenti Resna

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq
    FacebookTwitterInstagramYoutubeLinkedin

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Perusahaan

Dukungan

Butuh Bantuan?

Jam operasional:
07:00 - 20:00 WIB

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2023. All Rights Reserved