Apakah Hand Sanitizer Buatan Sendiri Aman untuk Kulit?

Prosedur pembuatan hand sanitizer sendiri di rumah, dianggap sangat rumit.
Para ahli tidak merekomendasikan penggunaan hand sanitizer buatan sendiri, kecuali kalau terdesak.

Kemunculan penyakit virus corona atau Covid-19 di berbagai penjuru dunia, membuat kebutuhan hand sanitizer meningkat. Alhasil, banyak toko-toko yang sudah kehabisan hand sanitizer karena diborong oleh banyak orang.

Keadaan ini memaksa sebagian masyarakat untuk memproduksi hand sanitizer sendiri, walaupun mereka masih “asing” terhadap cara pembuatannya. Lantas, hal ini menimbulkan pertanyaan, “Apakah hand sanitizer buatan sendiri aman digunakan?”.

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat hand sanitizer sendiri

Hand sanitizer
Alkohol, bahan penting pembuatan hand sanitizer

Sebelum lebih jauh membahas mengenai keamanan menggunakan hand sanitizer buatan sendiri, Anda tentunya perlu tahu apa saja bahan-bahan yang digunakan untuk membuat hand sanitizer.

Melalui selebaran resmi, badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) memberikan panduan untuk menciptakan hand sanitizer, beserta bahan-bahan yang diperlukan.

Di antara bahan-bahan itu, terdapat etanol, isopropil alkohol, hidrogen peroksida, gliserin, hingga air steril. WHO juga memberikan takaran yang tepat untuk setiap bahan-bahan tersebut.

WHO pun merekomendasikan dua resep pembuatan hand sanitizer, baik dengan bahan etanol ataupun isopropil alkohol.

Sebelum Anda mencoba membuat hand sanitizer sendiri, mari pahami dulu keamanan menggunakan bahan-bahan tersebut.

1. Etanol

Etanol sebenarnya adalah jenis alkohol dengan formula kimia C2 H6 O. Etanol adalah bahan kimia umum yang sering dipakai untuk produk kosmetik dan kecantikan. Bahkan, banyak produk hand sanitizer yang menggunakan etanol karena dianggap bisa membunuh mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan jamur.

Etanol sangat mudah terbakar, itulah sebabnya banyak ahli yang menyarankan untuk tidak menggunakan produk berbahan etanol di dekat api. Menurut The U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), jika etanol terhirup oleh hidung, efek samping seperti batuk atau sakit kepala akan muncul.

Namun, sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh WHO, jenis etanol yang digunakan untuk hand sanitizer harus yang berjenis etanol 96%.

2. Isopropil alkohol

Sama seperti etanol, isopropil alkohol juga sering ditemukan dalam produk kosmetik dan kecantikan. Keberadaannya bisa menghambat infeksi bakteri di kulit. Tidak hanya itu, mengoleskan isopropil alkohol ke kulit disebut juga bisa meredakan nyeri otot.

Meski begitu, isopropil alkohol memiliki beberapa efek samping yang mungkin bisa timbul pada sebagian orang. Efek samping itu meliputi munculnya ruam, sulit bernapas, pembengkakan bibir, lidah, hingga tenggorokan.

Selain itu, efek samping dari penggunaan isopropil alkohol juga bisa menyebabkan sensasi terbakar pada kulit.

Dari resep yang diberikan WHO, isopropil alkohol yang digunakan haruslah yang berjenis isopropil alkohol 99,8%.

3. Gliserin

Selain air dan pewangi, gliserin adalah bahan umum yang sering ditemukan dalam produk kosmetik. Tidak hanya itu, gliserin juga jadi bahan utama dalam pembuatan bahan pelembap dan losion.

Menurut beberapa studi, gliserin memiliki manfaat untuk kulit, seperti menghidrasi bagian luar kulit, mencegah iritasi, hingga mempercepat proses penyembuhan luka.

Jika bahan gliserin murni digunakan langsung ke kulit, maka iritasi bisa muncul. Itulah sebabnya para ahli menyarankan untuk mencampurkan gliserin dengan air, sebelum mengoleskannya ke kulit.

Walaupun belum ada banyak laporan mengenai efek sampingnya, gliserin tetaplah produk alami yang berpotensi menimbulkan efek samping.

Jika Anda mengalami gatal-gatal atau kulit merah, segera hentikan penggunaan produk berbahan gliserin dan kunjungi dokter.

Menurut WHO, untuk membuat hand sanitizer yang efektif, jenis gliserin 98%.

