logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Penyakit

Apakah Mati Suri Benar-Benar Ada?

open-summary

Mati suri adalah kondisi di mana seseorang hidup kembali dalam waktu beberapa menit hingga jam setelah dinyatakan meninggal dunia. Secara medis, mati suri ini disebut Lazarus syndrome yaitu kembalinya sirkulasi spontan yang tertunda setelah dilakukan CPR.


close-summary

25 Agt 2020

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Mengenal mati suri atau Lazarus syndrome

Mati suri dapat dikategorikan sebagai Lazarus syndrome

Table of Content

  • Fakta medis di balik mati suri
  • Kematian klinis, belum tentu akhir dari segalanya
  • Bagaimana dengan kematian biologis?

Fenomena seseorang yang hidup kembali atau risen from the dead bukan sekali dua kali terjadi. Entah itu dalam waktu beberapa menit hingga jam setelah dinyatakan meninggal dunia, ada orang yang hidup kembali. Secara medis, mati suri ini disebut Lazarus syndrome yaitu kembalinya sirkulasi spontan yang tertunda setelah dilakukan CPR.

Advertisement

Sayangnya, hingga kini teori tentang Lazarus syndrome masih menjadi pertanyaan besar. Ada banyak fenomena semacam ini, namun masih mengundang tanda tanya. Namun setidaknya, ada beberapa teori yang bisa menjelaskan apa yang terjadi ketika seseorang mati suri.

Fakta medis di balik mati suri

Lazarus syndrome adalah kembalinya sirkulasi spontan yang tertunda setelah seseorang mendapatkan resusitasi jantung paru atau CPR. Kata Lazarus diambil dari nama Lazarus orang Betania dalam Alkitab, yang dibangkitkan oleh Yesus setelah 4 hari dinyatakan meninggal dunia.

Hingga kini, angka kasus Lazarus syndrome terbilang jarang. Padahal menurut para ahli, kejadian semacam mati suri ini terjadi lebih sering ketimbang yang dilaporkan.

Beberapa teori yang menerangkan penyebab mati suri, di antaranya:

  • Lazarus syndrome

Para pakar menyebut Lazarus syndrome terjadi ketika ada akumulasi tekanan di dada setelah prosedur CPR dilakukan. Setelah CPR diakhiri, tekanan ini mulai berkurang sehingga jantung bisa kembali bekerja. Hal ini bisa menjadi alasan mengapa seseorang baru “tersadar” setelah ada jeda sebelumnya.

Selain itu, ada juga kemungkinan obat yang diberikan lewat pembuluh darah perifer tidak terdistribusi secara sempurna. Kemudian setelah pembuluh darah kembali ke ukuran semula, obat kembali terdistribusi dan membuat seseorang kembali “hidup”.

  • Kondisi medis

Dalam dunia medis, ada dua jenis kematian yaitu klinis dan biologis. Kematian klinis berarti tidak adanya detak jantung dan napas pada seseorang. Di sisi lain, kematian biologis berarti tidak adanya aktivitas di otak.

Meski terlihat sederhana, sebenarnya cukup rumit menyatakan seseorang telah meninggal dunia secara klinis. Ada beberapa kondisi medis yang membuat seseorang tampak seakan-akan telah meninggal dunia meski kenyataannya belum.

  • Hipotermia

Hipotermia terjadi ketika tubuh mengalami penurunan temperatur ekstrem karena terpapar dingin dalam waktu lama. Hipotermia membuat detak jantung dan napas seseorang menjadi sangat lambat, hingga pada titik tertentu tidak lagi terdeteksi. Itulah mengapa dokter bisa menganggapnya telah meninggal dunia.

Salah satu penjelasannya adalah ketika seseorang mengalami hipotermia, sirkulasi darah telah berhenti. Namun, saraf sebenarnya masih bekerja hanya saja terlindungi berkat paparan dingin ekstrem.

Kematian klinis, belum tentu akhir dari segalanya

Menarik mengulik lebih jauh tentang perbedaan kematian klinis dan biologis. Definisi kematian klinis adalah ketika pernapasan dan aliran darah berhenti. Secara teknis, seseorang dinyatakan mati secara klinis jika jantung dan napas tidak lagi bekerja. Namun itu hanyalah semantik, mengingat kesadaran dan napas akan ikut terhenti beberapa detik setelah jantung kembali bekerja.

Berkaitan dengan mati suri, kematian klinis adalah hal yang bisa “dikembalikan”. Menurut para pakar, ada jeda waktu sekitar 4 menit sejak terjadinya serangan jantung hingga seseorang mengalami kerusakan otak.

Namun ketika aliran darah bisa kembali normal entah itu lewat CPR atau prosedur lainnya, pasien bisa kembali hidup dari “mati suri”. Jika dilakukan dengan cepat, penggunaan AED atau prosedur CPR bisa meningkatkan risiko penyelamatan secara signifikan.

Bagaimana dengan kematian biologis?

Di sisi lain, kematian biologis terjadi ketika otak sudah tak lagi berfungsi. Itu adalah kematian yang tidak bisa dikembalikan. Meski demikian, secara medis tubuh tetap bisa berfungsi meskipun otaknya sudah mati.

Ini bisa terjadi karena jantung bekerja dengan jam kerja dan mekanisme mandiri, terlepas dari pengawasan otak manusia. Mengingat jantung bisa bekerja tanpa pengaruh otak, jadi memungkinkan untuk tetap bekerja meski otak telah berhenti berfungsi.

Baca Juga

  • Mengenal Hipervitaminosis, Kondisi Tubuh yang Kelebihan Vitamin A
  • Ukur Detak Jantung Normal untuk Deteksi Gagal Jantung
  • Sedentary Lifestyle, Gaya Hidup Malas-malasan yang Berbahaya bagi Kesehatan

Jadi, kematian klinis yang memungkinkan untuk dikembalikan inilah yang menjelaskan fenomena terjadinya mati suri. Tentu, ada banyak faktor yang menjelaskan bagaimana hal ini terjadi terutama terkait dengan kondisi medis setiap orang.

Advertisement

penyakithipotermiaserangan jantung

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved