Legalisasi ganja untuk pengobatan masih jadi polemik di Indonesia
Legalisasi ganja untuk keperluan pengobatan masih menjadi bahan perdebatan di Indonesia

Masyarakat Indonesia sempat dihebohkan dengan usulan untuk melegalisasi ganja dari salah seorang politikus yang merupakan bagian dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Rafli Kande. Pasalnya, legalisasi ganja masih menuai pro dan kontra dalam masyarakat.

Sampai saat ini, usulan dari Rafli belum diterima oleh pihak pemerintah dengan alasan masih dibutuhkannya penelusuran mengenai manfaat ganja bagi kesehatan secara mendalam.

Legalisasi ganja diusung dengan dasar dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif. Akan tetapi, manfaat dari ganja sendiri masih kontroversial dan membutuhkan berbagai penelitian lebih lanjut. Lantas, apakah legalisasi ganja perlu dilakukan?

Legalisasi ganja untuk pengobatan alternatif

Legalisasi ganja sebagai pengobatan memang sudah dilakukan di beberapa negara lain dengan aturan yang ketat. Sebenarnya apa saja manfaat ganja bagi kesehatan yang membuatnya patut untuk dilegalisasi di Indonesia?

  • Mengontrol epilepsi

Pada tahun 2018, Badan Administrasi Makanan dan Obat di Amerika (FDA) menyetujui penggunaan cannabidiol (CBD) yang merupakan salah satu produk yang mengandung senyawa dalam ganja tanpa memicu efek halusinogen.

CBD diizinkan digunakan untuk mengatasi dua jenis epilepsi yang parah, yaitu sindrom Dravet dan sindrom Lennox-Gastaut. CBD ditemukan mampu mengurangi frekuensi kejang akibat epilepsi.

Namun, di balik manfaat ganja dalam mengatasi epilepsi, terdapat efek samping, seperti kelelahan, demam, muntah, kerusakan hati, munculnya pemikiran bunuh diri, dan mengantuk (sedation).

  • Mengatasi depresi dan PTSD

Riset sebelumnya mendapati bahwa ganja mungkin bisa digunakan untuk mengatasi gejala post-traumatic stress disorder (PTSD) dan depresi, serta dapat mempengaruhi fungsi kognitif, terutama pada bagian memori.

Penelitian lain mengenai efek penggunaan CBD menemukan bahwa produk tersebut dapat mengatasi kecemasan akibat kondisi medis, seperti kanker, dan sebagainya.

  • Meringankan rasa nyeri

Salah satu manfaat ganja yang ditemukan adalah mampu meringankan rasa nyeri yang kronis. Ganja ataupun produk yang mengandung senyawa cannabinoids dapat mengatasi rasa nyeri.

  • Menanggulangi gejala multiple sclerosis

Multiple sclerosis adalah penyakit yang membuat sistem imun tubuh berbalik menyerang organ otak dan saraf tulang belakang. Pemakaian cannabinoids secara oral dalam jangka waktu yang pendek diyakini dapat meringankan gejala multiple sclerosis.

Namun, efek ganja dalam menanggulangi gejala multiple sclerosis tidak terlalu terlihat atau kecil.

  • Berpotensi mengobati kanker

Ganja tidak hanya berpotensi mengatasi gangguan psikis tertentu tetapi juga berpeluang dalam mengobati kanker karena berpotensi memperlambat dan membunuh sel-sel kanker tertentu.

Ganja juga ditemukan dapat mengatasi mual dan muntah akibat kemoterapi. Akan tetapi, berbagai studi masih diperlukan untuk mempelajari potensi ganja dalam menanggulangi kanker.

Risiko yang muncul di balik legalisasi ganja

Beberapa manfaat ganja di atas telah didukung oleh beberapa penelitian. Namun, tidak berarti legalisasi ganja adalah tindakan yang 100 persen benar, karena ada berbagai risiko yang bisa dialami ketika menggunakan narkotika jenis ini.

  • Belum terbukti efektif untuk mengatasi gangguan mental

Meskipun berpotensi mengobati gejala depresi dan PTSD, tetapi masih dibutuhkan studi lainnya untuk menyokong salah satu alasan legalisasi ganja ini.

Suatu penelitian menemukan bahwa penggunaan CBD tidak meringankan gejala apapun pada penderita depresi. Oleh karenanya, manfaat ganja dalam mengatasi depresi masih perlu ditelaah lebih lanjut

Ganja bukanlah pengobatan yang sesuai untuk mengatasi gangguan mental, seperti skizofrenia, psikosis dan gangguan bipolar. Bahkan, penggunaan CBD malah bisa memperparah gejala pada penderita psikosis.

Bahkan, penggunaan ganja secara rutin dapat meningkatkan risiko mengalami kecemasan sosial dan pemakaian ganja yang berlebih dapat memperbesar peluang untuk memiliki pemikiran bunuh diri.

  • Berdampak pada kesuburan

Dampak ganja terhadap kesuburan baru diteliti pada hewan, tetapi jenis narkotika ini dapat mengganggu proses ovulasi pada hewan betina dan produksi sperma pada hewan jantan. Perlu adanya penelitian lebih lanjut dan matang mengenai hal ini.

  • Meningkatkan kemungkinan kecelakaan di jalan raya

Mengendarai mobil di bawah pengaruh ganja tentunya berisiko mengakibatkan kecelakaan mobil atau motor, terutama jika Anda memakainya secara berlebih.

  • Berpeluang menimbulkan masalah pernapasan

Efek ganja ini masih membutuhkan studi yang lebih banyak, tetapi menghisap ganja berhubungan dengan peningkatan risiko menderita batuk kronis. Pemakaian ganja juga diyakini dapat menambah peluang terkena kanker paru-paru.

  • Berbahaya bagi janin

Saat sedang hamil, penggunaan ganja secara rutin dapat berakibat pada perkembangan otak baik dan meningkatkan risiko calon ibu melahirkan bayi yang kecil atau prematur.

  • Berisiko memicu kanker testis

Sebenarnya, tidak ada studi yang dapat menemukan bahwa ganja dapat mengakibatkan kanker, tetapi menggunakan ganja didapati dapat meningkatkan peluang Anda mengidap kanker testis.

 

Catatan dari SehatQ

Tiap orang memiliki pandangannya masing, mau itu pro ataupun kontra. Legalisasi ganja tentunya memerlukan diskusi yang serius untuk meninjau manfaat dan risiko penggunaannya.

Pastinya, legalisasi ganja juga perlu mempertimbangkan pembuatan regulasi yang ketat agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab

CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200205165735-20-471945/maruf-tegaskan-pemerintah-tak-mungkin-legalkan-ekspor-ganja
Diakses pada 10 Februari 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/multiple-sclerosis/symptoms-causes/syc-20350269
Diakses pada 10 Februari 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320984.php#1
Diakses pada 10 Februari 2020

NHS. https://www.nhs.uk/live-well/healthy-body/cannabis-the-facts/
Diakses pada 10 Februari 2020

MIMS Pharmacy. https://specialty.mims.com/topic/insufficient-evidence-to-support-pharmaceutical-cannabinoids-for-mental-disorders?channel=pharmacy&elq_mid=49767&elq_cid=38459
Diakses pada 10 Februari 2020

Science Direct. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0272735816300939?via%3Dihub
Diakses pada 10 Februari 2020

The National Academies of Sciences Engineering Medicine. https://www.nap.edu/resource/24625/Cannabis_chapter_highlights.pdf
Diakses pada 10 Februari 2020

Artikel Terkait