logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Apakah Perilaku di Usia Remaja Ini Normal atau Indikasi Gangguan Kejiwaan?

open-summary

Perubahan sikap pada anak usia remaja adalah normal. Namun ada batasan tertentu di mana perubahan tersebut bisa dikategorikan sebagai indikator gangguan mental atau perilaku tidak normal. Orangtua wajib membuka komunikasi yang erat dengan anak untuk mengetahuinya.


close-summary

3.45

(20)

3 Jun 2020

| Marco Anthony

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Perubahan sikap pada usia rejama adalah hal yang wajar

Perubahan sikap pada anak usia remaja adalah normal

Table of Content

  • Usia remaja bukan lagi anak 17 tahun ke bawah
  • Perilaku di usia remaja yang wajib Anda perhatikan
  • Cara mencegah perilaku usia remaja yang normal menjadi buruk
  • Catatan dari SehatQ

“Darah muda, darahnya para remaja”. Begitulah sepenggal lirik dari lagu dangdut yang menggambarkan sikap anak-anak yang beranjak ke fase usia remaja. Anak di usia remaja kerap bersikap memberontak, penuh energi mood yang berubah, atau bahkan terlihat menjauh dari orangtua secara emosional. Meskipun tidak semua remaja mengalaminya.

Advertisement

Perubahan sikap ini sebenarnya adalah hal yang wajar. Namun walau beberapa perubahan sikap ini terbilang normal, hal ini bisa juga menjadi indikator gangguan mental. Oleh karena itu penting bagi Anda untuk mengenali perilaku usia remaja mana yang normal dan tidak.

Usia remaja bukan lagi anak 17 tahun ke bawah

Di Indonesia, anak berusia di atas 17 tahun sudah dianggap dewasa. Namun sebuah studi yang tertulis dalam jurnal Lancet Child & Adolescent Health menunjukkan bahwa, usia remaja saat ini menjadi lebih panjang karena adanya perubahan biologis dan sosiologis.

Dari sisi biologis, anak perempuan zaman mengalami fase pubertas lebih cepat. Jika dulu anak perempuan mengalami pubertas di usia 14 tahun, sekarang sudah turun hingga usia 10 tahun. Penyebabnya adalah asupan gizi yang baik.

Sementara dari sisi sosiologis, banyak anak remaja yang menunda pernikahan demi menempuh pendidikan. Hal ini membuat banyak dari mereka menikah di usia yang lebih tua dibandingkan remaja beberapa dekade sebelumya.

Akibat dari masa pubertas yang terjadi lebih awal dan usia menikah yang jadi jauh lebih lama, penelitian ini menyimpulkan bahwa rentang usia remaja jadi semakin panjang, yaitu 10 hingga 24 tahun.

Perilaku di usia remaja yang wajib Anda perhatikan

1. Mood yang berubah-ubah

Mood yang mudah berubah adalah salah satu perubahan yang paling umum dialami oleh anak-anak yang beranjak remaja. Pada remaja perempuan, perubahan ini membuatnya lebih cepat marah atau pun menangis hanya karena hal yang sepele. Drama seperti ini adalah hal yang wajar karena anak di usia remaja sedang dalam masa transisi.

Untuk mengatasi mood swing, Anda sebagai orang tua dapat berbicara sebagai sahabat. Dengarkan keluhannya tanpa menghakimi. Kebiasaan menghakimi anak karena memiliki pandangan berbeda dengan Anda, seringkali akan membuatnya merasa tak dimengerti.

Perlu diperhatikan:

Ketika anak remaja tampaknya selalu melampiaskan pergolakan mood-nya dengan melakukan hal berbahaya atau kekerasan, ini patut menjadi perhatian Anda.

2.Sikap memberontak

Sikap memberontak juga menjadi ciri khas anak usia remaja. Di fase ini mereka ingin bertindak di luar aturan yang ada. Tujuannya untuk mencari jati diri. Jika “pemberontakan” mereka masih berkisar pada tidur lebih larut malam biasanya atau tampil dengan gaya pakaian yang nyentrik, Anda tak perlu khawatir.