4. Hidrogen peroksida

Biasanya, hidrogen peroksida juga digunakan untuk menangani masalah kulit. Namun, hal ini hanya dilakukan oleh dokter. Selain itu, hidrogen peroksida juga dianggap tidak aman untuk digunakan pada kulit.

Tapi, hidrogen peroksida bisa ditemukan di apotek dengan dosis yang kecil. Biasanya, hidrogen peroksida juga digunakan untuk mengobati luka bakar atau sayatan, hingga infeksi di kulit.

Masalahnya, para ahli medis tidak lagi menggunakan hidrogen peroksida sebagai disinfektan. Sebab, hidrogen peroksida dipercaya bisa merusak sel sehat yang ada di sekitar luka. Namun, riset ini dibuktikan pada hewan uji, bukan pada manusia.

Malahan, ada berbagai macam efek samping yang bisa muncul tidak hanya pada kulit, tapi organ dalam, seperti:

  • Eksim
  • Luka bakar
  • Ruam
  • Kemerahan pada kulit
  • Gatal
  • Iritasi
  • Keracunan jika diminum
  • Risiko kanker yang meningkat
  • Kerusakan pada mata
  • Kerusakan organ dalam

Efek samping di atas dapat terjadi jika digunakan dalam takaran tinggi selama jangka waktu yang lama.

Beberapa bahan pembuatan hand sanitizer di atas memang berdasarkan panduan yang diberikan oleh WHO.

Tentu saja takarannya pun harus ditaati. Jadi, jika ada kekeliruan dalam takaran atau cara pembuatannya, bisa saja hand sanitizer buatan sendiri tidak efektif dalam membunuh virus corona.

Virus coron

Apakah kamu termasuk orang yang rentan terinfeksi virus corona? Ketahui jawabannya di sini.

Apa saja komplikasi virus corona? Pahami penjelasannya ini.

Ingin beli kebutuhan rumah di supermarket? Ketahui cara amannya supaya tidak tertular virus corona!

Apakah hand sanitizer buatan sendiri aman digunakan?

Hand sanitizer
Membuat hand sanitizer sendiri sangatlah rumit

Perlu diingat, seluruh bahan-bahan pembuatan hand sanitizer di atas, dimaksudkan untuk digunakan oleh para profesional. Namun dalam keadaan mendesak (seperti kehabisan produk hand sanitizer di toko), hand sanitizer buatan sendiri boleh saja digunakan.

Meski begitu, beberapa risiko yang bisa muncul, jika takaran bahan dan cara pembuatannya salah, seperti:

  • Kurang ampuh dalam membunuh bakteri, jamur, atau virus yang ada di tangan
  • Iritasi kulit
  • Munculnya luka bakar
  • Paparan bahan kimia berbahaya yang terhirup lewat hidung

Hand sanitizer buatan sendiri juga tidak direkomendasikan untuk anak-anak. Sebab, mereka lebih rentan terhadap penggunaan hand sanitizer yang tidak tepat. Hasilnya, risiko yang muncul bisa lebih mengerikan.

Selain itu, para ahli juga menegaskan, pembuatan hand sanitizer di rumah merupakan prosedur rumit yang berisiko berdampak pada hasil akhirnya.

Itulah sebabnya, para peneliti sangat menyarankan untuk mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, ketimbang hand sanitizer buatan.

Namun, jika memang keadaannya mendesak, menggunakan hand sanitizer buatan sendiri dianggap boleh-boleh saja, asalkan sudah mengikuti prosedur yang diberikan oleh WHO.

Catatan dari SehatQ:

Sebagai produk akhir, hand sanitizer harus mengandung alkohol minimal 60%. Selain itu, tentu saja takaran dalam pembuatannya pun harus ditaati. Hand sanitizer hanya efektif membunuh kuman dan virus jika mengandung alkohol minimal 60% sebagai produk akhir. Jadi, apabila ada kekeliruan dalam takaran atau cara pembuatannya, bisa saja hand sanitizer buatan sendiri tidak efektif dalam membunuh virus corona.

WHO. https://www.who.int/gpsc/5may/Guide_to_Local_Production.pdf
Diakses pada 3 April 2020

Chemicals Safety Facts. https://www.chemicalsafetyfacts.org/ethanol/
Diakses pada 3 April 2020

Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/drugs/isopropyl-alcohol-topical
Diakses pada 3 April 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/glycerin-for-face
Diakses pada 3 April 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/hydrogen-peroxide-skin#1
Diakses pada 3 April 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/how-to-make-hand-sanitizer#safety
Diakses pada 3 April 2020

Artikel Terkait