logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kehamilan

Bagaimana Pengaruh Polip Rahim dan Polip Serviks pada Kehamilan?

open-summary

Polip rahim dan polip serviks merupakan dua hal yang berbeda. Meskipun begitu, polip rahim dan serviks sama-sama dapat menyebabkan masalah pada kehamilan.


close-summary

10 Mei 2019

| Dina Rahmawati

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Polip serviks serta polip rahim dan kehamilan saling berhubungan

Polip rahim menghalangi sel telur yang telah dibuahi, sedangkan polip serviks bisa memblokir leher rahim

Table of Content

  • Penyebab tumbuhnya polip dan kehamilan
  • Gejala polip rahim dan polip serviks 
  • Hubungan polip rahim dan kehamilan
  • Penanganan polip untuk mencegah masalah kehamilan
  • Kapan harus memeriksakan diri ke dokter?

Polip merupakan pertumbuhan jaringan abnormal berupa benjolan kecil, lunak, rata atau bertangkai mirip jamur. Polip dapat tumbuh di usus besar, saluran telinga, hidung, perut, tenggorokan, rahim, dan serviks. Polip rahim dan kehamilan pun menjadi salah satu gangguan yang perlu diwaspadai ibu hamil.

Advertisement

Pemahaman tentang polip rahim dan polip serviks seringkali tertukar. Padahal keduanya merupakan polip yang berbeda, meskipun sama-sama dapat menyebabkan masalah pada kehamilan.

Penyebab tumbuhnya polip dan kehamilan

Polip pada wanita dapat tumbuh ibu hamil salah satunya di rahim dan juga serviks. Keduanya adalah kondisi yang bisa menyebabkan masalah kehamilan. Berikut penyebab tumbuhnya polip pada wanita:

1. Penyebab tumbuhnya polip rahim

Polip rahim merupakan benjolan lunak yang tumbuh di rahim, tepatnya pada jaringan yang melapisi dinding rahim (endometrium). Ukuran benjolan tersebut dapat bervariasi, mulai dari seukuran biji wijen, hingga sebesar bola golf.

Dikutip dari Cleveland Clinic, sebagian besar polip rahim jarang berkembang menjadi kanker, dan beberapa wanita tidak merasakan gejala apapun. Tidak diketahui secara pasti penyebab polip rahim ini. Namun, kondisi ini diduga berkaitan dengan perubahan kadar hormon. 

Polip rahim juga bisa muncul saat hamil. Meskipun polip rahim saat hamil jarang terjadi, karena polip biasanya sudah terdeteksi sebelum Anda hamil. 

Bila berusia 40-50 tahunan, konsumsi obat-obatan yang digunakan untuk kanker payudara, mengalami kenaikan berat badan berlebih (obesitas) atau tekanan darah tinggi, maka Anda lebih berisiko memiliki polip rahim yang tumbuh di endometrium.

2. Penyebab polip serviks

Bukan hanya polip rahim dan kehamilan, kondisi ini juga bisa terjadi pada serviks. Berbeda dari polip rahim yang tumbuh di area endometrium, polip serviks tumbuh di saluran serviks, penghubung rahim dan vagina.

Polip serviks berwarna kemerahan, keabuan ataupun keunguan. Polip ini berbentuk seperti umbi atau batang tipis yang panjangnya sekitar 1-2 cm. Polip serviks tumbuh secara tunggal atau berkelompok.

Polip serviks dapat terjadi karena kadar estrogen yang tinggi atau tubuh merespon hormon estrogen secara abnormal. Kondisi ini juga dianggap berkaitan dengan infeksi serviks, peradangan kronis, dan pembuluh darah dekat serviks yang tersumbat.

Polip serviks paling umum terjadi pada wanita berusia di atas 20 tahun yang telah melahirkan lebih dari satu anak. Perlu Anda ketahui bahwa terdapat dua jenis polip serviks yang berbeda, yaitu:

  • Polip ektoserviks: Polip serviks ini tumbuh pada sel-sel di lapisan permukaan luar serviks. Wanita pascamenopause lebih cenderung mengalami polip ektoserviks. 
  • Polip endoserviks: Polip serviks ini secara umum tumbuh dari kelenjar serviks yang ada di dalam saluran serviks. Wanita premenopause lebih cenderung mengalami polip endoserviks.

Walau beberapa kanker serviks terlihat seperti polip, namun kebanyakan polip serviks tidak menimbulkan masalah yang serius, karena bersifat jinak dan tidak mengandung sel kanker.

Namun, polip pada serviks (leher rahim) yang terjadi pada masa kehamilan dapat menyebabkan perdarahan. Meski begitu, penanganan polip serviks pada ibu hamil biasanya menunggu proses persalinan dan dilakukan bersamaan saat melahirkan.

Baca Juga

  • Ini Perbedaan PMS dan Hamil dari Gejala Nyeri Payudara hingga Keputihan
  • Kelebihan Air Ketuban (Hidramnion), Bahayakah untuk Ibu Hamil dan Janin? Waspadai 7 Tanda-Tandanya
  • 8 Cara Mengatasi Jerawat Saat Hamil Secara Alami yang Aman

Gejala polip rahim dan polip serviks 

Polip rahim dan serviks dapat menimbulkan gejala tertentu. Berikut ini beberapa gejala yang umum terjadi jika Anda mengalami polip rahim:

  • Perdarahan atau bercak diantara periode menstruasi
  • Siklus menstruasi yang tidak teratur
  • Menstruasi dengan mengeluarkan banyak darah
  • Pendarahan vagina yang terjadi setelah menopause
  • Sulit mendapatkan kehamilan (infertilitas)

Bila merasakan gejala-gejala tersebut, segera periksakan diri ke dokter, karena gejala polip rahim mirip dengan gejala kanker rahim.

Berbeda dengan polip rahim, polip serviks biasanya baru terdeteksi saat melakukan pap smear. Berikut ini gejala polip serviks yang umum terjadi:

  • Menstruasi mengeluarkan lebih banyak darah dari biasanya.
  • Perdarahan di antara periode menstruasi
  • Perdarahan setelah melakukan hubungan seks
  • Keputihan berbau menyengat

Jika Anda tidak mengalami gejala polip, maka Anda tidak perlu melakukan perawatan apapun. Akan tetapi, dokter tetap harus memantau perkembangan polip Anda. Sementara itu, bila Anda merasakan gejala tertentu, sebaiknya polip serviks segera diangkat.

Hubungan polip rahim dan kehamilan

Apakah polip rahim dan serviks berbahaya saat hamil? Polip rahim dan serviks dapat menyebabkan masalah pada kehamilan. Polip berisiko mempersulit kehamilan, atau malah memicu keguguran, akibat perdarahan yang parah. Polip rahim dapat menghalangi sel telur yang telah dibuahi, untuk menempel di rahim.

Sementara, polip serviks dapat menghalangi saluran tuba atau leher rahim. Hal ini bisa membuat sel sperma tidak dapat bertemu dengan sel telur sehingga tidak terjadi proses pembuahan.

Pengobatan mungkin dapat mengatasi masalah tersebut. Beberapa penelitian telah menemukan, menghilangkan polip dapat membantu wanita untuk hamil. Akan tetapi, tidak ada bukti yang jelas bahwa langkah ini efektif untuk setiap penderita polip.

Baik polip rahim maupun polip serviks saat hamil, sebetulnya jarang terjadi. Bila muncul, polip biasanya akan ikut hilang dalam proses persalinan.

Akan tetapi jika tidak keluar untuk polip rahim saat hamil, Anda dapat menunggu hingga proses persalinan, selesai untuk mengangkat polip tersebut.

Penanganan polip untuk mencegah masalah kehamilan

Pemeriksaan oleh dokter dapat dilakukan untuk  memastikan keadaan yang sebenarnya terjadi pada diri Anda, dan untuk menentukan pengobatan polip rahim dan polip serviks yang sebaiknya dilakukan.

Apakah polip rahim harus dioperasi? Pada polip rahim, dokter akan terlebih dahulu melakukan beberapa tes seperti, USG transvaginal atau biopsi endometrial. Anda tidak memerlukan perawatan bila tidak merasakan gejala apapun, dan bila polip tersebut bukanlah kanker.

Akan tetapi, jika sudah melewati masa menopause dan memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker rahim, maka sebaiknya Anda menjalani operasi pengangkatan polip rahim.

Anda dapat mengonsumsi obat agonis progesteron, maupun menjalani operasi histeroskopi atau kuret.

Jika terdapat polip, maka akan dilakukan biopsi untuk mengambil jaringan polip dan diperiksa di laboratorium. Ini dilakukan untuk memastikan apakah polip ganas atau tidak.

Sedangkan pada polip serviks, penanganan dapat dilakukan dengan pengangkatan polip menggunakan alat yang disebut forceps polip. Pengangkatan dapat pula dilakukan dengan mengikatkan tali bedah di sekitar polip, sebelum memotongnya.

Tak hanya itu, tindakan medis dapat juga dilakukan dengan memutar polip dari dasarnya, kemudian  mencabutnya keluar.

Dokter juga dapat menghilangkan polip dengan aliran listrik atau laser. Apabila ukuran polip besar, maka pengangkatan harus dilakukan di ruang operasi, dengan anestesi umum. Selama dan setelah operasi, akan terjadi  perdarahan dan kram dalam waktu singkat.

Setelah dihilangkan, polip serviks biasanya tidak tumbuh kembali, namun ini tidak selalu berlaku pada semua pengidap polip. Dalam mencegah timbulnya polip serviks, lakukanlah tes panggul secara teratur.

Selain itu, kenakanlah celana dalam katun untuk menghindari panas dan lembap berlebih di daerah kewanitaan yang dapat menyebabkan infeksi. 

Kapan harus memeriksakan diri ke dokter?

Polip serviks mungkin tidak menyebabkan gejala yang terlihat. Namun, segera temui dokter kandungan jika Anda mengalami keputihan lendir putih atau kuning pada vagina, dan menstruasi yang tidak normal.
 
Anda juga harus menghubungi dokter jika mengalami bercak atau perdarahan vagina saat:
  • Melakukan hubungan seksual
  • Seusai menstruasi
  • Setelah melakukan douching
  • Setelah memasuki waktu menopause

Meskipun jarang terjadi, polip serviks bisa mewakili fase awal kanker serviks.

Jika ANda ingin berkonsultasi langsung seputar polip rahim dan kehamilan, Anda bisa chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.

Advertisement

kehamilanpersalinanpolip rahim

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2023. All Rights Reserved