Perlu diperhatikan:

Anda wajib mencari pertolongan dari psikolog jika, sikap pemberontakan anak sudah melibatkan perbuatan melanggar hukum, sering mendapat surat teguran dari sekolah, bolos, dan berbagai tindakan yang dapat menghambat masa depannya.

3. Tidur

Ketika mencapai usia remaja, jam biologis anak mulai mengalami perubahan. Salah satunya adalah membuat mereka bisa terjaga hingga larut malam. Meski tidak sehat, jangan marahi anak jika jadwal tidurnya tidak sesuai dengan keinginan Anda.

Anda bisa merespon kebiasaan ini dengan mengingatkan anak bahwa kebiasaan tidur larut malam tidak baik. Hindari memarahinya terus menerus karena hal ini.

Jika anak remaja Anda lebih sering tidur malam karena sering keluar rumah Anda bisa bertanya padanya mengenai hal-hal apa yang membuatnya tidak nyaman untuk berada di rumah.

Perlu diperhatikan:

Jika anak Anda lebih sering menggunakan waktunya untuk tidur (hingga 11 jam), mengisolasi diri di kamar, sering telat bangun untuk ke sekolah, Anda wajib memperhatikannya secara serius dan mencari pertolongan dari para ahli.

4. Berbohong

Anak di usia ini rentan berbohong. Alasan dibalik itu sebenarnya sederhana. Di usia ini anak remaja mulai menginginkan privasi dalam segala aspek kehidupannya. Oleh karena itu ada kalanya mereka sedikit berbohong kepada Anda. Soal pacar misalnya.

Perlu diperhatikan:

Anda wajib memperhatikan jika sikap berbohong menjadi sebuah kebiasaan atau anak mulai berbohong untuk menyembunyikan perilaku menyimpang dan berbahaya.

5. Eksperimen dengan alkohol

Darah muda anak usia remaja seringkali mendorong mereka mencoba sesuatu yang baru dan menantang. Salah satunya adalah minum alkohol. Banyak anak remaja yang sudah mencoba minum alkohol sebelum mereka beranjak dewasa.

Penting bagi Anda untuk selalu menjalin komunikasi terbuka dengan anak Anda. Selain karena gejolak darah muda, tekanan dari teman-temannya menjadi pemicu mengapa mereka melakukan hal-hal tersebut.

Selain alkohol, mencoba obat terlarang dan seks bebas adalah beberapa hal yang sering dianggap menarik untuk dicoba oleh remaja. Anda dapat menjelaskan bahaya hal-hal tersebut kepada anak.

Perlu diperhatikan:

Ketika minum alkohol sudah menjadi kebiasaan, baik untuk bersenang-senang atau mengatasi masalah emosional, Anda wajib berbicara serius dengan anak dan jika diperlukan, membawanya ke psikolog.

Baca Juga

  • 14 Cara Menghilangkan Kebiasaan Memukul pada Anak
  • Drop Out Dialami Anak, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?
  • 7 Cara Mengajarkan Anak 1 Tahun Sikat Gigi yang Menyenangkan

Cara mencegah perilaku usia remaja yang normal menjadi buruk

Komunikasi yang baik antara orangtua dan anak adalah salah satu cara mengatasi perilaku buruk remaja. Pastikan anda menjadi pendengar yang baik dan tidak menghakimi. Perlakukan anak sebagai sahabat.  Hal ini akan membuat anak Anda merasa nyaman dan terbuka kepada Anda.

Anda dapat menjelaskan berbagai bahaya dan risiko yang bisa dialami pada usia remaja. Seperti risiko alkohol, narkoba, sex bebas, dan kegiatan melanggar hukum.

Catatan dari SehatQ

Perubahan perilaku dan sikap adalah hal yang wajar terjadi ketika anak beranjak dewasa. Beberapa hal tersebut normal. Namun ada juga perubahan yang mengkhawatirkan. Pastikan Anda selalu menjalin komunikasi yang erat dengan anak untuk menyadari perubahan negatif. Jika Anda merasa tidak mampu menanganinya sendiri, jangan malu mencari pertolongan dari psikolog atau terapis.

Advertisement

tips parentingparenting stressgaya parenting

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved